Tuesday, July 3, 2012

Cara Membuat Subtitle untuk Video (Part 2): Menyatukan File SRT dan Video

Sebagai kelanjutan dari tutorial sebelumnya—Cara Membuat Subtitle untuk Video (part1): Format Penyusunan File SRT—maka pada part 2 ini kita akan mengulas cara untuk menyatukan file srt dan video—yang sebelumnya masih dalam kondisi terpisah—agar lebih nyaman dipergunakan, serta dapat dipindahkan ke ponsel, PSP, iPod, atau perangkat lainnya (jika mau) tanpa harus bergantung pada file srt yang terpisah.
Persiapkan item yang kita butuhkan terlebih dulu. Penulis masih menggunakan video sebelumnya—video yang di-download dari Youtube dengan alamat  http://www.youtube.com/watch?v=nRbefCGnQ5E—dan file srt yang dapat didownload dari link ini. Tentu Anda boleh menggunakan video serta file srt Anda sendiri jika ada.
Masukkan file srt serta video ke dalam folder yang sama, dengan nama yang sama. Contoh: “Ashita e no Sanka.mp4” dan “Ashita e no Sanka.srt”. Kali ini kita membutuhkan software tambahan, yakni iSkysoft Video Converter. Maaf, di sini penulis tidak menyediakan software tersebut, dengan pertimbangan untuk tidak melakukan pelanggaran hak cipta. Silakan Anda cari sendiri atau langsung mengunjungi situs resminya di sini.
Instal dan jalankan software. Untuk versi yang berbeda, kemungkinan akan ada sedikit tampilan yang berbeda. Klik “Add Video”, dan pilih video yang sebelumnya telah kita persiapkan. Setelah video berhasil ditambahkan ke dalam software, klik “Edit”, kemudian berpindah pada tab “Plug-in Subtitle”. Karena sebelumnya kita telah memasukkan video dan file srt bersangkutan ke dalam satu folder yang sama, maka file srt akan secara otomatis terbaca.


Centang “Enable the plug-in subtitle” untuk menampilkan subtitle. Centang juga “Enable customized style” untuk menentukan posisi subtitle yang dikehendaki. Klik tombol huruf “T”, maka kita dapat bebas memilih jenis, ukuran, serta warna font yang dikehendaki. Bila sudah selesai, klik “OK”.


Kita akan kembali ke layar utama iSkysoft Video Converter. Tentukan jenis file serta lokasi penyimpanan video. Anda juga dapat secara manual mengatur ukuran serta kualitas video (jika perlu) dengan tombol “Settings” yang tersedia. Bila sudah selesai, klik “Start”.




























Mungkin Anda juga tertarik untuk mempelajari Cara Menggabungkan Video.



2L, 2012
Posted by Art Dimension
Art Dimension Updated at: 3:59 PM

Monday, July 2, 2012

Cara Membuat Subtitle untuk Video (Part 1): Format Penyusunan File SRT

Persiapkan terlebih dulu video serta teks yang nantinya akan kita tampilkan sebaris demi sebaris pada video. Sebagai contoh, penulis menggunakan video yang di-download dari Youtube, dengan URL http://www.youtube.com/watch?v=nRbefCGnQ5E, dan teks (lirik lagu) yang dicari dengan mesin pencari Google. Anda boleh menggunakan video dan teks lain.
Agar dapat menentukan letak setiap baris subtitle sesuai pada durasi video yang dikehendaki, kita harus sambil menyusun subtitle sambil memutar video bersangkutan. Gunakan tombol pause dan play agar dapat mencatat durasi yang tertera pada pemutar musik.


Gunakan notepad—buka dari menu start—untuk menyusun subtitle. Subtitle disusun dengan format empat jenis barisan yang masing-masing memiliki fungsi yang berbeda. Baris pertama berisi angka untuk mengendalikan urutan pemunculan subtitle. Baris kedua berisi durasi awal untuk memunculkan subtitle serta durasi akhir di mana subtitle harus menghilang kembali. Baris ketiga berisi teks yang hendak ditampilkan. Baris terakhir cukup berupa ruang kosong yang berfungsi sebagai penutup. Kerjakan secara seksama. Anda harus memperhatikan setiap tanda baca dengan benar. Contohnya bisa diunduh di sini. Klik kanan file tersebut, dan jalankan dengan notepad.


Apabila keseluruhan proses penyusunan subtitle telah selesai, save file tersebut. Pada “File name”, ketik “srt” di bagian akhir. Contoh: Ashita e no Sanka.srt. Pada “Save as type”, pilih “All File”. Pada “Encoding”, gunakan “ANSI”. Namun, apabila subtitle yang kita buat menggunakan teks seperti Jepang atau Mandarin, gunakan “UTF-8” pada “Encoding”. Sedikit catatan, untuk membuat subtitle dengan teks Jepang atau Mandarin—sekalipun kita telah memilih UTF-8—dibutuhkan dukungan dari sistem operasi komputer/laptop bersangkutan juga. Jika Anda tidak begitu memahami kemampuan sistem operasi yang tengah dipergunakan, sebaiknya cukup membuat subtitle ‘abc standard’ dengan jenis encoding ANSI.


Sampai pada tahap ini—meskipun file subtitle masih terpisah dari file video—namun Anda telah dapat menjalankannya secara bersamaan. Anda cukup memberi kedua file tersebut nama yang sama—misalkan “Ashita e no Sanka.mp4” dan “Ashita e no Sanka.srt”—kemudian menempatkannya pada folder yang sama, dan menjalankan salah satunya (yang satu lagi akan secara otomatis turut dijalankan).
Untuk menyatukan kedua file tersebut, kita akan mengulasnya pada “Cara Membuat Subtitle untuk Video (Part 2): Menyatukan File SRT dan Video”.
*




2L, 2012

Posted by Art Dimension
Art Dimension Updated at: 4:05 PM

Wangsit Sang Paranormal


Oleh: Liven R


BUKU yang berisi simbol-simbol gambar itu telah dibaliknya berulang kali. Terlihat gambar seorang wanita dengan latar gerhana bulan. Pada halaman lain, ada gambar seorang pria memegang bunga mawar yang telah layu, dan tangan pria tersebut meneteskan darah akibat tusukan duri pada tangkai mawar tersebut.

“Tidak baik! Tidak cocok!” ucap wanita tua itu berulang kali diikuti gelengannya.

Aku, mama, dan nenek saling memandang.

“Gadis ini bintang sial. Auranya redup. Tanggal lahir kalian tak cocok, bahkan bertentangan! Jika dipaksakan bersama, akan ada kemalangan bertubi-tubi!”

***

“AKU sangat mencintai Lucy, Ma. Dia gadis yang baik...,” melasku untuk kesekian kalinya.

“Bukan cinta yang paling utama! Yang penting tanggal, bulan, tahun, dan jam lahir kalian harus cocok. Jika tidak, Mama tak bisa membayangkan betapa mengerikan akibatnya kalau kalian memaksa untuk bersama. Apa kamu belum mengerti apa yang kemarin dikatakan Bi Gunawi?”

“Selama berpacaran dengan Lucy, tak ada kejadian buruk apa pun yang menimpa kami. Bi Gunawi boleh meramal, kita tak perlu memercayainya, Ma...”

“Jangan membandel, Roy,” kali ini nenek angkat bicara. “...dulu Tante Anne juga sepertimu, tak percaya ramalan. Akhirnya apa? Baru setahun menikah, Om Junaedi meninggal karena kecelakaan, dan Tante Anne menjadi janda. Kalau saja dulu tantemu itu mau mendengarkan nasehat Bi Gunawi dan menikah dengan pria lain, tentu rumah tangganya tak akan begitu mengenaskan...,” ucap nenek lagi panjang lebar.

Sejak dulu, keluarga besar kami, terutama mama dan nenek, memang sangat memercayai hal-hal yang berbau ramalan. Pindah rumah, pernikahan, buka usaha baru, hingga pemberian nama bayi, semua dikonsultasikan kepada Bi Gunawi, cenayang yang berusia kira-kira enam puluh tahun itu. Selama ini, aku tak peduli dengan semua sikap fanatik mama dan nenek terhadap ramalan-ramalan Bi Gunawi. Tapi sekarang?

Kali ini giliran hubunganku dengan Lucy yang dikonsultasikan. Awalnya, aku mau ikut mama dan nenek mengunjungi Bi Gunawi karena berharap Bi Gunawi akan mengatakan hal baik tentang hubunganku dengan Lucy. Tak kusangka Bi Gunawi justru meramalkan hal sebaliknya.

“Tinggalkan Lucy sebelum hubungan kalian lebih jauh lagi. Jika nanti kamu mengenal seorang gadis lain, jangan lupa minta tanggal dan jam lahirnya, biar dilihat Bi Gunawi dulu sebelum melanjutkan hubungan,” ujar mama lagi.

Segampang itu mama mengeluarkan perintah. Tak tahukah mama ini menyangkut perasaan? Alasan apa yang harus kukatakan kepada Lucy untuk mengakhiri hubungan kami?

***

“JIKA kali ini Bi Gunawi juga meramalkan tak cocok, biar aku membujang saja seumur hidup!” ucapku menyindir.

Sudah dua tahun aku berpisah dengan Lucy. Semenjak itu juga aku sudah mencoba menjalin hubungan dengan empat orang gadis lainnya. Semua hubunganku tersebut kandas di tangan Bi Gunawi—kalau tak mau dikatakan kandas di tangan mama dan nenek.

Kali ini, mama dan nenek akan kembali mengunjungi Bi Gunawi untuk mengonsultasikan hubunganku dengan Imelda, gadis yang lebih tua tiga tahun dariku.

Perkenalanku dengan Imelda terjadi dikarenakan Imelda adalah anak dari teman baik mama. Karena hubungan kedua orangtua kami sudah bagaikan saudara, mama pun berniat meningkatkannya lagi menjadi hubungan besan dengan memintaku mendekati Imelda. Selain mengagumi wajah Imelda yang cantik, sesungguhnya aku tak begitu menyukai dia.

Sejujurnya, aku ragu untuk kembali menjalin hubungan dengan gadis mana pun. Sebab, yang selalu terjadi kemudian adalah aku harus mengarang berbagai alasan untuk memutuskan hubungan kami dan menyakiti gadis pilihanku setelah Bi Gunawi menggelengkan kepala.

“Yang akan menjalani rumah tanggaku adalah aku, bukan Bi Gunawi! Biarkan aku memilih dan menilai sendiri gadis yang akan menjadi istriku, Ma,” ujarku suatu ketika dalam aksi protesku. Namun, bukan mamaku kalau tak menerapkan ramalan Bi Gunawi dalam segala hal.

Setelah sekian lama menunggu, akhirnya aku bisa melihat anggukan Bi Gunawi.

“Bagus... Bagus...! Sangat cocok! Kalian akan bahagia jika bersama. Selain semua tanggal lahir cocok, istri yang lebih tua akan membawa hoki bagi kalian. Harta kalian akan semakin meningkat. Dan, usaha akan maju pesat jika keluarga kalian mempunyai menantu seperti ini,” ucap Bi Gunawi.

Mama dan nenek terlihat berseri-seri. Aku tak tahu harus gembira atau bersedih. Bukankah sesungguhnya Imelda bukan pilihanku?

“Kalau begitu, cobalah Bibi carikan tanggal yang cocok untuk pernikahan mereka,” ucap nenek.

“Hah?!” Aku sungguh tercengang demi mendengar kalimat terakhir nenek.

“Iya... Iya... Coba dicarikan,” imbuh mama lagi sambil menyenggol tanganku mengisyaratkan agar aku tak membantah.

Segera Bi Gunawi membolak-balik buku tebal di hadapannya dan sibuk menghitung sambil berkomat-kamit.

***

“KALIAN sungguh keterlaluan! Tak bisakah kalian mendengarkan pendapatku sebelum memutuskan urusanku?” Keluar dari kediaman Bi Gunawi, aku tak dapat lagi menahan emosiku.

“Kami lakukan semua ini untuk kebaikanmu, Roy. Apa kamu pikir Mama dan nenek akan mencelakakanmu?”

“Tapi, Ma, aku sama sekali tak ada perasaan apa pun terhadap Imelda. Bagaimana bisa menikahi dia tanpa cinta?”

“Cinta bisa tumbuh belakangan. Asalkan kamu mau, kamu bisa belajar mencintai dia mulai dari sekarang...”

“Jika aku tak mau?” tantangku dengan emosi yang belum sedikit pun mereda.

“Jika kamu tak mau, maka kamu akan membujang selamanya. Bukankah itu katamu tadi?” Nenek menjawab dengan senyumnya. “Apa kekurangan Imelda? Cantik dan baik. Kamu seharusnya gembira,” ujar nenek lagi.

Huh! Aku seharusnya gembira? Siapa yang bisa mengajariku bagaimana caranya? Pedal gas segera kuinjak kuat tatkala teringat satu setengah tahun lagi aku akan menjadi pengantin pria ‘paling bahagia’ sedunia.

***

“ROY, cepat mandi! Antarkan aku ke sauna nanti!” Suara lengking Imelda mengagetkanku. Kulirik jam dinding, pukul 17.40. Rasanya tubuhku lelah sekali setelah seharian menjaga toko tadi.

“Rooyyy...!” Terdengar kembali teriakan Imelda dari dalam kamar.

Kumatikan televisi dan bangkit dengan malas menuju ke kamar.

“Harus berapa kali aku memanggilmu, hah? Seperti anak kecil saja!” Imelda memandangku dari pantulan cermin riasnya.

Aku tak perlu menjawab agar tak terjadi pertengkaran lagi seperti kemarin. Semenjak menikah dengan Imelda tiga tahun lalu, kehidupanku memang sudah bagaikan di neraka. Mungkin karena usiaku yang lebih muda darinya, Imelda tak pernah menghormatiku layaknya seorang suami. Itulah yang kurasakan selama ini.

“Oh ya, jangan lupa sediakan uang satu setengah juta rupiah. Aku akan mendaftar klub fitness dengan Ivonna,” ucap Imelda sambil mengoleskan lipstik ke bibirnya.

“Bukankah kemarin baru kuberi dua juta? Sudah habis?”

“Tentu saja! Apa kamu kira dua juta itu sangat besar? Hanya untuk makan-makan dan shopping saja sudah habis, tuh...!”

Setelah menghela nafas, aku segera meraih handuk dan masuk ke kamar mandi. Uang, uang, dan uang! Tak adakah hal lain yang diributkan Imelda selain uang?

Jika hendak ditotal, setiap bulannya aku harus mengeluarkan lebih dari sepuluh juta rupiah hanya untuk biaya Imelda mengikuti program fitness, yoga, renang, perawatan wajah, tubuh, kuku hingga biaya masuk-keluar butik dan arisannya.

Rasanya semenjak menikah dengannya, aku belum melihat kekayaan keluarga kami meningkat seperti yang diramalkan Bi Gunawi. Semuanya biasa-biasa saja. Yang ada, aku harus bekerja dua kali lebih keras agar dapat memenuhi semua kebutuhannya itu. Yang lebih parah, seluruh kedaulatanku rasanya telah dijajah Imelda. Jika supir tak masuk, akulah penggantinya. Jika aku menolak karena sibuk, pastilah di antara kami akan terjadi perang dingin.

***

“JANGAN membuatku marah, Roy! Aku sudah berjanji kepada teman-temanku besok akan menyerahkan uang panjar lima juta rupiah itu. Jika aku tak menyerahkan uang itu, teman-temanku akan mengira aku tak
sanggup jalan-jalan ke Australia. Mukaku harus ditaruh di mana, hah?!” Pintu ruang tamu dibanting keras.

Aku mengikuti Imelda dari belakang sehabis menjemputnya dari sauna.

“Kenyataannya saat ini aku memang tak sanggup memberimu, Mel. Jika begini terus, usaha kita bisa bangkrut. Toko kita akan tutup. Zaman sudah susah begini, kita seharusnya bisa lebih berhemat.” Aku berusaha memberi pengertian kepada Imelda.

“Aku tak mau tahu! Itu urusanmu! Jika toko kita sampai tutup, itu karena kamu tak berguna. Apa pun, besok pagi uang lima juta itu sudah harus ada di tanganku, titik!” Selesai berucap, Imelda segera masuk ke kamar dan membanting pintu sekeras-kerasnya.

Sesaat, mama dan nenek keluar dari kamar mereka dan memandang iba kepadaku.

“Ada yang salah... Pasti ada yang salah hingga kalian berdua terus bertengkar setiap hari,” ucap mama pelan.

“Besok, Mama akan menanyakan kepada Bi Gunawi bagaimana supaya kalian berdua bisa rukun...,” lanjut
mama lagi.

Ah, ternyata mama belum juga sadar meski aku telah menjadi korban selama ini. Bi Gunawi... Bi Gunawi..., mungkinkah besok kamu akan memberitahu mama hari yang baik dan cocok untuk perceraianku dengan Imelda?

Kuhempaskan tubuhku yang lelah ke atas sofa dan kupejamkan mataku. Mendadak bayangan Lucy muncul di depan mataku. Ya, aku memang selalu teringat pada Lucy, cinta pertamaku, setiap kali bertengkar dengan Imelda.

***

Medan, medio Juni 2011
*E-mail: lie.liven@gmail.com
*blog: myartdimension.blogspot.com
(Harian Analisa, Minggu, 27 Mei 2012)
Posted by Art Dimension
Art Dimension Updated at: 1:55 PM

Sunday, July 1, 2012

Ini Tidak Sekadar Hiburan!



Segmen awal dari konser itu amat meriah dan menyentuh emosi, diiringi alunan-alunan musik yang dimainkan dengan indah. Tidak hanya si penyanyi yang terlihat bersemangat untuk menghibur para fansnya, tetapi para pemain band juga terlihat bekerja sama dengan baik. Sepasang tangan mereka amat bertenaga dalam mengerjakan tugas mereka masing-masing. Dan, setiap sebuah lagu berakhir, para penonton pun bertepuk tangan dengan keras. Kalau saja saya juga di sana--duduk di bangku penonton--sudah pasti saya juga turut bertepuk tangan. Tetapi..., ternyata saya sekadar menonton konser itu dari situs sejenis Youtube. Gratis!

Kemudian, jelang segmen pertengahan hingga akhir dari konser itu, pertunjukan itu diwarnai dengan airmata. Untuk beberapa lagu yang disuguhkan, terdengar dengan jelas, beberapa kali si penyanyi kesulitan mengatur nafas untuk menghasilkan nada yang semestinya. Konsentrasinya sempat buyar, meskipun pada akhirnya--syukur--dapat teratasi dengan baik. Apa sebabnya?

Ternyata, konser itu sekaligus menjadi hari bagi penyanyi itu untuk mengumumkan bahwa selepas konser itu ia tak akan menetap di kota Tokyo lagi, dan akan pulang kembali ke negara asalnya, China. Padahal, Tokyo jelas adalah kota yang penuh kenangan selama kurun waktu tiga tahun terakhir, di mana sedari awal penyanyi itu merintis karirnya. Menjauh dari Tokyo, berhenti bekerja sama dengan rumah produksi, seolah 'bunuh diri'!

Ada sumber yang menyebutkan, dugaan kuat disebabkan angka penjualan album terakhir yang menurun drastis, tak sesuai dengan harapan.

Begitulah nasib artis pada umumnya. Nama mereka populer hingga ke mana-mana, tetapi terkadang tetap saja harus menghadapi situasi down. Mereka terkenal bukan karena banyaknya jumlah album yang terjual, tetapi banyaknya 'fans' yang mengenal mereka dari situs sejenis Youtube (seperti saya sendiri), dan juga disc bajakan (untuk yang satu ini saya tidak termasuk). Boleh dikatakan, para artis sebenarnya korban.

Di Indonesia, sebagai warga kitalah yang paling tahu, disc bajakan jauh lebih mudah dibeli di mana pun, dibandingkan dengan disc orisinal yang hanya dapat dibeli dari tempat-tempat tertentu. Harganya pun jelas beda jauh. Lebih ironisnya, setelah membayar lima atau enam ribu kepada penjual, kita pun sama sekali tak sadar kalau kita telah turut dalam suatu tindakan kejahatan yang merugikan pihak tertentu. Yang ada di pikiran kita pastilah hanya kita telah mengeluarkan uang, dan berhak memiliki barang yang kita inginkan. Ada lagi kalimat yang kita tambahkan biasanya ketika membeli barang itu; kalau pulang nanti disc-nya macet boleh tukar ya, Mas?!

Hayo, siapa di antara kita yang sering tak sadar telah melanggar hukum dengan membeli barang bajakan dan masih bersikap seolah kita adalah pelanggan yang wajib dilayani seperti raja? Pasti banyak yang pernah mengucapkan kalimat di atas kepada para penjual disc bajakan, 'kan?! Hmm...

Sama halnya juga dengan mengunduh video di internet dari sumber yang melanggar hak cipta. Kita sering berpikir bahwa aktivitas menyenangkan itu adalah bagian dari perkembangan teknologi yang selayaknya kita pelajari dan manfaatkan sebisa mungkin. Padahal--lagi-lagi--kita telah turut dalam suatu tindakan kejahatan yang merugikan pihak tertentu.

Kasus karya para artis yang dibajak sebenarnya juga tak jauh berbeda dari kasus merek-merek dagang yang ditiru pihak lain. Sakit hati yang dirasakan sama, bedanya artis lebih benar-benar tak dapat berkutik untuk menuntut hak mereka. Di mana-mana mereka menjadi korban tanpa mereka ketahui. Di sisi lain mereka adalah artis yang dituntut memiliki image yang baik.

Gara-gara image baik jugalah, kita menjadi kurang menyadari bahwa di balik senyum para artis, mereka sebenarnya juga manusia biasa yang berkarir, tidak semata ditakdirkan ada untuk menghibur kita secara gratis. Kita cenderung melihat gerak-gerik artis sebagai hiburan, tetapi untuk mereka itu adalah usaha keras. Salah-salah karir mereka bisa ambruk juga, seperti pedagang-pedagang yang gulung tikar.

Coba kita menggali fakta lebih dalam. Tidak sedikit artis yang sekadar 'gulung tikar', tetapi bahkan mengalami depresi dan memutuskan mengakhiri hidup. Sebut saja dara cantik, Han Chae Won yang melakukan aksi bunuh diri di rumahnya pada 25 Agustus 2011. Pesan terakhir tertulis, "Saya benar-benar tak ingin berkomentar. Saya hanya ingin menghentikan penderitaan dan berhenti menangis. Dan ini bisa diselesaikan jika saya meraih kesuksesan, tapi...". Selain Han Chae Won, terdapat juga sederet artis Korea lain; Choi Jin Sil (2 Oktober 2008), Jang Ja Yeon (7 Maret 2009), Song Ji Seon (23 Mei 2011), dan yang terakhir Jung Ah Yool (12 Juni 2012).

Kembali ke konser tadi. Di akhir video ditayangkan kilas balik sebelum konser diadakan. Untuk tampil maksimal, jauh-jauh hari sebelum hari H ternyata si penyanyi beserta krunya sudah harus berulang-ulang kali mengadakan 'konser' tertutup (latihan) lengkap dengan busana cantik, kamera, beserta sejumlah alat musik yang lengkap. Di balik hasil akhir sebuah konser, terdapat banyak sosok yang berperan penting, seperti; perencana, pemain band, kameramen, perancang, perias, juga si pengendali lighting, dan masih banyak lagi. Merekalah orang-orang yang menggantungkan harapan pada konser itu.

Dengan mengunduh, menjual, atau membeli produk kreativitas seorang artis secara ilegal, kita telah bersalah kepada si artis, dan juga ratusan kru yang berada di belakang layar. Kalau dari segi agama pun pastinya haram/dosa, hanya saja hal seperti ini kelihatannya jarang diulas, karena ketika kitab-kitab ditulis pada masa silam, masih belum ditemukan komputer, software sejenis Nero, internet, atau barang-barang seperti CD, VCD, DVD, flashdisk, dan lainnya.

Akhirnya, tulisan ini ditulis bukan dengan jutuan melarang ini itu atau memerangi kasus pembajakan. Sekadar mengulas sesuatu yang mungkin jarang kita sadari. Silakan menyimpulkannya sendiri!



Lea Willsen
dinihari, 1 Juli 2012

Posted by Art Dimension
Art Dimension Updated at: 4:19 PM

Sunday, June 17, 2012

All in 1 Converter



Anda ingin mengubah (convert) sebuah format file ke format file yang lain? Tenang saja, tak peduli itu berupa file teks, dokumen, ebook, archive, image, audio, video, dan berbagai file lainnya, Anda cukup mengandalkan sebuah situs converter all in 1, tanpa software tambahan apa pun. Situs tersebut bernama Online Convert.

Selain untuk mengconvert file dari HDD atau ruang penyimpanan lainnya, dengan mengandalkan situs Online Convert, Anda juga dapat langsung mendownload video dari Youtube, sesuai format file yang diinginkan, seperti MPEG, MP4, MP3, dan lainnya. Dari segi setting yang tersedia--seperti cut, bit rate, atau resolusi--juga tidak mengecewakan.

Baik melalui PC, laptop, tablet, ponsel, atau aplikasi Opera Mini, langsung saja kunjungi: http://www.online-convert.com/




2L
Posted by Art Dimension
Art Dimension Updated at: 10:50 PM

Selamat Datang, Youtube Indonesia!



Pengguna internet mana yang tidak mengenal Youtube? Situs tersebut telah lama hadir dan menghibur kita semua, dengan milyaran video dari seluruh dunia yang dapat ditonton secara gratis. Bahkan, anak berusia 5 tahun pun mengenal Youtube! Ah, masak?! Ya, fakta itu terdapat pada keponakan penulis sendiri, yang baru duduk di bangku TK, tetapi telah cukup akrab dengan nama besar Youtube.

Tetapi, tak dapat dipungkiri, di mana cahaya berada, di sana juga bayangan berada. Nama besar Youtube tidak pernah luput dari pro-kontra. Terlebih di Indonesia, Youtube sering dituding sebagai situs yang kerap merugikan musisi, menyediakan konten porno (padahal tidak juga), dan bahkan beberapa tahun silam sempat diblokir.

Dengan mengesampingkan topik pro-kontra, Kamis 14 Juni 2012, ternyata pihak perusahaan raksasa, Google telah meresmikan situs Youtube Indonesia, pada URL www.youtube.co.id (sementara hanya tersedia untuk tampilan desktop) yang dapat ditandai dengan ditambahkannya obyek wayang serta monas pada logo baru Youtube khusus Indonesia. Selain dihadiri secara langsung oleh Direktur Produk Manajemen Youtube Asia Pasifik, Adam Smith di Faigrounds, Jakarta, peresmian Youtube Indonesia juga cukup banyak memeroleh dukungan dari para musisi Korea--sebut saja SHINee, 2NE1, Wonder Girls, Infinite, Miss A sampai Jang Geun Suk--yang kini tengah merajai jagad hiburan.

Lalu, apa sebenarnya kelebihan Youtube Indonesia dengan Youtube sebelumnya? Tentu saja tidak sekadar perbedaan logo, 'kan? Hmm..., menarik!

Ujar Adam Smith, 70% pemirsa Youtube sendiri berasal dari Amerika Serikat serta Asia, dan Indonesia salah satu negara penyumbang visitor terbesar. Tambahnya, "Dari sekian miliar video yang ada di Youtube, kami ingin agar video dari Indonesia bisa dengan mudah dicari secara cepat, tidak perlu tercampur-campur dengan pencarian video dari negara lain."

Selain kelebihan yang dipaparkan Adam Smith--video Indonesia dapat lebih mudah dicari, tanpa harus bercampur aduk dengan video luar negeri--kelebihan lain adalah kini Youtube Indonesia telah bekerja sama dengan WAMI (Wahana Musik Indonesia), sehingga untuk konten-konten yang diakses oleh visitor, pihak Youtube akan membayar ke WAMI, untuk kemudian disalurkan ke musisi bersangkutan.

Selama ini musisi memang hanya dapat gigit jari menanggapi karya-karya mereka yang diupload tanpa seizin. Tetapi, kehadiran Youtube Indonesia adalah mutlak menjadi salah satu upaya untuk meminimalisir hal tersebut. Jadi, mari sambut Youtube Indonesia!



2L
Posted by Art Dimension
Art Dimension Updated at: 6:05 PM

Wednesday, June 6, 2012

Siapkah Menjadi Demon Hunter?!



Satu lagi game online ponsel dari KotaGame yang akan kita bahas, setelah sebelumnya kita membahas Club War Advance dan juga Six Elements.

Game kali ini adalah Demon Hunter. Hmm..., dengar dari namanya saja, tentu kita telah memiliki sedikit gambaran, bukan? Yup, benar! Kita akan menjadi seorang pemburu demon!

Namun, tidak sesederhana bertarung dan bertarung dengan demon. Dalam game ini--yang menarik--user dapat mengendalikan sendiri perkembangan kekuatan karakternya; akan lebih unggul dalam HP, attack, defense, atau speed.

Selain mengandalkan kemampuan fisik, tersedia juga berbagai equipment seperti pedang, tombak, tongkat, perisai, sepatu bot, dan masih tak terhitung lagi banyaknya yang dapat menunjang kualitas bar HP, attack, defence, dan speed kita.

Eguipment biasanya dapat diperoleh secara cuma-cuma melalui proses pertarungan melawan demon, maupun menempanya sendiri dengan berbagai campuran bahan-bahan seperti mata monster, tulang merah, tulang iblis, dan masih banyak lagi. Umumnya, equipment buatan sendiri memiliki kualitas yang lebih baik.

Tersedia juga berbagai item-item menarik seperti jamur, jahe, ginseng, dan berbagai obat-obat lainnya yang dapat membantu memulihkan kondisi HP, ataupun mempercepat proses level up. Item dapat diperoleh melalui pertarungan melawan iblis, beli, atau menukarnya dengan WP (poin kemenangan yang dikumpulkan melalui pertarungan antar user, atau pertarungan boss).

Apabila kita merasa karakter kita terlalu lemah--sementara kita juga tak memiliki K$ (mata uang di KotaGame) yang cukup untuk membeli item penunjang level up--kita dapat memanfaatkan fitur latihan seperti angkat beban ataupun yoga untuk memeroleh EXP dan mempercepat proses level up.

Di awal permainan, kita akan diminta memilih salah satu dari dua jenis petarung--magician dan warrior. Seiring dengan semakin meningkatnya level, nantinya kita akan kembali memeroleh kesempatan untuk memilih jenis-jenis petarung lainnya yang lebih kuat. Dalam hai ini, karakter kita tidak berubah, hanya jenis dan sifat bertarungnya yang diubah. Dan pada pencapaian level tertentu, kita bahkan dapat membuka fitur petualangan memasuki gerbang neraka!

Sedikit hambatan pada game Demon Hunter, untuk bertarung maupun berburu, kita membutuhkan tiket. Dan sehari kita hanya memiliki jatah yang terbatas, kecuali membeli atau diberi oleh user lain. Namun tak perlu kecewa, jatah perhari termasuk banyak, 10 lembar. Bermain game terlalu lama juga kurang baik, bukan? Lagipula kita semua juga memiliki kegiatan di dunia nyata.

Anda tertarik?! Segera kunjungi KotaGames, dan pilihlah game Demon Hunter (KotaGame bukan hanya menyediakan satu game, tetapi masih banyak pilihan lainnya). Mari, persiapkan senjatamu, demon hunters!
Posted by Art Dimension
Art Dimension Updated at: 11:42 PM

Entri Populer