Tuesday, September 21, 2010

Dongeng Kehidupan

Sejak kecil kita sudah diperkenalkan pada cerita-cerita dongeng, entah itu dongeng sebelum tidur atau dongeng yang dikemas dalam bentuk animasi. Sungguh menyenangkan setiap kali menyelami sebuah dongeng! Secara pribadi, saya menyukai dongeng lebih daripada cerita apa pun. Pasalnya, cerita selalu ditutup dengan kebahagiaan dari tokoh utama. Ditambah lagi dengan keajaiban, gemerlap, dan kebetulan manis yang selalu menyertai seluruh jalan cerita.

Mungkin Anda berharap bisa mengubah kehidupan ini seperti dongeng, di mana selalu happy ending yang terjadi. Bukan itu saja, dalam dongeng para tokoh protagonis begitu gampang menghadapi berbagai cobaan berkat adanya mukjizat yang selalu datang pada saat yang tepat.

Mungkin pula Anda adalah orang yang sama sekali tidak mempercayai dongeng, layaknya salah satu lirik lagu Michael Kuang Liang yang menyatakan bahwa cerita dongeng hanya kebohongan belaka.

Melalui tulisan ini, saya ingin mengajak Anda untuk mengupas sekilas makna yang terkandung dalam dongeng. Bahwa sesungguhnya kehidupan nyata yang kita jalani juga tidak terlepas dari alur bak dongeng. Bedanya, di kehidupan ini kita tidak ditemani oleh ibu peri atau tujuh kurcaci.

Cinderella

Cinderella adalah dongeng sepanjang masa yang telah dibuat dalam berbagai versi. Jika Anda pernah bermimpi untuk menjadi Cinderella, maka mimpi itu bukanlah imajinasi belaka. Sesungguhnya Anda adalah Cinderella, setidaknya untuk diri Anda sendiri. Tidak percaya? Mari kita bahas!

Kisah Cinderella diwali dengan penyiksaan oleh ibu dan kedua saudara tiri. Dalam hidup, kerap kita juga merasakan hal seperti itu, tertekan atau merasa lelah atas tugas serta perintah yang diberikan oleh orang tua, guru, dosen, maupun atasan (mereka bak ibu tiri, bukan?). Namun, apa mau dikata, semua itu harus dilakukan dengan ikhlas, setidaknya demi menghindari hukuman.

Berikutnya tentang kereta kencana beserta kusir dan kuda yang di’tring’ oleh ibu peri. Awalnya benda-benda tersebut berasal dari labu, tikus, serta pernak-pernik lain yang sama sekali tidak mungkin dijadikan alat transportasi tanpa sentuhan tongkat sihir. Di kehidupan nyata, Anda bisa merealisasikan keajaiban yang tadinya dianggap tidak mungkin menjadi mungkin, bahkan tanpa bantuan ibu peri. Pikirkan, ibu peri membuat kereta kencana mewah dan megah dari bahan-bahan yang sesungguhnya tidak berharga. Anda juga bisa seperti itu, sihir yang dibutuhkan hanya usaha, kemauan, serta kreativitas. Contohnya, beberapa seniman meraup banyak rezeki dari eceng gondok dan pelepah pisang. Dua bahan yang dianggap sampah ini dijadikan lukisan dan barang seni bernilai jual tinggi. Kasus lain, seorang anak SMP mengantongi jutaan rupiah berkat semut. Anak ini melakukan penelitian tentang kehidupan semut sehingga membawanya sebagai juara pertama pada lomba penulisan karya ilmiah remaja beberapa tahun silam.

Sekarang, bagian yang paling saya suka, saat lonceng berdentang 12 kali. Adegan ini seolah ingin menunjukkan pada kita bahwa kesenangan serta kebahagiaan tidak ada yang bersifat kekal. Semua datang silih berganti bersama derita. Namun, derita itulah yang nanti akan mengantar kita kepada kebahagiaan baru yang nilainya lebih besar. Bukankah kita akan semakin menikmati dan mensyukuri bahagia sebagai menu utama jika terlebih dahulu diberi makanan pembuka berupa derita?

Sepatu kaca adalah maskot dongeng Cinderella. Sepatu kaca dianalogikan sebagai sesuatu pada diri Anda yang membuat kekasih Anda merasa sangat yakin bahwa Anda adalah pilihan yang tepat. Anda memiliki satu dan dia memiliki yang satu lagi. Jika sepatu (baca: kepribadian dan prinsip) yang dimiliki pasangan Anda pas pada kaki (baca: diri) Anda dan merupakan pasangan yang sesuai, maka Anda bisa menebak kelanjutannya, bukan?

Beauty and The Beast

Dongeng ternama ini juga telah dirilis dalam beberapa versi. Diawali dengan seorang pangeran berwajah tampan dan berwatak sombong yang diubah menjadi buruk rupa oleh seorang bidadari. Cuplikan ini memberi ultimatum kepada kita bahwa wujud yang pantas bagi orang berhati buruk adalah wujud yang buruk. Bahkan, andaikata si jahat itu berwajah cantik, ia akan tetap dipandang jelek di mata Tuhan dan insan yang mengerti tentang nurani. Memang tampak mendramatisir, tetapi itulah adanya!

Lalu tentang bunga mawar yang direncanakan akan layu dalam kurun waktu tertentu. Jika mawar itu layu maka Beast tidak akan pernah bisa kembali menjadi manusia. Di kehidupan nyata juga demikian. Kita senantiasa bekerja dalam batas waktu yang ditentukan alias deadline. Jika kita terlambat menyelesaikannya maka akan memberi dampak yang tidak mengenakkan. Tidak perlu jauh-jauh, sama halnya dengan Kak Pengasuh yang senantiasa memperingatkan agar penulis menyertakan nota kecil untuk setiap karya yang mudah basi. Tujuannya tentu untuk menghindari pemeriksaan karya setelah ’mawar’ melayu.

Penjelasan logis apa yang tepat mengenai Beast yang bisa berubah menjadi tampan setelah mendapat cinta sejati dari Belle atau Beauty? Lagi-lagi idiom lama tentang cinta itu buta yang menjadi jawaban. Jika seseorang telah terasuki oleh cinta, maka ia akan memandang pasangannya sebagai sosok yang luar biasa. Kekurangan pada fisik maupun jiwa dilihat sebagai kelebihan yang menyempurnakan segalanya. Bukankah hal tersebut memang benar?

Snow White

Kisah Snow White dimulai dengan kebencian yang teramat dalam dari ibu tirinya saat menerima kenyataan bahwa Snow White adalah wanita tercantik di dunia. Hal ini seolah menjadi ironi bagi kita bahwa kita sering membenci seseorang hanya karena kita ingin menjadi seperti dia.

Benda yang identik dengan kisah ini yaitu cermin ajaib. Di kehidupan nyata, cermin ajaib menggambarkan hati nurani, yaitu suara paling setia yang tidak pernah berkata bohong. Cermin ajaib mengatakan bahwa Snow White lebih cantik sehingga timbullah kedengkian di hati ibu tiri. Wanita ini menghalalkan segala cara untuk bisa menyingkirkan Snow White, yang mana pada akhir cerita justru ia sendiri yang dirugikan akibat ulahnya. Andai cermin ajaib mengatakan bahwa ibu tiri adalah wanita tercantik, tentu tidak akan berakhir demikian. Artinya, untuk bisa hidup tenang, kita harus mengajari hati nurani untuk cepat bersyukur atas apa yang sudah dikaruniai. Jangan menyemai bibit kebencian, iri, dengki dalam diri hanya karena rumput tetangga lebih hijau dan subur! Lagipula, dengan mensyukuri maka kita akan lebih bisa menjaga dan menghargai.

Akhir cerita Snow White hampir mirip dengan dongeng Sleeping Beauty, yaitu sang putri yang telah mati hidup kembali berkat kecupan penuh cinta dari pangeran. Hal ini sangat mungkin terjadi di kehidupan nyata meski sebagian dari Anda menggumamkan kata ’mustahil’. Alasannya, jika kita mencintai seseorang dan orang tersebut meninggal, maka kita bisa menghidupkannya kembali berkat cinta kita padanya. Kita bisa menghidupkannya di hati dan diri kita.

Rasanya sudah cukup jauh kita mengembara ke negeri dongeng dan menganalogikan kehidupan dalam dongeng dengan kehidupan kita di dunia. Ternyata kehidupan kita juga bisa dipenuhi dengan keajaiban, tidak beda seperti sebuah dongeng, tergantung bagaimana kita menyikapinya.

Posted by Art Dimension
Art Dimension Updated at: 10:35 PM
Komentar Facebook
0 Komentar Blogger

No comments:

Post a Comment

Silakan centang "Notify me" agar Anda memeroleh pemberitahuan.

Entri Populer