Showing posts with label Cerita Motivasi. Show all posts
Showing posts with label Cerita Motivasi. Show all posts

Monday, December 22, 2014

Ketika Terkadang Ibu Tidak Adil



Penulis yakin, banyak di antara kita—terlebih yang memiliki banyak saudara—terkadang memiliki problematik atau persepsi yang beranggapan bahwa ibu kita tidak adil. Ya, kendatipun tidak sedikit juga yang senantiasa bersyukur terhadap keberadaan sosok sang ibu, di sini kita tak perlu, atau tak harus menyatakan siapa-siapa yang harus dipersalahkan.
Ketika seorang anak cenderung merasa ibunya pilih kasih, bukan berarti kita harus memvonis kalau anak tersebutlah yang bersalah, tak tahu bersyukur, durhaka, atau sejenisnya. Tidak juga dengan membenarkan kalau sosok si ibu memang tidak baik, menyebalkan, dan patut dikritisi atau diprotes.
Realistis saja. Ketika seorang anak mengalami problematik atau menyimpan persepsi kalau ibunya tidak adil, tentu saja ada alasan tersendirinya, yang bisa jadi hanya si anak bersangkutanlah yang tahu secara pasti. Tetapi, di balik ketidakadilan yang ditunjukkan seorang ibu kepada anak-anaknya, ada kalanya terdapat banyak sebab serta kesalahpahaman. Di sini, tujuan kita tentu bukan terus terperosok semakin dalam pada problematik tersebut. Kita butuh mencari tahu, mencoba memahami apa yang sebenarnya menjadi penyebab sikap seorang ibu yang dianggap tidak adil.
Sebab dan alasan
Tuhan itu adil. Ungkapan demikian pada dasarnya masih kerap menjadi pro-kontra. Tetapi, bila berbicara tentang manusia itu adil, jangan ditanya lagi. Pada dasarnya di dunia ini tak ada manusia yang benar-benar seratus persen adil. Bahkan seorang penegak keadilan, belum tentu sanggup bersikap adil ketika dihadapkan pada posisi sebagai orangtua—ayah atau ibu—untuk anak-anaknya.
Ketidakadilan itu manusiawi, kendatipun sulit diterima. Ketidakadilan seorang ibu juga manusiawi. Coba saja kita renungkan, setiap dari kita terlahir sebagai anak dengan karakteristik, bentuk, serta cerita yang berbeda. Kita tidak seperti sebuah produk yang diproduksi secara massal hanya dengan sebuah cetakan yang sama. Jadi, ketika seorang ibu—yang masih manusia—menilai satu per satu buah hatinya, sang ibu jelas memiliki pendapat tersendiri untuk setiap anaknya.
Ibarat ketika seorang perancang busana mengamati satu per satu busana rancangannya yang memiliki motif dan model berbeda—kendatipun setiap busana itu terlahir dari buah pikirannya—tetap saja si perancang memiliki pendapat tersendiri juga untuk setiap busana itu. Itu pun busana hanya sebuah benda mati. Berbeda dengan anak (manusia), ada yang pintar mengambil hati ibunya, ada yang suka bermanja-manja dengan ibunya, dan ada juga yang justru sebaliknya, selalu meresahkan ibu, atau memancing emosi ibu.
Selain itu, terkadang bisa juga oleh berbagai sebab lain. Sebut saja dari segi usia anak, seorang ibu mungkin berpikir kalau dirinya harus lebih melindungi anaknya yang kecil, atau lebih memprioritaskan anaknya yang berusia sekian-sekian, kemudian tanpa disadari sikap tersebut malah diterjemahkan sebagai ketidakadilan di mata anak yang lain.
Misalkan, dua bersaudara sedang berebutan mainan. Satu berusia sepuluh tahun, dan satunya lagi baru lima tahun. Secara refleks seorang ibu biasanya akan meminta anak berusia sepuluh tahun untuk mengalah kepada adiknya. Lalu contoh kedua, seorang anak berusia delapanbelas tahun diberikan ibu ponsel yang mahal dan canggih, sementara adiknya yang berusia sepuluh tahun hanya mendapatkan ponsel bekas pakai saudaranya itu. Kondisi yang serupa juga bisa saja terjadi pada seorang ibu delapanpuluh tahunan dengan anak-anaknya yang berusia limapuluh atau enampuluh tahunan, meskipun untuk cerita yang berbeda.
Kasih di balik ketidakadilan
Umumnya, di mata seorang ibu, setiap anak selalu dikasihi. Hanya saja, terkadang ibu menunjukkan kasih tersebut pada setiap anaknya dengan cara yang berbeda-beda. Untuk si A kasih yang diberikan adalah dengan cara ini, dan untuk si B kasih yang diberikan adalah dengan cara itu, kemudian lain cara lagi untuk C, D, E. Penulis akan kembali memberi sebuah contoh berdasarkan cerita ibunda sendiri.
Ibunda penulis memiliki sebuah ‘ketidakadilan’ yang unik. Setiap di keluarga kami tersedia makanan favorit penulis (tanpa menyebut apa itu)—baik dari beli atau oleh-oleh dari kerabat tertentu—ibunda penulis kerap kali melebih-lebihkan jatah penulis, bahkan secara terang-terangan. Kadang penulis menolak semua itu, namun tetap saja jatah makanan itu seolah telah tercatat nama penulis di atasnya. Wah!
Sebaliknya, kondisi di mana ibunda penulis memprioritaskan saudara penulis yang lain dengan alasan dan pertimbangan serupa, tentu juga pernah terjadi. Dengan sedikit pemakluman, saling pengertian, dan saling mengasihi, ada kalanya ketidakadilan adalah sebuah wujud kasih dari seorang ibu.
Penutup
Katakanlah ibu kerap disebut malaikat hidup, namun realitanya ibu juga hanya manusia. Jadi, ketika seorang ibu bersikap tidak adil, sebagai anak kita semua perlu mengagendakan untuk merenungkannya, mengapa dan apa sebabnya.
Kasihilah beliau dengan segala ketidakadilannya yang perlu kita pahami makna-makna indah di baliknya. Sekecil apa pun, setiap manusia memiliki sisi ketidakadilan. Jika kita semua menuntut memiliki ibu yang adil, maka itulah ibu yang bukan manusia—ibu yang tak akan pernah ditemukan!
***
akhir April, 2014
Posted by Art Dimension
Art Dimension Updated at: 9:00 PM

Saturday, October 12, 2013

Tetaplah Bersyukur




Menjalani hidup dengan senantiasa bersyukur itu penting dan bermanfaat. Setidaknya, dengan tetap bersyukur, maka kita akan mempertahankan energi positif yang ada di dalam pikiran kita.



Demikian juga sebaliknya, apabila kita senantiasa menjalani hidup dengan keluh kesah, maka energi yang ada di dalam pikiran kita merupakan energi negatif. Praktis, hidup pun menjadi sulit untuk dijalani, karena kita tidak belajar untuk ikhlas dan peka mencari peluang yang dapat kita tangkap, tetapi justru terus-menerus terpuruk dalam penyesalan.



Ah, mengapa saya tidak memiliki ini? Mengapa saya tidak bisa begini? Dan, mengapa saya kerap menderita? Tak ada jawaban pasti untuk pertanyaan-pertanyaan demikian. Yang ada hanyalah ruang pada otak kita semakin dipadati oleh keluhan-keluhan yang tidak mengubah kondisi menjadi lebih baik. Untuk itu, ada kalanya kita harus mengasihani daya tampung otak kita sendiri yang sudah kian sesak, dengan segera berpikir secara terbuka, dan membuang jauh pemikiran-pemikiran negatif itu.



Ada kisah klasik tentang setengah gelas air putih yang amat inspiratif. Kisah ini mungkin sudah berulang kali ditulis dan diceritakan selama ini. Namun, apabila kisah ini masih berdaya guna dalam melahirkan manfaat positif untuk kita semua, maka marilah kita bersama kembali mempelajari kisah menarik ini!



Ada sebuah gelas berisi setengah gelas air putih. Dua orang—dengan pemikiran mereka yang saling bertolak belakang—diminta untuk merenungkan kondisi tersebut.



Orang pertama adalah orang yang kerap berpikir secara negatif. Ia pun berpendapat, ah, air saya tinggal setengah gelas. Celaka! Sebentar lagi akan habis! Bagaimana ini?!



Rasa cemas pun memadati ruang otak si orang pertama.



Lalu, orang kedua adalah orang yang kerap berpikir secara positif. Ia pun berpendapat, hmm..., air saya masih setengah gelas. Sunggu beruntung! Sungguh beruntung saya masih memiliki setengah gelas air putih ini!



Rasa syukur pun memadati ruang otak si orang kedua.



Kisah klasik di atas hendak menyampaikan pesan kepada kita, dalam satu kondisi yang sama, ada kalanya dua pemikiran menerjemahkannya menjadi dua sikap yang saling bertolak belakang. Sikap orang pertama cenderung mengarah pada hal-hal negatif, sehingga sekalipun masih tersisa setengah gelas air putih di hadapannya, perasaannya kerap diselimuti rasa cemas. Sementara sikap orang kedua cenderung mengarah pada hal-hal positif, sehingga sekalipun hanya tersisa setengah gelas air putih di hadapannya, ia tetap merasa bersyukur akan hal tersebut.



Kisah yang menginspirasi juga pernah dibawakan oleh motivator Mario Teguh, dalam acara Golden Way (Metro TV). Ada seorang pemuda yang hanya memiliki sebuah raket tua. Tetapi dengan raket itulah, justru ia memeroleh banyak prestasi kemenangan. Padahal, lawan mainnya kerap memiliki raket yang lebih layak untuk dipakai. Mengapa bisa demikian?



Jawabannya cukup sederhana. Pemuda itu sadar bahwa ia hanya memiliki sebuah raket tua. Maka ia harus berlatih dan berjuang lebih kuat lagi daripada yang lainnya, agar ia mampu untuk mencapai apa yang diinginkannya.



Kisah lain ada pada situs resmi motivator Andrie Wongso (http:// http://www.andriewongso.com). Anthony Robles, seorang pegulat yang hanya memiliki satu kaki dan harus menopang tubuhnya dengan kruk, berhasil menjadi juara pertama pada kompetisi gulat nasional tingkat perguruan tinggi di Amerika—yang lebih dikenal sebagai National Collegiate Athletic Association (NCAA)—mengalahkan lawannya, Matt McDonough (orang normal) yang merupakan juara bertahan. Bahkan, pertarungan menunjukkan bahwa Robles unggul dengan skor 7-1!



Kompetisi gulat yang dimenangkan oleh Robles adalah kompetisi gulat yang nyata, bukan seperti acara ‘gulat-gulatan’ rekayasa yang sempat beberapa kali menimbulkan pro-kontra terkait penayangannya di salah satu stasiun televisi Indonesia. Pasca-kemenangan itu, nama Robles pun memadati berbagai media di Amerika. Ia berhasil membuktikan bahwa harapan yang seolah tak mungkin itu ada kalanya dapat tercapai dengan usaha yang keras.



Sedikit kata-kata dari Robles, “Ibu saya bilang bahwa Tuhan membuat saya seperti ini (lahir dengan satu kaki) pasti punya alasan. Alasannya adalah gulat. Saya tak melihat kehilangan satu kaki sebagai cacat. Orangtua membesarkan saya agar menjadi kuat dan mereka tak pernah memperlakukan saya sebagai orang cacat sehingga saya percaya bahwa saya dapat melakukan apa pun yang ada dalam pikiran saya.”



Dari ketiga cerita di atas membuktikan bahwa betapa pentingnya kita harus senantiasa menjaga energi positif dalam pikiran kita. Ada kalanya cobaan dan rintangan adalah bagian dari pendongkrak lahirnya potensi serta kekuatan tersembunyi. Tak peduli kita hanya memiliki setengah gelas air putih, sebuah raket tua, ataupun satu kaki, tetaplah belajar bersyukur dan berfokus pada kemungkinan datangnya harapan atau peluang yang dapat mengantarkan kita pada tujuan. Mari!



Telah dimuat di Harian Analisa
Posted by Art Dimension
Art Dimension Updated at: 8:18 PM

Wednesday, January 23, 2013

Menjadi Budak ‘Si Uang’




Setiap pukul 07.45 pagi, pemuda itu memulai perjalanannya dari rumah menuju tempat kerjanya yang lumayan jauh, dengan mengayuh sebuah sepeda tua peninggalan almarhum ayahnya. Sering, ketika tengah mengeluarkan sepedanya dari rumah, ia melihat sesosok kakek tua yang tinggal berseberangan dengannya juga tengah bersiap-siap mengepak barang-barangnya pada sebuah sepeda yang juga tak jauh berbeda dari kondisi sepedanya. Tangan kakek itu terlihat kurus, keriput, dan gemetar. Dan lagi, barangnya yang cukup banyak itu sepertinya tidak mudah dibawa.
Pada satu kesempatan, pemuda itu coba menghampiri si kakek dan bertanya, "Barang apa itu, Kek?"
"Pot bunga...," jawab si kakek.
"Pot bunga?" Si pemuda mencoba melirik ke dalam dua peti kayu yang diikat pada sepeda si kakek.
"Juga berbagai kerajinan tanah liat. Setiap hari barang-barang ini harus dibawa ke pasar untuk dijual."
Si pemuda hanya manggut-manggut, kemudian berlalu.
Keesokan harinya, si pemuda dikagetkan oleh apa yang dilihatnya. Sebelah tangan si kakek diperban, dan kedua kakinya terdapat sejumlah luka-luka lecet yang lumayan parah. Ah, ternyata si kakek kemarin mengalami kecelakaan!
Merasa prihatin dengan kondisi si kakek yang tengah terluka namun tetap ingin pergi berjualan ke pasar, si pemuda pun menawarkan diri untuk mengantarkan barang-barang dagangan si kakek ke pasar. Mumpung sejalan. Si kakek menyambut tawaran itu dengan gembira.
Untuk hari-hari berikutnya, pemuda itu pun selalu mewakili si kakek mengerjakan pekerjaan yang ternyata tidak mudah itu. Begitu dua peti kayu berisi kerajinan tanah liat itu dibebankan di belakang sepedanya, sepeda menjadi sulit mendapatkan keseimbangan. Terutama ketika hendak berbelok. Ah, biarlah, pemuda itu berpikir. Yang muda harus memberi perhatian kepada yang tua. Ia sendiri yang telah menawarkan diri, maka harus dikerjakan dengan tulus. Setidaknya, sampai luka si kakek sembuh.
Seminggu kemudian, si kakek tiba-tiba menjelaskan kepada pemuda itu, bahwa ia ingin menggaji pemuda itu untuk melakukan pekerjaan itu untuk seterusnya. Si kakek mengaku, dirinya telah tua dan tidak pantas lagi mengerjakan pekerjaan itu. Ia butuh seseorang yang dapat dipercaya untuk membantunya.
Mata pria itu berkejap-kejap. Muncul dua bisikan yang saling bertentangan di batinnya, antara menerima tawaran si kakek, atau menolaknya. Sebenarnya selama seminggu ini pekerjaan itu amat menyusahkannya. Ia menjadi harus bangun dan berangkat lebih awal, karena harus berhati-hati dan memperlambat laju sepedanya ketika sedang berada dalam perjalanan. Tak jarang juga ia telat beberapa menit tiba di tempat kerjanya. Tetapi, ia telah melakukan hal itu selama tujuh hari, dan kali ini si kakek menawarkannya gaji! Hmm..., mengapa tidak?!
Pemuda itu mengangguk.
Beberapa bulan pun berlalu. Selama itu, segalanya berjalan dengan lancar. Tetapi, alangkah sialnya hari itu, baru si pemuda mengayuh sepedanya tak jauh, sebuah mobil melaju kencang dan menabraknya! Mobil itu kabur bagai dikejar setan. Pemuda itu menyadari dirinya selamat, meskipun sebelah kakinya sepertinya terkilir dan mengalami luka lecet di mana-mana. Namun, ketika ia segera melirik ke dua peti kayu yang menjadi tanggung jawabnya, peti itu telah hancur! Demikian juga isinya...
Dengan cemasnya, pemuda itu kembali kepada si kakek, dan mengabarkan kejadian naas itu. Si kakek tersentak kaget, dan memarahinya panjang lebar. Bahkan juga menghubung-hubungkan jumlah gajinya dengan harga jual barang-barang yang telah dirusaknya.
Pemuda itu mengerutkan kening, berusaha menerima seluruh ledakan emosi dari si kakek dengan tabah. Ia sungguh kecewa dengan sikap si kakek terhadap dirinya. Si kakek bukan tidak tahu, pekerjaan mengantarkan kerajinan tanah liat itu pekerjaan yang berat. Apalagi ia bukan sengaja merusak barang-barang itu, tetapi ia ditabrak mobil. Si kakek sama sekali tidak prihatin kepadanya, justru menyalahkannya. Sungguh tidak setimpal dengan perhatian yang pernah ia berikan kepada si kakek, ketika si kakek yang mengalami kecelakaan beberapa bulan lalu. Mengapa? Karena sekarang ia digaji dengan uang?! Ya, bila hari ini statusnya adalah membantu si kakek tanpa digaji, tentu si kakek akan balik memunta maaf kepadanya, dan menawarkannya berbagai jenis obat untuk mengobati lukanya.
Ah, salah siapa? Pemuda itu menyesal. Ia telah mempertaruhkan nyawanya dengan menerima pekerjaan yang di luar batas kemampuannya. Ia mewakili si kakek untuk ditabrak mobil. Padahal, dia bukan tak memiliki pekerjaan lain yang lebih menjanjikan. Segalanya gara-gara ‘si uang’...
*
Kita sering mendengar, manusia tidak seperti mesin yang tidak merasakan lelah. Kenyataannya, mesin juga adalah barang yang perlu diistirahatkan agar tidak rusak, apalagi manusia. Bekerja itu baik. Tetapi, manusia memiliki batas kemampuan untuk bekerja.
*
Lea Willsen
Awal Maret, 2012
Harian Analisa, TRP, 20 Januari 2013
Foto: Int
Posted by Art Dimension
Art Dimension Updated at: 12:49 PM

Monday, October 8, 2012

Sutra Bakti Anak Kepada Orangtua Part 4/4



Lihat juga "Sabda Buddha: Sutra Bakti Anak Kepada Orangtua Part 3/4"
 .
"Sutra Bakti Anak Kepada Orangtua" merupakan salah satu sabda Buddha yang telah melegenda, serta amat bermanfaat mengajarkan kita semua untuk menumbuhkan rasa kewajiban agar senantiasa berbakti dan mengingat jasa-jasa besar orangtua. Melalui video animasi menarik dengan total durasi 44 menit—yang dibagi menjadi 4 bagian—ini, kita dapat mengetahui serta merenungkan betapa besarnya budi serta pengorbanan mereka dalam melahirkan, menjaga, mendidik, serta mengasihi kita tanpa mengenal batas.

Video ini merupakan video yang diambil dari VCD kiriman seorang rekan. Untuk membalaskan budi besar orangtua kita, serta turut membantu dalam menumbuhkan rasa kewajiban agar senantiasa berbakti dan mengingat jasa-jasa besar orangtua kepada yang lainnya, mohon sebarkan video ini kepada yang lainnya. Video ini tidak terikat dengan hak cipta yang dipegang oleh pihak mana pun, dan bebas bagi siapa saja untuk turut menyebarkannya dalam berbagai bentuk.

Apabila Anda menjalankan video ini melalui desktop, Anda dapat menyesuaikan audio-nya menjadi berbahasa Indonesia atau Mandarin, cukup dengan mematikan fungsi salah satu speaker. Speaker kiri untuk bahasa Indonesia. Speaker kanan untuk bahasa Mandarin.

Semoga semua orangtua berbahagia...

Semoga semua makhluk berbahagia...

Posted by Art Dimension
Art Dimension Updated at: 8:57 PM

Saturday, October 6, 2012

Sutra Bakti Anak Kepada Orangtua Part 3/4



Lihat juga "Sutra Bakti Anak Kepada Orangtua Part 2/4".

"Sutra Bakti Anak Kepada Orangtua" merupakan salah satu sabda Buddha yang telah melegenda, serta amat bermanfaat mengajarkan kita semua untuk menumbuhkan rasa kewajiban agar senantiasa berbakti dan mengingat jasa-jasa besar orangtua. Melalui video animasi menarik dengan total durasi 44 menit—yang dibagi menjadi 4 bagian—ini, kita dapat mengetahui serta merenungkan betapa besarnya budi serta pengorbanan mereka dalam melahirkan, menjaga, mendidik, serta mengasihi kita tanpa mengenal batas.

Video ini merupakan video yang diambil dari VCD kiriman seorang rekan. Untuk membalaskan budi besar orangtua kita, serta turut membantu dalam menumbuhkan rasa kewajiban agar senantiasa berbakti dan mengingat jasa-jasa besar orangtua kepada yang lainnya, mohon sebarkan video ini kepada yang lainnya. Video ini tidak terikat dengan hak cipta yang dipegang oleh pihak mana pun, dan bebas bagi siapa saja untuk turut menyebarkannya dalam berbagai bentuk.

Apabila Anda menjalankan video ini melalui desktop, Anda dapat menyesuaikan audio-nya menjadi berbahasa Indonesia atau Mandarin, cukup dengan mematikan fungsi salah satu speaker. Speaker kiri untuk bahasa Indonesia. Speaker kanan untuk bahasa Mandarin.

Semoga semua orangtua berbahagia...

Semoga semua makhluk berbahagia...





Lihat juga "Sutra Bakti Anak Kepada Orangtua Part 4/4".

Posted by Art Dimension
Art Dimension Updated at: 2:54 PM

Sutra Bakti Anak Kepada Orangtua Part 2/4



Lihat juga "Sutra Bakti Anak Kepada Orangtua Part 1/4".

"Sutra Bakti Anak Kepada Orangtua" merupakan salah satu sabda Buddha yang telah melegenda, serta amat bermanfaat mengajarkan kita semua untuk menumbuhkan rasa kewajiban agar senantiasa berbakti dan mengingat jasa-jasa besar orangtua. Melalui video animasi menarik dengan total durasi 44 menit—yang dibagi menjadi 4 bagian—ini, kita dapat mengetahui serta merenungkan betapa besarnya budi serta pengorbanan mereka dalam melahirkan, menjaga, mendidik, serta mengasihi kita tanpa mengenal batas.

Video ini merupakan video yang diambil dari VCD kiriman seorang rekan. Untuk membalaskan budi besar orangtua kita, serta turut membantu dalam menumbuhkan rasa kewajiban agar senantiasa berbakti dan mengingat jasa-jasa besar orangtua kepada yang lainnya, mohon sebarkan video ini kepada yang lainnya. Video ini tidak terikat dengan hak cipta yang dipegang oleh pihak mana pun, dan bebas bagi siapa saja untuk turut menyebarkannya dalam berbagai bentuk.

Apabila Anda menjalankan video ini melalui desktop, Anda dapat menyesuaikan audio-nya menjadi berbahasa Indonesia atau Mandarin, cukup dengan mematikan fungsi salah satu speaker. Speaker kiri untuk bahasa Indonesia. Speaker kanan untuk bahasa Mandarin.

Semoga semua orangtua berbahagia...

Semoga semua makhluk berbahagia...

 


Posted by Art Dimension
Art Dimension Updated at: 2:49 PM

Sutra Bakti Anak Kepada Orangtua Part 1/4



"Sutra Bakti Anak Kepada Orangtua" merupakan salah satu sabda Buddha yang telah melegenda, serta amat bermanfaat mengajarkan kita semua untuk menumbuhkan rasa kewajiban agar senantiasa berbakti dan mengingat jasa-jasa besar orangtua. Melalui video animasi menarik dengan total durasi 44 menit—yang dibagi menjadi 4 bagian—ini, kita dapat mengetahui serta merenungkan betapa besarnya budi serta pengorbanan mereka dalam melahirkan, menjaga, mendidik, serta mengasihi kita tanpa mengenal batas.

Video ini merupakan video yang diambil dari VCD kiriman seorang rekan. Untuk membalaskan budi besar orangtua kita, serta turut membantu dalam menumbuhkan rasa kewajiban agar senantiasa berbakti dan mengingat jasa-jasa besar orangtua kepada yang lainnya, mohon sebarkan video ini kepada yang lainnya. Video ini tidak terikat dengan hak cipta yang dipegang oleh pihak mana pun, dan bebas bagi siapa saja untuk turut menyebarkannya dalam berbagai bentuk.

Apabila Anda menjalankan video ini melalui desktop, Anda dapat menyesuaikan audio-nya menjadi berbahasa Indonesia atau Mandarin, cukup dengan mematikan fungsi salah satu speaker. Speaker kiri untuk bahasa Indonesia. Speaker kanan untuk bahasa Mandarin.

Semoga semua orangtua berbahagia...

Semoga semua makhluk berbahagia...


Lihat juga "Sutra Bakti Anak Kepada Orangtua Part 2/4".

Posted by Art Dimension
Art Dimension Updated at: 2:45 PM

Sunday, September 30, 2012

Keluarga, Mutiara Tiada Tara




Oleh: Liven R
Harta yang paling berharga adalah keluarga
Istana yang paling indah adalah keluarga
Puisi yang paling bermakna adalah keluarga
Mutiara tiada tara adalah keluarga…

LIRIK lagu di atas pasti tak asing lagi bagi Anda yang pernah menggemari sinetron Keluarga Cemara yang pernah populer di tahun ’90-an dan ditayangkan oleh stasiun televisi RCTI.
Film yang diangkat dari novel karya Arswendo Atmowiloto tersebut agaknya cukup membekas di hati penggemarnya (bahkan hingga hari ini) karena telah mengusung tema tentang kehidupan sebuah keluarga—keluarga Cemara—yang amat sederhana (dengan Abah seorang penarik beca) namun selalu hidup sesuai norma, saling menyayangi, rukun, dan bahagia.
Keluarga. Ya, siapa yang tak mengenal arti kata ‘keluarga’? Sebuah komunitas kecil yang terdiri dari orangtua dan anak-anak, itulah arti keluarga secara sederhana. Namun sesungguhnya, sebuah perkumpulan kecil yang terdiri dari orang-orang yang (seharusnya) saling menyayangi, mendukung dalam kebaikan, membimbing, menjaga, dan menghormati satu sama lainnya, itulah arti keluarga sesungguhnya.
Menjadi hal yang ironi ketika orang-orang bercerita mereka memiliki keluarga, namun dalam ceritanya, mereka justru tak mengenal arti keluarga yang sesungguhnya. Terhadap orang-orang yang mereka sebut keluarga, terdapat begitu banyak perselisihan, pertengkaran, amarah, bahkan sebagian telah berakhir dengan ‘putus hubungan keluarga’.
 Mengapa hal tersebut dapat terjadi? Apa saja pemicu retaknya hubungan kekeluargaan hingga menimbulkan konflik berkepanjangan? Dan, sulitkah mengupayakan kehidupan keluarga yang harmonis?
Kepedulian
Dalam hidup, tak terelakkan masalah terkadang menghampiri kita, baik tentang pekerjaan, kesehatan, keuangan, dan sebagainya. Ketika menemui masalah, apa pun itu, izinkanlah keluarga sebagai pihak pertama yang mengetahuinya. Biasakanlah untuk berbagi cerita apa saja kepada keluarga. Dengan demikian, kedekatan antar-anggota keluarga akan selalu terbina.
Sejak dulu, bukan cerita yang asing lagi jika kita mendengar seseorang mengakui bagaimana dia begitu membenci saudaranya sendiri sebagai akibat dari perebutan harta warisan, kekayaan, maupun jabatan.
Jika Anda berkesempatan mengenal kedua belah pihak bersengketa, maka Anda akan mendengar bahwa di antara mereka sama-sama merasa benar/berhak dan saling menyalahkan. Masalahnya, tak seorang pun yang mau mengakui bahwa sesungguhnya mereka sama-sama sudah merasa ‘payah’ menghadapi ‘perang’ tersebut. Menyedihkan bukan?
Profesional muda, kebajikan dan kehangatan hubungan persaudaraan adalah hal-hal yang tak ternilai dengan uang. Jika Anda diberi rejeki berlebih, bersyukurlah. Dalam persaudaraan, yang berlebih membantu yang kekurangan adalah hal yang sudah semestinya. Sebab, banyak fakta menunjukkan, memberi tidak akan memiskinkan. Memberi akan memperkaya kegembiraan dan kehangatan batin. Dan, bukankah ketika kita sama-sama meninggalkan dunia ini, harta dan kekuasaan tak ikut dibawa? Lantas pantaskah harta dan kekuasaan menjadikan hubungan kekeluargaan renggang?
Kejujuran dan kesetiaan
“Dia tak pengertian!” Terlalu sering sudah kita mendengar keluhan seperti ini keluar dari mulut pasangan suami-istri yang sedang bertengkar. Terlalu idealis memang jika ada pasangan suami-istri yang tak pernah bertengkar, ya? Namun, alih-alih selalu menuntut untuk dimengerti, sudahkah Anda menjadi seorang yang penuh pengertian untuk pasangan Anda?
Sebuah riwayat pernikahan seseorang pernah berkisah; ketika menikah, suami-istri tersebut adalah pasangan yang belum memiliki apa-apa. Bersama, mereka berjuang membuka usaha dari nol hingga mampu membeli rumah mewah dan memiliki segalanya. Namun, masalah mulai muncul. Sang suami mulai merasa tak cukup hanya memiliki seorang istri. Sementara sang istri mulai merasa tanpa suaminya, masih banyak lelaki lain yang bisa membahagiakannya. Pertengkaran demi pertengkaran pun akhirnya jatuh pada pilihan perceraian. Rumah dan anak-anak kemudian menjadi harta yang harus dibagi secara hukum.
Mungkin kita tak pernah mampu mengerti apa sesungguhnya pemicu retaknya hubungan pernikahan seseorang. Namun, jika berpaling kembali pada usaha dan perjuangan yang pernah diupayakan bersama, tidakkah sebuah keluarga yang utuh sudah sewajibnya dipertahankan, apa pun alasannya?
Sekadar berbagi, ketika penulis berkesempatan mengenal dan mendidik anak dengan latar keluarga yang memiliki riwayat perceraian orangtuanya, mereka adalah anak-anak yang ‘tidak mudah’. Tekanan psikologi akibat perceraian orangtua, pengasuhan oleh pihak lain selain orangtua (pasca perceraian orangtua) sering menyebabkan anak tumbuh dalam karakteristik yang kasar, sulit diatur, pembangkang, krisis kepercayaan, dan berpotensi menjadi ‘remaja nakal’. Sebuah fenomena yang amat menyedihkan!
Agaknya gambaran singkat dari dampak buruk akibat tidak utuhnya sebuah keluarga karena perceraian, dapat menjadikan kita semua (yang telah menikah) untuk sebisa mungkin bertanggung jawab terhadap keluarga, mengekang diri dari hal-hal yang tak semestinya, selalu berpedoman pada rambu-rambu pernikahan, serta selalu jujur dan setia kepada pasangan.
Jadi, kata ‘pengertian’ hendaklah bukan menjadi sebuah tuntutan yang selalu kita harapkan dari pasangan, melainkan adalah sebuah usaha. Usaha dari diri kita untuk pasangan dan keluarga kita.
Saling membantu, menyayangi, dan menghormati
Profesional muda, bagaimana cara Anda dan keluarga menyelesaikan pekerjaan di rumah Anda?
Percaya atau tidak, di keluarga penulis, mencuci piring kerap menimbulkan masalah! Ya. Masalahnya, kami (penulis bersama kakak dan Mama) selalu berebutan untuk mencuci piring-piring kotor yang ada. Hehehe….
Siapa pun yang lebih dahulu mencapai tempat cucian, akan merasa bagaikan pemenang. Tak jarang banyak canda dan tawa yang mengalir tatkala kami berebutan dengan saling mengaku sebagai pencuci terbersih untuk ‘merayu’ agar yang lain menyingkir (baca: dapat beristirahat).
Ini tentunya bukan tentang hak maupun kewajiban dalam membagi pekerjaan di rumah, namun lebih kepada adanya sebentuk kasih dan kepedulian yang mampu menghangatkan jiwa meski hanya sesederhana sebuah pekerjaan mencuci piring saja.
Mungkin terdengar konyol, tapi jika Anda ingin merasakan betapa indahnya sensasi suatu kebersamaan, tak ada salahnya Anda mencoba berebut cucian piring, tumpukan baju untuk dilipat, atau bersama-sama membayar suatu barang yang dibeli (meski bukan barang kebutuhan sendiri) di rumah Anda mulai hari ini.
Dapat membantu meringankan beban saudara dan orangtua adalah suatu berkah. Masa-masa kebersamaan dengan keluarga adalah sesuatu yang tak kekal. Ketika kita masih diberi-Nya kesempatan bersama, hargailah selalu jodoh kekeluargaan yang ada.
Keegoisan membarakan amarah dan menghancurkan hubungan kekeluargaan. Pengertian dan kasih sayang mampu menumbuhkan semangat hidup untuk menghadapi berbagai cobaan dan kesulitan hidup.

*E-mail: lie.liven@gmail.com
Harian Analisa—TRP, hlm. 20, edisi 30 September 2012


Posted by Art Dimension
Art Dimension Updated at: 3:31 PM

Entri Populer