Showing posts with label Lain. Show all posts
Showing posts with label Lain. Show all posts

Saturday, March 23, 2019

Cross Ange: Putri yang Kehilangan Mahkota



Berbicara tentang anime, pasti yang pertama timbul di benak kita ya itu-itu saja, seperti Naruto, One Piece, Dragon Ball, atau Inu-Yasha. Di luar itu, ratusan hingga ribuan judul anime mungkin jarang dikenal. Tidak heran kalau mempertimbangkan dari segi episode. Kecuali Inu-Yasha, ketiga judul lain yang tersebut di atas rata-rata ditayangkan sepanjang masa. Episodenya sangat banyak, sanggup menemani seseorang dari bayi hingga dewasa. Ya, mau tidak mau, saat kamu tidak mengenal ketiganya, pasti ada teman atau saudaramu yang membahasnya!
Tetapi, bukan berarti anime dengan sedikit episode itu kalah menarik. Seperti halnya anime dengan judul Cross Ange (dibaca: En Ji), 25 episode, yang baru-baru ini saya nonton, dan hingga artikel ini ditulis saya juga baru menontonnya hingga episode ke-8. Meskipun demikian, kesan dari alur yang ditawarkan cukup kuat dan menurut saya cukup berkualitas. Bagi kalian yang sudah pernah tahu anime ini, atau tahu-tahu sedikit dari bocoran gambar atau video di Google, mungkin banyak dari kalian yang mulai berpikir melenceng ke arah ‘sana’. Ya, tentang tontonan yang sudah pasti enggak bakal tayang di Indonesia, tentang visual-visual yang memang sangat dianti bagi sebagian orang. Tetapi, saya di sini, menulis artikel ini, dengan pandangan sebagai seorang pelaku kreatif dalam menciptakan sebuah ide cerita, penokohan, dan juga alur. Artikel ini murni mengupas dari segi cerita. Oke?!

Terbayang tidak, bagaimana ketika kita sangat membenci sebuah makhluk, menghina dan menganggap makhluk itu kotor, misalkan saja kecoa yang sering bersembunyi di WC, hitam, jelek, bau, dan tiba-tiba suatu hari kita menjadi makhluk itu, dan harus hidup dengan cara makhluk itu?! Inilah yang terjadi kepada Angelise, seorang putri cantik dari sebuah kerajaan yang gaya berbusananya kerap menjadi sebuah tren, dan diidolakan oleh seluruh masyarakat. Tunggu! Angelise bukan menjadi kecoa ya...?! Kecoa hanya sebuah  perumpamaan.
To the point, di dunia Angelise, di mana ayahnya memimpin, terdapat dua golongan manusia, yaitu manusia Mana yang menguasai sihir, dan manusia Norma yang tidak menguasai sihir, dianggap sampah, berbahaya, anti sosial, dan umumnya ketika seseorang diketahui sebagai seorang Norma maka akan langsung dikarantina, untuk kemudian dibunuh atau dijadikan prajurit di sebuah pulau terpencil. Para manusia Mana tidak segan ‘membuang’ seorang Norma, termasuk sang putri yang sama sekali tidak berbelas kasih terhadap seorang bayi yang diketahui terlahir sebagai Norma, di suatu perjalanan pulang menuju istana.
“Lahirlah lagi seorang anak lain,  anak sungguhan, bukan Norma,” inilah kalimat yang sempat diucapkan Angelise di tengah pecahnya tangis sesosok bayi dan sang ibu bayi. Ya, ‘anak sungguhan’, mengandung arti bahwa Norma bukanlah anak, bukanlah manusia.

Tragisnya, di balik semua ketegasan Angelise dalam menyingkirkan Norma, baru terkuak bahwa ternyata Angelise sendiri juga terlahir sebagai Norma, pas ketika usianya mencapai 16 tahun, di mana ia harus hadir di publik, dibabtis sebagai putri mahkota, dan membuktikan kepada rakyatnya kalau dirinya murni merupakan seorang manusia Mana. Berbagai teknologi untuk memalsukan hasil pembuktian yang juga menggunakan teknologi canggih sebenarnya telah dipersiapkan oleh kedua orangtua Angelise yang menyembunyikan kenyataan itu. Sayangnya, momen tersebut ternyata telah ditunggu-tunggu oleh abang Angelise untuk melancarkan kudeta, yang kemudian menggagalkan pemalsuan hasil pembuktian.
Kerusuhan pun terjadi di mana orang-orang sibuk meringkus sang putri. Insiden itu pun merenggut nyawa sang ratu (mama Angelise), serta mengakhiri kerajaan mereka di bawah aksi kudeta sang abang. Tidak mendapatkan perlakuan khusus, Angelise juga dikirim ke pulau terpencil di mana para Norma dipaksa menjadi prajurit yang berperang melawan naga-naga raksasa. Segala kenaan/perhiasaan atribut bangsawan pun ditanggalkan, termasuk nama Angelise yang diganti menjadi Ange.

Ange atau Angelise yang selama ini hidup dalam kemewahan sangat sulit menerima kenyataan itu, dan tetap merasa dirinya adalah seorang Mana terhormat yang tidak sepantasnya hidup berbaur dengan para Norma yang terhina. Sayangnya, Angelise tidak dapat membuktikan hal itu, dan ia juga tidak memiliki kemampuan sihir layaknya manusia Mana lainnya. Selama ini ia mengira kalau itu hanya masalah waktu hingga kemampuan itu ada pada dirinya. Nyatanya, sedari kecil kedua orangtuanya telah menyiapkan seorang pelayan yang selalu mewakilinya menggunakan sihir dalam berbagai kepentingan melindungi diri, sehingga tidak pernah ada yang menyadari sang putri tidak pernah sekali pun menunjukkan sihirnya. Semua hanya berpikir sang putri tidak perlu melakukan hal itu sendiri selama didampingi pelayannya.
Kehidupan Ange berubah total. Ia tidak dapat akur dengan siapa pun, dan mendapat banyak musuh yang benci dengan sikapnya yang dianggap sok lembut. Kalaupun ada pula beberapa Norma yang demikian terkesan dengan seorang putri yang cantik dan mencoba akrab, Ange tetap tertutup untuk menerima Norma. Ia tetap merasa ia adalah Mana, dan kenyataannya ia memang dibesarkan dengan cara membesarkan seorang Mana. Kenakanlah pakaian bekas prajurit mati yang masih menempel bekas darah, atau jadilah seorang yang telanjang. Makanlah makanan seadanya, atau mati kelaparan. Di sana, Ange juga dipaksa untuk belajar mengendalikan sebuah robot mesin raksasa (semacam Gundam) yang akan digunakan dalam pertempuran melawan naga raksasa. Mengapa para Norma harus melakukan semua itu, perlahan Ange baru menyadari kalau di balik perdamaian yang tercipta dalam kehidupan para Mana, sesungguhnya itu berkat perjuangan para Norma yang menjaga area perbatasan antara manusia dan naga. Ada yang berjuang hingga kehilangan sebelah tangan, mata, atau bahkan mati tanpa jasad.



Ange adalah seorang mantan putri yang jelas mendapatkan pendidikan lebih baik dari yang lainnya. Ia terampil dan mudah menguasai cara mengoperasikan robot mesin raksasanya. Hanya saja, pada pertempuran perdananya mengendalikan benda itu di alam bebas, hal pertama yang dilakukan Ange justru mencoba kabur dan kembali ke kerajaannya. Akibat keegoisan itu, Ange merusak formasi dan strategi pertempuran, lantas menewaskan tiga anggota seperjuangannya termasuk sang kapten, dan ia sendiri juga mendapatkan luka parah di sekujur tubuh. Tidak hanya luka, Ange juga menjadi semakin dibenci, dan juga diharuskan bertanggung jawab membuatkan tiga buah kuburan untuk orang-orang yang telah dicelakainya.

Saat membuat kuburan itu, Ange lantas menyadari bahwa setiap Norma yang telah meninggal berhak menggunakan kembali nama kelahirannya di permukaan batu nisan. Bagaimana jika itu terjadi pada dirinya? Bukankah ia akan kembali bernama Angelise?!
Tidak memiliki jalan untuk kembali ke kehidupan yang sebelumnya, kehilangan kedua orang tua, Ange tiba-tiba berpikiran pendek untuk lekas mengakhiri hidupnya di pertempuran berikutnya. Seakan tidak peduli dengan keinginan gilanya, dan juga kejadian sebelumnya Ange memang sudah mengakibatkan kerusakan empat buah robot mesin raksasa, komandan dan para petinggi memutuskan untuk memberikan sebuah robot mesin raksasa rongsokan kepada Ange untuk pertempuran berikutnya. Detik-detik terakhir dari aksi bunuh diri Ange yang menerobos area naga raksasa begitu saja, rasa takut akan kematian menyergap, disertai terngiangnya pesan terakhir ratu yang meminta Angelise untuk tetap hidup. Siapa sangka, Ange ternyata sangat terampil mengendalikan robot itu melebihi siapa pun. Aksi menerobos area naga raksasa itu lantas diubah menjadi peluang besar untuk melancarkan serangan akhir!

Sedari awal antara Ange dan robot mesing rongsokan itu memang seakan memiliki ikatan khusus. Ange mungkin juga memiliki kemampuan tersembunyi lainnya, meskipun ia tidak dapat membuktikan dirinya sebagai seorang Mana. Bisa juga seperti apa yang diyakininya, hanya masalah waktu hingga ia menguasai sihir sebagai seorang Mana. Kalian harus menontonnya sendiri untuk menemukan jawaban
Cross Ange menjadi cerita yang penuh perjuangan bagi Ange, di antara aksi perundungan dari musuhnya, bagaimana ketika ia harus membuka diri menerima sahabat baru yang merupakan manusia Norma, hingga bagaimana ketika ia harus menyerahkan cintanya kepada seorang pria yang menyelamatkan hidupnya.

Overall, anime yang divisualkan  Sunrise ini sangat layak untuk ditonton. Bagi pencinta anime pasti tahu, studio Sunrise merupakan studio yang selalu menghadirkan anime-anime dengan grafis berkualitas atau di atas rata-rata. Cross Ange bahkan semestinya lebih menarik, seandainya tanpa dibumbui adegan-adegan yang otomatis menjadikan film ini tidak leluasa ditonton bareng keluarga di ruang tengah. Semoga saja ke depannya Cross Ange dapat digarap sebagai live action yang dapat ditonton bareng keluarga, tanpa pengkategorian umur.

Posted by Art Dimension
Art Dimension Updated at: 12:06 PM

Friday, March 27, 2015

Banner Blogger Anti-Pornografi

Jadilah blogger kreatif yang berbagi konten sehat serta bermanfaat. Tunjukkan ke visitor bahwa Anda adalah salah seorang yang anti terhadap konten pornografi, dengan memasang salah satu desain banner "Blogger Anti-Pornografi" di bawah. Download kode sesuai banner yang diinginkan.

Desain 1

Desain 2

Desain 3

Desain 4

Posted by Art Dimension
Art Dimension Updated at: 1:18 PM

Monday, December 22, 2014

Ketika Terkadang Ibu Tidak Adil



Penulis yakin, banyak di antara kita—terlebih yang memiliki banyak saudara—terkadang memiliki problematik atau persepsi yang beranggapan bahwa ibu kita tidak adil. Ya, kendatipun tidak sedikit juga yang senantiasa bersyukur terhadap keberadaan sosok sang ibu, di sini kita tak perlu, atau tak harus menyatakan siapa-siapa yang harus dipersalahkan.
Ketika seorang anak cenderung merasa ibunya pilih kasih, bukan berarti kita harus memvonis kalau anak tersebutlah yang bersalah, tak tahu bersyukur, durhaka, atau sejenisnya. Tidak juga dengan membenarkan kalau sosok si ibu memang tidak baik, menyebalkan, dan patut dikritisi atau diprotes.
Realistis saja. Ketika seorang anak mengalami problematik atau menyimpan persepsi kalau ibunya tidak adil, tentu saja ada alasan tersendirinya, yang bisa jadi hanya si anak bersangkutanlah yang tahu secara pasti. Tetapi, di balik ketidakadilan yang ditunjukkan seorang ibu kepada anak-anaknya, ada kalanya terdapat banyak sebab serta kesalahpahaman. Di sini, tujuan kita tentu bukan terus terperosok semakin dalam pada problematik tersebut. Kita butuh mencari tahu, mencoba memahami apa yang sebenarnya menjadi penyebab sikap seorang ibu yang dianggap tidak adil.
Sebab dan alasan
Tuhan itu adil. Ungkapan demikian pada dasarnya masih kerap menjadi pro-kontra. Tetapi, bila berbicara tentang manusia itu adil, jangan ditanya lagi. Pada dasarnya di dunia ini tak ada manusia yang benar-benar seratus persen adil. Bahkan seorang penegak keadilan, belum tentu sanggup bersikap adil ketika dihadapkan pada posisi sebagai orangtua—ayah atau ibu—untuk anak-anaknya.
Ketidakadilan itu manusiawi, kendatipun sulit diterima. Ketidakadilan seorang ibu juga manusiawi. Coba saja kita renungkan, setiap dari kita terlahir sebagai anak dengan karakteristik, bentuk, serta cerita yang berbeda. Kita tidak seperti sebuah produk yang diproduksi secara massal hanya dengan sebuah cetakan yang sama. Jadi, ketika seorang ibu—yang masih manusia—menilai satu per satu buah hatinya, sang ibu jelas memiliki pendapat tersendiri untuk setiap anaknya.
Ibarat ketika seorang perancang busana mengamati satu per satu busana rancangannya yang memiliki motif dan model berbeda—kendatipun setiap busana itu terlahir dari buah pikirannya—tetap saja si perancang memiliki pendapat tersendiri juga untuk setiap busana itu. Itu pun busana hanya sebuah benda mati. Berbeda dengan anak (manusia), ada yang pintar mengambil hati ibunya, ada yang suka bermanja-manja dengan ibunya, dan ada juga yang justru sebaliknya, selalu meresahkan ibu, atau memancing emosi ibu.
Selain itu, terkadang bisa juga oleh berbagai sebab lain. Sebut saja dari segi usia anak, seorang ibu mungkin berpikir kalau dirinya harus lebih melindungi anaknya yang kecil, atau lebih memprioritaskan anaknya yang berusia sekian-sekian, kemudian tanpa disadari sikap tersebut malah diterjemahkan sebagai ketidakadilan di mata anak yang lain.
Misalkan, dua bersaudara sedang berebutan mainan. Satu berusia sepuluh tahun, dan satunya lagi baru lima tahun. Secara refleks seorang ibu biasanya akan meminta anak berusia sepuluh tahun untuk mengalah kepada adiknya. Lalu contoh kedua, seorang anak berusia delapanbelas tahun diberikan ibu ponsel yang mahal dan canggih, sementara adiknya yang berusia sepuluh tahun hanya mendapatkan ponsel bekas pakai saudaranya itu. Kondisi yang serupa juga bisa saja terjadi pada seorang ibu delapanpuluh tahunan dengan anak-anaknya yang berusia limapuluh atau enampuluh tahunan, meskipun untuk cerita yang berbeda.
Kasih di balik ketidakadilan
Umumnya, di mata seorang ibu, setiap anak selalu dikasihi. Hanya saja, terkadang ibu menunjukkan kasih tersebut pada setiap anaknya dengan cara yang berbeda-beda. Untuk si A kasih yang diberikan adalah dengan cara ini, dan untuk si B kasih yang diberikan adalah dengan cara itu, kemudian lain cara lagi untuk C, D, E. Penulis akan kembali memberi sebuah contoh berdasarkan cerita ibunda sendiri.
Ibunda penulis memiliki sebuah ‘ketidakadilan’ yang unik. Setiap di keluarga kami tersedia makanan favorit penulis (tanpa menyebut apa itu)—baik dari beli atau oleh-oleh dari kerabat tertentu—ibunda penulis kerap kali melebih-lebihkan jatah penulis, bahkan secara terang-terangan. Kadang penulis menolak semua itu, namun tetap saja jatah makanan itu seolah telah tercatat nama penulis di atasnya. Wah!
Sebaliknya, kondisi di mana ibunda penulis memprioritaskan saudara penulis yang lain dengan alasan dan pertimbangan serupa, tentu juga pernah terjadi. Dengan sedikit pemakluman, saling pengertian, dan saling mengasihi, ada kalanya ketidakadilan adalah sebuah wujud kasih dari seorang ibu.
Penutup
Katakanlah ibu kerap disebut malaikat hidup, namun realitanya ibu juga hanya manusia. Jadi, ketika seorang ibu bersikap tidak adil, sebagai anak kita semua perlu mengagendakan untuk merenungkannya, mengapa dan apa sebabnya.
Kasihilah beliau dengan segala ketidakadilannya yang perlu kita pahami makna-makna indah di baliknya. Sekecil apa pun, setiap manusia memiliki sisi ketidakadilan. Jika kita semua menuntut memiliki ibu yang adil, maka itulah ibu yang bukan manusia—ibu yang tak akan pernah ditemukan!
***
akhir April, 2014
Posted by Art Dimension
Art Dimension Updated at: 9:00 PM

Sunday, November 17, 2013

Merubah atau mengubah?

Merubah atau mengubah? Mana yang benar? Sering, kita menjumpai orang-orang 'salah memilih' kata yang benar antara kedua kata ini. Kedua kata ini memang telah sering dijumpai. Tetapi, ironisnya lebih banyak di antara kita yang salah memilih.

Sangat sederhana sebenarnya. Untuk menentukan mana yang benar antara merubah dan mengubah, kita cukup mencermati kata dasarnya, yaitu "ubah", dan bukan "rubah". Perlu digarisbawahi, "rubah" itu adalah binatang ya...!

Ketentuan dari memfungsikan imbuhan "me" yang dipasangkan dengan kata yang diawali huruf "u" ialah menjadi "meng", yang berarti "me" tambah "ubah" menjadi "mengubah". Jika yang dimaksudkan adalah "merubah" berarti adalah "me" tambah "rubah". Ini jelas salah! Bagaimana merubah? Menjadi rubah?! Hmm...!

Sebelum penulis, jelas tema tulisan sejenis juga telah pernah dibahas oleh orang lain. Tetapi, apa yang terjadi? Penyakit kita yang tak dapat membedakan kata "merubah" dan "mengubah" kerap masih dijumpai. Hal ini seolah mendarah-daging sedari dulu. Lebih banyak dan lebih sering masyarakat kita memilih menggunakan "merubah" daripada "mengubah", sehingga yang lebih sering dianggap benar justru adalah apa yang salah.

Lebih memprihatinkan lagi, yang menggunakan kata "merubah" ternyata bukan hanya masyarakat non penulis, tetapi dari kalangan yang berstatus penulis, sastrawan 'senior', dan bahkan redaktur!

Kadang penulis prihatin dengan semua ini, bukan hanya soal "merubah" dan "mengubah", tetapi masih banyak kesalahan-kesalahan yang lain. Saat mengamati koran, dan lain-lain, terkadang kesalahan itu justru ditemukan pada bagian judul yang semestinya menjadi bagian paling penting dari sebuah tulisan.

Kita akan kembali membahas kesalahan lain di lain waktu.
Posted by Art Dimension
Art Dimension Updated at: 6:41 PM

Saturday, October 12, 2013

Banner Blogger Indonesia Gratis

Tunjukkan kebanggaan Anda kepada dunia sebagai seorang blogger yang berasal dari Indonesia! Berikut di bawah ini tersedia beberapa desain banner "Blogger Indonesia" yang dapat Anda pasang ke blog Anda. Download kode sesuai banner yang diinginkan.


Desain 1

Desain 2


Desain 3

Desain 4

Desain 5

Desain 6

Desain 7

Desain 8

Desain 9

Desain 10

Posted by Art Dimension
Art Dimension Updated at: 9:02 PM

Tetaplah Bersyukur




Menjalani hidup dengan senantiasa bersyukur itu penting dan bermanfaat. Setidaknya, dengan tetap bersyukur, maka kita akan mempertahankan energi positif yang ada di dalam pikiran kita.



Demikian juga sebaliknya, apabila kita senantiasa menjalani hidup dengan keluh kesah, maka energi yang ada di dalam pikiran kita merupakan energi negatif. Praktis, hidup pun menjadi sulit untuk dijalani, karena kita tidak belajar untuk ikhlas dan peka mencari peluang yang dapat kita tangkap, tetapi justru terus-menerus terpuruk dalam penyesalan.



Ah, mengapa saya tidak memiliki ini? Mengapa saya tidak bisa begini? Dan, mengapa saya kerap menderita? Tak ada jawaban pasti untuk pertanyaan-pertanyaan demikian. Yang ada hanyalah ruang pada otak kita semakin dipadati oleh keluhan-keluhan yang tidak mengubah kondisi menjadi lebih baik. Untuk itu, ada kalanya kita harus mengasihani daya tampung otak kita sendiri yang sudah kian sesak, dengan segera berpikir secara terbuka, dan membuang jauh pemikiran-pemikiran negatif itu.



Ada kisah klasik tentang setengah gelas air putih yang amat inspiratif. Kisah ini mungkin sudah berulang kali ditulis dan diceritakan selama ini. Namun, apabila kisah ini masih berdaya guna dalam melahirkan manfaat positif untuk kita semua, maka marilah kita bersama kembali mempelajari kisah menarik ini!



Ada sebuah gelas berisi setengah gelas air putih. Dua orang—dengan pemikiran mereka yang saling bertolak belakang—diminta untuk merenungkan kondisi tersebut.



Orang pertama adalah orang yang kerap berpikir secara negatif. Ia pun berpendapat, ah, air saya tinggal setengah gelas. Celaka! Sebentar lagi akan habis! Bagaimana ini?!



Rasa cemas pun memadati ruang otak si orang pertama.



Lalu, orang kedua adalah orang yang kerap berpikir secara positif. Ia pun berpendapat, hmm..., air saya masih setengah gelas. Sunggu beruntung! Sungguh beruntung saya masih memiliki setengah gelas air putih ini!



Rasa syukur pun memadati ruang otak si orang kedua.



Kisah klasik di atas hendak menyampaikan pesan kepada kita, dalam satu kondisi yang sama, ada kalanya dua pemikiran menerjemahkannya menjadi dua sikap yang saling bertolak belakang. Sikap orang pertama cenderung mengarah pada hal-hal negatif, sehingga sekalipun masih tersisa setengah gelas air putih di hadapannya, perasaannya kerap diselimuti rasa cemas. Sementara sikap orang kedua cenderung mengarah pada hal-hal positif, sehingga sekalipun hanya tersisa setengah gelas air putih di hadapannya, ia tetap merasa bersyukur akan hal tersebut.



Kisah yang menginspirasi juga pernah dibawakan oleh motivator Mario Teguh, dalam acara Golden Way (Metro TV). Ada seorang pemuda yang hanya memiliki sebuah raket tua. Tetapi dengan raket itulah, justru ia memeroleh banyak prestasi kemenangan. Padahal, lawan mainnya kerap memiliki raket yang lebih layak untuk dipakai. Mengapa bisa demikian?



Jawabannya cukup sederhana. Pemuda itu sadar bahwa ia hanya memiliki sebuah raket tua. Maka ia harus berlatih dan berjuang lebih kuat lagi daripada yang lainnya, agar ia mampu untuk mencapai apa yang diinginkannya.



Kisah lain ada pada situs resmi motivator Andrie Wongso (http:// http://www.andriewongso.com). Anthony Robles, seorang pegulat yang hanya memiliki satu kaki dan harus menopang tubuhnya dengan kruk, berhasil menjadi juara pertama pada kompetisi gulat nasional tingkat perguruan tinggi di Amerika—yang lebih dikenal sebagai National Collegiate Athletic Association (NCAA)—mengalahkan lawannya, Matt McDonough (orang normal) yang merupakan juara bertahan. Bahkan, pertarungan menunjukkan bahwa Robles unggul dengan skor 7-1!



Kompetisi gulat yang dimenangkan oleh Robles adalah kompetisi gulat yang nyata, bukan seperti acara ‘gulat-gulatan’ rekayasa yang sempat beberapa kali menimbulkan pro-kontra terkait penayangannya di salah satu stasiun televisi Indonesia. Pasca-kemenangan itu, nama Robles pun memadati berbagai media di Amerika. Ia berhasil membuktikan bahwa harapan yang seolah tak mungkin itu ada kalanya dapat tercapai dengan usaha yang keras.



Sedikit kata-kata dari Robles, “Ibu saya bilang bahwa Tuhan membuat saya seperti ini (lahir dengan satu kaki) pasti punya alasan. Alasannya adalah gulat. Saya tak melihat kehilangan satu kaki sebagai cacat. Orangtua membesarkan saya agar menjadi kuat dan mereka tak pernah memperlakukan saya sebagai orang cacat sehingga saya percaya bahwa saya dapat melakukan apa pun yang ada dalam pikiran saya.”



Dari ketiga cerita di atas membuktikan bahwa betapa pentingnya kita harus senantiasa menjaga energi positif dalam pikiran kita. Ada kalanya cobaan dan rintangan adalah bagian dari pendongkrak lahirnya potensi serta kekuatan tersembunyi. Tak peduli kita hanya memiliki setengah gelas air putih, sebuah raket tua, ataupun satu kaki, tetaplah belajar bersyukur dan berfokus pada kemungkinan datangnya harapan atau peluang yang dapat mengantarkan kita pada tujuan. Mari!



Telah dimuat di Harian Analisa
Posted by Art Dimension
Art Dimension Updated at: 8:18 PM

Sunday, July 7, 2013

50 Trik Modifikasi Blogger-Blogspot


Penulis : Lea Willsen
No. Id. Elex : 121131037
ISBN / EAN : 9786020213309 / 9786020213309
Jumlah Halaman : 224
Berat Buku : 250 gram
Dimensi( pxl ) : 210 mm x 140 mm
Published Date : Rabu, 26 Juni 2013
Harga: Rp 52.800



Sinopsis
 
Buktikan Anda adalah blogger kreatif yang menguasai ragam trik profesional dalam menciptakan sebuah blog yang keren! Melalui sejumlah tutorial bergambar dan puluhan video demo beserta kode-kode HTML yang disediakan dalam CD Bonus yang menyertai buku ini, Anda akan step by step diarahkan untuk mempelajari cara terbaik dalam memodifikasi Blogger.
Menanamkan sepuluh—bahkan lebih—background sekaligus dalam sebuah blog, fitur-fitur canggih seperti video player, chatbox, rate, like/dislike pada entri, serta membangun sebuah komunitas untuk menampung para fans, tidaklah menjadi hal mustahil! Jangan heran juga ketika sebuah blog dapat memberi salam "selamat datang" kepada visitor, kemudian memutarkan sebuah lagu secara otomatis. Temukan jawabannya dalam 50 Trik Modifikasi Blogger/Blogspot!
Posted by Art Dimension
Art Dimension Updated at: 1:54 PM

Monday, July 1, 2013

Kisah Mantan Pecandu Obat Terlarang



Kisah Mantan Pecandu Obat Terlarang
Oleh: Lea Willsen.
“Hidup menjadi tak terkontrol. Seharusnya saya bersedih, ketika teman jatuh dari tangga karena ulah saya. Lah, saya justru menertawakannya! Dan bukan meminta maaf, malah saya tendang lagi dia...”
Sobat muda, sebait kalimat yang Anda baca di atas bukanlah kalimat dari sebuah cerpen, melainkan cerita seorang teman kepada penulis pada suatu malam, tentang dirinya di masa lalu, ketika sedang dalam kondisi fly akibat mengonsumsi obat terlarang.
Dewasa ini, kita semua tahu, obat terlarang bukanlah sesuatu yang baik untuk dikonsumsi. Selain dapat merusak mental dan masa depan, dari segi kesehatan juga akan berpengaruh negatif, bahkan berakhir dengan melayangnya nyawa! Tentu, bukan sekali dua kali saja kita pernah melihat atau membaca peringatan-peringatan agar menjauhi obat terlarang, baik melalui buku, internet, televisi, koran, selembaran, ataupun mendengarnya secara langsung dari orang-orang terdekat kita. Namun, angka pecandu obat di Indonesia masih saja memprihatinkan. Berdasarkan hasil penelitian Badan Narkotika Nasional Pusat dan Universitas Indonesia pada 2011, sekitar 3,8 juta jiwa atau 2,2% dari jumlah penduduk Indonesia adalah pecandu narkotika dan obat-obat berbahaya (narkoba). Peringatan-peringatan yang disebutkan tadi pun (seakan) diragukan oleh para pecandu obat.
Apa sebenarnya yang telah mendorong keinginan seseorang untuk coba mengonsumsi obat terlarang, tanpa menghiraukan atau merasa takut terhadap efek sampingnya? Pada kesempatan kali ini­-agar segalanya lebih jelas sesuai dengan fakta­-penulis telah mempersiapkan satu bagian wawancara bersama seorang narasumber yang merupakan mantan pecandu obat. Dia adalah seorang yang spesial! Mengapa? Memang benar, tak sedikit individu yang menjadi pecandu obat, sebagian juga mampu sembuh kembali, tetapi sangat sedikit yang bersedia berbagi kisah untuk kita semua, sekali pun penulis telah berulangkali menjelaskan bahwa identitas narasumber tak akan dipublikasikan.
Silakan membaca kisah narasumber kita­-dimulai dari pertama mengenal obat terlarang, hingga bagaimana kemudian sanggup melepaskan diri kembali­-yang tentunya akan menginspirasi serta memberi manfaat positif untuk kita renungkan.
+Saya sangat salut serta berterima kasih, Anda telah bersedia meluangkan waktu Anda untuk menjadi narasumber dan membagikan pengalaman hidup Anda. Anda kini berusia berapa?
-Sekarang usia saya 55 tahun.
+Terdapat berbagai macam obat-obat terlarang yang beredar. Obat terlarang seperti apa yang dulu Anda konsumsi?
-Lexotan, pil BK, rohypnol, morphin, kokain dan juga ekstasi...
+Anda mulai mengonsumsinya di usia ke berapa? Mengapa? Karena ajakan teman, atau berbagai faktor lain yang mungkin membuat Anda menjadikan hal tersebut sebagai suatu pelarian atau pelampiasan?
-Saya mulai mengonsumsinya di usia 19, Selain ajakan teman juga karena broken home, dan yang terparah adalah broken heart.
+Bila sekarang kembali diingat-ingat, adakah hal-hal negatif tertentu yang telah pernah Anda lakukan tanpa sengaja, selagi dalam pengaruh obat? Jika pernah, apa akibatnya?
-Banyak hal negatif yang telah saya lakukan akibat pengaruh obat tersebut, seperti berkelahi, mencuri dan juga mengganggu orang sekitar.
+Bagaimana sikap keluarga Anda-­seperti orangtua dan saudara­-menanggapi kenyataan bahwa Anda saat itu telah menjadi seorang pecandu obat? Mereka marah, sedih, dan bersama-sama menasihati/mendukung Anda untuk berubah?
-Saat itu, keluarga saya bukan menasihati, malah mengusir saya dari rumah. Hal inilah yang kemudian membuat saya semakin bebas mengonsumsi obat terlarang.
+Sebagian obat demikian memiliki harga jual yang selangit. Dari segi keuangan, pernahkah Anda menghadapi kesulitan untuk memenuhi kebutuhan membeli obat-obat demikian? Bila pernah, apa yang Anda lakukan agar dapat memenuhi kebutuhan tersebut?
-Sangat sering... Biasanya kami berkelompok dan saling berbagi atau mencari bos agar dapat memenuhi kebutuhan tersebut. Bila sudah terpepet apa pun akan saya lakukan seperti menipu, bahkan mencuri dan memeras orang.
+Secara fisik, pernahkah Anda merasa sakit, sengsara, atau sebagainya akibat ketergantungan terhadap obat demikian? Bisa diceritakan?
-Secara fisik sudah pasti saya merasakan kesengsaraan yang hebat, ketika saya tak dapat mengonsumsi obat-obat tersebut. Rasanya seperti seluruh sendi ditusuk oleh jarum, otak menjadi tak dapat berpikir panjang. Bahkan timbul juga keinginan untuk menyakiti diri sendiri. Berpikir bahwa lebih baik mati bila tak dapat mengonsumsi obat tersebut. Ini disebut sakao (sakit karena obat).
+Berapa tahun Anda menjadi pecandu? Lalu, apa yang kemudian memotivasi Anda untuk berubah?
-26 tahun saya menjadi pecandu. Saya mulai ingin berubah semenjak ibu saya meninggal dan saya bertemu dengan seorang biksu yang sabar dan tekun memberi nasihat kepada saya.
+Metode penyembuhan seperti apa yang ditempuh? Sulit?
-Saya berobat dengan masuk ke RSKO Fatmawati-­biaya sepenuhnya ditanggung oleh biksu-­dilanjutkan dengan metode semedi yang juga dibimbing oleh biksu. Soal kesulitan..., sungguh minta ampun sulitnya! Saya yakin bila pada saat itu tidak dibantu dengan kasih sayang dan kesabaran yang tiada tara dari suhu (panggil saya kepada biksu tersebut), saya pasti terjerumus kembali.
+Di saat Anda sedang berusaha untuk terbebas dari obat-obat terlarang, pernahkah ada orang-orang tertentu­-misalkan teman sesama pecandu-­yang masih terus menggoda Anda untuk tidak berhenti? Bila pernah, apa yang Anda lakukan menanggapi hal itu?
-Saya bersyukur, karena setelah terbebas dari obat-obatan, saya dibawa ke tempat yang agak terpencil hingga saya putus kontak dengan teman-teman pecandu saya. Sampai terakhir ketika suhu meninggal, saya baru kembali ke Jakarta, dan... ternyata banyak teman pecandu yang sudah meninggal akibat OD (over dosis)! Beberapa yang masih hidup mengajak saya sekadar pergi dugem, tapi tidak saya tanggapi, mengingat betapa sengsaranya saya ketika menjalani proses penyembuhan. Selain itu, saya juga harus menghargai upaya almarhum suhu yang telah begitu baik, tulus dan sabar agar saya dapat kembali ke jalan yang benar.
+Kini, tentu Anda sudah sembuh. Apa hikmah terbesar yang Anda peroleh dari semua kejadian itu?
-Hikmah terbesar adalah akhirnya kini saya telah berumah tangga, dan tidak minder lagi dalam bermasyarakat.
+Pertanyaan terakhir. Terkait topik yang kita bahas, adakah saran atau pesan yang ingin Anda sampaikan kepada adik-adik remaja yang membaca kisah Anda ini?
-Saran dan pesan saya, jangan pernah mencoba obat/zat adiktif apa pun alasannya! Dan kepada orangtua, berilah kasih sayang kepada anak kalian, serta perhatikanlah tingkah laku anak-anak kalian sebelum terlambat. Terima kasih!
Sobat muda, demikianlah akhir dari wawancara bersama narasumber kita. Jangan coba-coba mengonsumsi obat terlarang! Setiap kita akan mencoba suatu hal baru, mungkin kita selalu memiliki alasan yang kuat. Tetapi dalam hal terkait obat terlarang, sekali kita telah kecanduan, maka untuk sembuh kembali bukanlah persoalan mudah. Bentengilah selalu diri kita dengan keyakinan terhadap agama­agama apa pun itu.
Untuk para orangtua, seperti yang disampaikan oleh narasumber kita, berilah kasih sayang kepada anak Anda. Bila Anda berpikir bahwa sikap anak Anda sudah tak tertolong lagi dan sepantasnya ditelantarkan, maka kesalahan terbesar adalah sebenarnya Anda masih belum memahami bagaimana cara mengasihi anak Anda dengan benar. Beberapa anak mungkin memerlukan perhatian ekstra. Itu adalah tantangan untuk Anda sebagai orangtua. Semoga!
* Awal April 2012
Muat di Harian Analisa
Posted by Art Dimension
Art Dimension Updated at: 1:58 PM

Wednesday, June 12, 2013

Hari Bacang dan Kisah Sastrawan Qu Yuan




Pada 12 Juni 2013 (tanggal 5 bulan 5 Lunar), diperingati sebagai Hari Bacang atau yang lebih sering disebut sebagai Hari Raya Peh Cun. Di Indonesia tentu hari tersebut hanya diperingati oleh suku tertentu—Suku Tionghoa—dan tidak sampai dicantumkan sebagai tanggal merah pada kalender. Namun, ternyata pada negara lain seperti China, Taiwan dan lainnya, Hari Bacang merupakan satu dari tiga hari besar yang dianggap paling penting, yakni dua di antaranya ialah: Hari Raya Imlek (Chun Jie), dan Hari Raya Tiong Chiu (Zhong Qiu Jie).
Bacang sendiri merupakan nama dari sebuah kue berbentuk empat kerucut yang dibungkus daun, dengan isi bervariasi seperti: ketan, daging, jamur, kacang, telur, dan lain sebagainya, tergantung selera. Akan tetapi, ternyata bacang memiliki sejarah serta kisah kesetiaan seorang sastrawan sekaligus pejabat, Qu Yuan (baca: Chi Yen) yang cukup terkenal.
Sejarah
Dikisahkan pada masa 475-221 SM—Dinasti Zhou—Tiongkok terbagi menjadi tujuh negara yang saling bertikai. Salah satunya, negara Qin dikenal sebagai negara yang paling agresif, dan senang menindas keenam negara lain yang lebih lemah. Sastrawan Qu Yuan merupakan seorang pejabat besar dari negara Chu, yang cukup cerdas untuk kemudian mengeluarkan ide serta berperan aktif dalam menyatukan keenam negara yang kerap ditindas untuk melawan agresi negara Qin. Oleh sebab itu, Qu Yuan pun menjadi tokoh yang cukup diperhitungkan pihak lawan.
 Sayangnya, pada masa itu negara Qin menggunakan siasat licik untuk berpura-pura menawarkan perdamaian kepada Kaisar Chu Huai (kaisar negara Chu), dan mengarang cerita-cerita palsu yang menyebabkan Kaisar Chu Huai menjadi kurang begitu percaya kepada Qu Yuan. Suatu ketika negara Qin mengundang Kaisar Chu Huai ke ibukota mereka, sebenarnya Qu Yuan telah membaca siasat jahat musuh, dan melarang keras kepergian Kaisar Chu Huai. Tetapi, karena penilaian Kaisar Chu Huai terhadap Qu Yuan telah terlanjur diracuni, perkataan Qu Yuan pun diabaikan.
Masa itu Qu Yuan mengalami perasaan sedih yang amat mendalam. Kaisar Chu Huai pun memenuhi undangan dari negara Qin. Kemudian, apa yang menjadi kekhawatiran terbesar Qu Yuan pun benar-benar terjadi. Kaisar Chu Huai dibunuh di negara musuh! Dalam situasi darurat itu, negara Chu kemudian mengangkat Kaisar Chu Xiang untuk memimpin negara. Ironisnya, Kaisar Chu Xiang bukan hanya tidak berniat menegakkan keadilan untuk Kaisar Chu Huai yang dibunuh musuh, tetapi justru mengangkat Kaisar Qin menjadi ayah angkat.
Ditambah lagi dengan keberadaan beberapa pejabat yang telah menerima suap dari negara Qin, Kaisar Chu Xiang diusulkan untuk menyerah kepada negara Qin. Mendengar hal tersebut, Qu Yuan pun kembali melarang keras usul itu, dan berdebat dengan Kaisar Chu Xiang, hingga kemudian dicopot dari jabatan, dan dikirim ke tempat pembuangan manusia di Chang Sha.
Sembilan tahun hidup dalam ketragisan di mana harus menghadapi kenyataan bahwa negara Chu telah hancur di tangan Kaisar Chu Xiang, serta nasib keluarganya yang berantakan, akhirnya Qu Yuan memutuskan untuk mengakhiri hidupnya dengan menceburkan diri ke Sungai Mi Luo (sekarang Sungai Qian Tang di propinsi Zhe Jiang). Tanggal 5 bulan 5 Lunar, sastrawan Qu Yuan pun meninggal pada usia 62 tahun.
Rakyat yang selama ini yakin bahwa Qu Yuan adalah tokoh yang selalu berpihak kepada negara Chu amat bersedih atas keputusan Qu Yuan. Mereka berusaha keras untuk menemukan jenazah Qu Yuan, namun sia-sia. Karena berharap agar jenazah itu jangan sampai diusik (baca: dimakan) oleh binatang-binatang air, akhirnya rakyat negara Chu pun sepakat untuk membungkus nasi dan makanan-makanan lainnya untuk kemudian diceburkan ke Sungai Mi Luo, agar dapat dimakan oleh binatang-binatang air. Nasi dan makanan-makanan itulah yang kemudian kini dikenal sebagai kue bacang.
Dalam versi lain yang tidak berbeda jauh, sastrawan Qu Yuan juga dikisahkan sebagai seorang pejabat cerdas yang memiliki pengaruh besar. Buku karyanya dengan judul “Chun Tzu (Ratapan Negeri Tzu) dan juga “Li Sao (Menapaki Kesedihan) merupakan buku yang populer di masa itu. Karena terlalu gemilangnya karir Qu Yuan, terdapat banyak lawan politik yang hendak menjatuhkannya.
Lawan-lawan politik Qu Yuan bukan hanya membenci Qu Yuan, tetapi pada dasarnya kebanyakan dari mereka adalah pejabat tak setia yang merencanakan kudeta. Mereka sempat menawarkan kerja sama, tetapi ditolak oleh Qu Yuan. Penolakan itu jugalah yang kemudian membuat mereka semakin memusuhi Qu Yuan.
Suatu ketika kaisar negara Chu sakit, para pejabat pengkhianat itu pun menekan tim medis untuk mengeluarkan larangan garam terhadap kaisar. Akibatnya, kondisi kaisar menjadi semakin memburuk dan hanya dapat terbaring lemas di atas ranjang. Selidik demi selidik, Qu Yuan berhasil mencium siasat licik itu. Namun, dikarenakan terdapat kesulitan-kesulitan tertentu yang kala itu sulit dihadapi, Qu Yuan tak dapat berbuat banyak, selain diam-diam membungkus garam dalam daum bambu dengan empat kerucut, lalu menggantung bungkusan itu di langit-langit ranjang kaisar dengan maksud agar garam itu menetes sedikit demi sedikit di atas mulut kaisar, dengan harapan kesehatan kaisar dapat segera pulih kembali.
Hal yang tak terduga, di kemudian hari ketika bungkusan garam itu ditemukan, Qu Yuan justru dituduh sebagai orang yang telah meracuni kaisar, sehingga kondisi kesehatan kaisar kian memburuk. Qu Yuan mengalami depresi berat akibat tuduhan terhadap dirinya. Dan untuk menghindari pengadilan serta jeratan hukum yang tak semestinya ia terima, akhirnya Qu Yuan pun lebih memilihi mengakhiri hidup sendiri secara terhormat dengan menceburkan diri ke Sungai Mi Luo.
Hari Bacang di Indonesia
Di Indonesia, Hari Bacang juga merupakan salah satu hari istimewa bagi Suku Tionghoa. Setiap tahunnya, sebagian besar—tergantung kepercayaan yang dianut—keluarga Suku Tionghoa memiliki kewajiban untuk membuat bacang yang kemudian disembahyangkan kepada leluhur dan dewa, kecuali keluarga yang tengah berkabung. Namun, itu adalah pandangan lama. Modernnya, kini bacang boleh dibeli dari orang lain, tanpa harus repot-repot membuatnya sendiri.
Hal unik lain yang terdapat pada tanggal 5 bulan 5 Lunar, setiap pukul 12 siang, telur dapat didirikan tegak. Ah, masak?! Ya, ini memang sulit masuk di akal. Namun, sebuah klipingan (koran Analisa) yang tersimpan dalam PC penulis di tahun 2009 menunjukkan bahwa hal itu benar adanya. Acara itu digelar oleh Paguyuban Sosial Marga Tionghoa Indonesia (PSMTI) Sumut pada Kamis, 28 Mei 2009.
Posted by Art Dimension
Art Dimension Updated at: 1:24 PM

Entri Populer