Monday, July 1, 2013

Kisah Mantan Pecandu Obat Terlarang



Kisah Mantan Pecandu Obat Terlarang
Oleh: Lea Willsen.
“Hidup menjadi tak terkontrol. Seharusnya saya bersedih, ketika teman jatuh dari tangga karena ulah saya. Lah, saya justru menertawakannya! Dan bukan meminta maaf, malah saya tendang lagi dia...”
Sobat muda, sebait kalimat yang Anda baca di atas bukanlah kalimat dari sebuah cerpen, melainkan cerita seorang teman kepada penulis pada suatu malam, tentang dirinya di masa lalu, ketika sedang dalam kondisi fly akibat mengonsumsi obat terlarang.
Dewasa ini, kita semua tahu, obat terlarang bukanlah sesuatu yang baik untuk dikonsumsi. Selain dapat merusak mental dan masa depan, dari segi kesehatan juga akan berpengaruh negatif, bahkan berakhir dengan melayangnya nyawa! Tentu, bukan sekali dua kali saja kita pernah melihat atau membaca peringatan-peringatan agar menjauhi obat terlarang, baik melalui buku, internet, televisi, koran, selembaran, ataupun mendengarnya secara langsung dari orang-orang terdekat kita. Namun, angka pecandu obat di Indonesia masih saja memprihatinkan. Berdasarkan hasil penelitian Badan Narkotika Nasional Pusat dan Universitas Indonesia pada 2011, sekitar 3,8 juta jiwa atau 2,2% dari jumlah penduduk Indonesia adalah pecandu narkotika dan obat-obat berbahaya (narkoba). Peringatan-peringatan yang disebutkan tadi pun (seakan) diragukan oleh para pecandu obat.
Apa sebenarnya yang telah mendorong keinginan seseorang untuk coba mengonsumsi obat terlarang, tanpa menghiraukan atau merasa takut terhadap efek sampingnya? Pada kesempatan kali ini­-agar segalanya lebih jelas sesuai dengan fakta­-penulis telah mempersiapkan satu bagian wawancara bersama seorang narasumber yang merupakan mantan pecandu obat. Dia adalah seorang yang spesial! Mengapa? Memang benar, tak sedikit individu yang menjadi pecandu obat, sebagian juga mampu sembuh kembali, tetapi sangat sedikit yang bersedia berbagi kisah untuk kita semua, sekali pun penulis telah berulangkali menjelaskan bahwa identitas narasumber tak akan dipublikasikan.
Silakan membaca kisah narasumber kita­-dimulai dari pertama mengenal obat terlarang, hingga bagaimana kemudian sanggup melepaskan diri kembali­-yang tentunya akan menginspirasi serta memberi manfaat positif untuk kita renungkan.
+Saya sangat salut serta berterima kasih, Anda telah bersedia meluangkan waktu Anda untuk menjadi narasumber dan membagikan pengalaman hidup Anda. Anda kini berusia berapa?
-Sekarang usia saya 55 tahun.
+Terdapat berbagai macam obat-obat terlarang yang beredar. Obat terlarang seperti apa yang dulu Anda konsumsi?
-Lexotan, pil BK, rohypnol, morphin, kokain dan juga ekstasi...
+Anda mulai mengonsumsinya di usia ke berapa? Mengapa? Karena ajakan teman, atau berbagai faktor lain yang mungkin membuat Anda menjadikan hal tersebut sebagai suatu pelarian atau pelampiasan?
-Saya mulai mengonsumsinya di usia 19, Selain ajakan teman juga karena broken home, dan yang terparah adalah broken heart.
+Bila sekarang kembali diingat-ingat, adakah hal-hal negatif tertentu yang telah pernah Anda lakukan tanpa sengaja, selagi dalam pengaruh obat? Jika pernah, apa akibatnya?
-Banyak hal negatif yang telah saya lakukan akibat pengaruh obat tersebut, seperti berkelahi, mencuri dan juga mengganggu orang sekitar.
+Bagaimana sikap keluarga Anda-­seperti orangtua dan saudara­-menanggapi kenyataan bahwa Anda saat itu telah menjadi seorang pecandu obat? Mereka marah, sedih, dan bersama-sama menasihati/mendukung Anda untuk berubah?
-Saat itu, keluarga saya bukan menasihati, malah mengusir saya dari rumah. Hal inilah yang kemudian membuat saya semakin bebas mengonsumsi obat terlarang.
+Sebagian obat demikian memiliki harga jual yang selangit. Dari segi keuangan, pernahkah Anda menghadapi kesulitan untuk memenuhi kebutuhan membeli obat-obat demikian? Bila pernah, apa yang Anda lakukan agar dapat memenuhi kebutuhan tersebut?
-Sangat sering... Biasanya kami berkelompok dan saling berbagi atau mencari bos agar dapat memenuhi kebutuhan tersebut. Bila sudah terpepet apa pun akan saya lakukan seperti menipu, bahkan mencuri dan memeras orang.
+Secara fisik, pernahkah Anda merasa sakit, sengsara, atau sebagainya akibat ketergantungan terhadap obat demikian? Bisa diceritakan?
-Secara fisik sudah pasti saya merasakan kesengsaraan yang hebat, ketika saya tak dapat mengonsumsi obat-obat tersebut. Rasanya seperti seluruh sendi ditusuk oleh jarum, otak menjadi tak dapat berpikir panjang. Bahkan timbul juga keinginan untuk menyakiti diri sendiri. Berpikir bahwa lebih baik mati bila tak dapat mengonsumsi obat tersebut. Ini disebut sakao (sakit karena obat).
+Berapa tahun Anda menjadi pecandu? Lalu, apa yang kemudian memotivasi Anda untuk berubah?
-26 tahun saya menjadi pecandu. Saya mulai ingin berubah semenjak ibu saya meninggal dan saya bertemu dengan seorang biksu yang sabar dan tekun memberi nasihat kepada saya.
+Metode penyembuhan seperti apa yang ditempuh? Sulit?
-Saya berobat dengan masuk ke RSKO Fatmawati-­biaya sepenuhnya ditanggung oleh biksu-­dilanjutkan dengan metode semedi yang juga dibimbing oleh biksu. Soal kesulitan..., sungguh minta ampun sulitnya! Saya yakin bila pada saat itu tidak dibantu dengan kasih sayang dan kesabaran yang tiada tara dari suhu (panggil saya kepada biksu tersebut), saya pasti terjerumus kembali.
+Di saat Anda sedang berusaha untuk terbebas dari obat-obat terlarang, pernahkah ada orang-orang tertentu­-misalkan teman sesama pecandu-­yang masih terus menggoda Anda untuk tidak berhenti? Bila pernah, apa yang Anda lakukan menanggapi hal itu?
-Saya bersyukur, karena setelah terbebas dari obat-obatan, saya dibawa ke tempat yang agak terpencil hingga saya putus kontak dengan teman-teman pecandu saya. Sampai terakhir ketika suhu meninggal, saya baru kembali ke Jakarta, dan... ternyata banyak teman pecandu yang sudah meninggal akibat OD (over dosis)! Beberapa yang masih hidup mengajak saya sekadar pergi dugem, tapi tidak saya tanggapi, mengingat betapa sengsaranya saya ketika menjalani proses penyembuhan. Selain itu, saya juga harus menghargai upaya almarhum suhu yang telah begitu baik, tulus dan sabar agar saya dapat kembali ke jalan yang benar.
+Kini, tentu Anda sudah sembuh. Apa hikmah terbesar yang Anda peroleh dari semua kejadian itu?
-Hikmah terbesar adalah akhirnya kini saya telah berumah tangga, dan tidak minder lagi dalam bermasyarakat.
+Pertanyaan terakhir. Terkait topik yang kita bahas, adakah saran atau pesan yang ingin Anda sampaikan kepada adik-adik remaja yang membaca kisah Anda ini?
-Saran dan pesan saya, jangan pernah mencoba obat/zat adiktif apa pun alasannya! Dan kepada orangtua, berilah kasih sayang kepada anak kalian, serta perhatikanlah tingkah laku anak-anak kalian sebelum terlambat. Terima kasih!
Sobat muda, demikianlah akhir dari wawancara bersama narasumber kita. Jangan coba-coba mengonsumsi obat terlarang! Setiap kita akan mencoba suatu hal baru, mungkin kita selalu memiliki alasan yang kuat. Tetapi dalam hal terkait obat terlarang, sekali kita telah kecanduan, maka untuk sembuh kembali bukanlah persoalan mudah. Bentengilah selalu diri kita dengan keyakinan terhadap agama­agama apa pun itu.
Untuk para orangtua, seperti yang disampaikan oleh narasumber kita, berilah kasih sayang kepada anak Anda. Bila Anda berpikir bahwa sikap anak Anda sudah tak tertolong lagi dan sepantasnya ditelantarkan, maka kesalahan terbesar adalah sebenarnya Anda masih belum memahami bagaimana cara mengasihi anak Anda dengan benar. Beberapa anak mungkin memerlukan perhatian ekstra. Itu adalah tantangan untuk Anda sebagai orangtua. Semoga!
* Awal April 2012
Muat di Harian Analisa
Posted by Art Dimension
Art Dimension Updated at: 1:58 PM

Wednesday, June 12, 2013

Hari Bacang dan Kisah Sastrawan Qu Yuan




Pada 12 Juni 2013 (tanggal 5 bulan 5 Lunar), diperingati sebagai Hari Bacang atau yang lebih sering disebut sebagai Hari Raya Peh Cun. Di Indonesia tentu hari tersebut hanya diperingati oleh suku tertentu—Suku Tionghoa—dan tidak sampai dicantumkan sebagai tanggal merah pada kalender. Namun, ternyata pada negara lain seperti China, Taiwan dan lainnya, Hari Bacang merupakan satu dari tiga hari besar yang dianggap paling penting, yakni dua di antaranya ialah: Hari Raya Imlek (Chun Jie), dan Hari Raya Tiong Chiu (Zhong Qiu Jie).
Bacang sendiri merupakan nama dari sebuah kue berbentuk empat kerucut yang dibungkus daun, dengan isi bervariasi seperti: ketan, daging, jamur, kacang, telur, dan lain sebagainya, tergantung selera. Akan tetapi, ternyata bacang memiliki sejarah serta kisah kesetiaan seorang sastrawan sekaligus pejabat, Qu Yuan (baca: Chi Yen) yang cukup terkenal.
Sejarah
Dikisahkan pada masa 475-221 SM—Dinasti Zhou—Tiongkok terbagi menjadi tujuh negara yang saling bertikai. Salah satunya, negara Qin dikenal sebagai negara yang paling agresif, dan senang menindas keenam negara lain yang lebih lemah. Sastrawan Qu Yuan merupakan seorang pejabat besar dari negara Chu, yang cukup cerdas untuk kemudian mengeluarkan ide serta berperan aktif dalam menyatukan keenam negara yang kerap ditindas untuk melawan agresi negara Qin. Oleh sebab itu, Qu Yuan pun menjadi tokoh yang cukup diperhitungkan pihak lawan.
 Sayangnya, pada masa itu negara Qin menggunakan siasat licik untuk berpura-pura menawarkan perdamaian kepada Kaisar Chu Huai (kaisar negara Chu), dan mengarang cerita-cerita palsu yang menyebabkan Kaisar Chu Huai menjadi kurang begitu percaya kepada Qu Yuan. Suatu ketika negara Qin mengundang Kaisar Chu Huai ke ibukota mereka, sebenarnya Qu Yuan telah membaca siasat jahat musuh, dan melarang keras kepergian Kaisar Chu Huai. Tetapi, karena penilaian Kaisar Chu Huai terhadap Qu Yuan telah terlanjur diracuni, perkataan Qu Yuan pun diabaikan.
Masa itu Qu Yuan mengalami perasaan sedih yang amat mendalam. Kaisar Chu Huai pun memenuhi undangan dari negara Qin. Kemudian, apa yang menjadi kekhawatiran terbesar Qu Yuan pun benar-benar terjadi. Kaisar Chu Huai dibunuh di negara musuh! Dalam situasi darurat itu, negara Chu kemudian mengangkat Kaisar Chu Xiang untuk memimpin negara. Ironisnya, Kaisar Chu Xiang bukan hanya tidak berniat menegakkan keadilan untuk Kaisar Chu Huai yang dibunuh musuh, tetapi justru mengangkat Kaisar Qin menjadi ayah angkat.
Ditambah lagi dengan keberadaan beberapa pejabat yang telah menerima suap dari negara Qin, Kaisar Chu Xiang diusulkan untuk menyerah kepada negara Qin. Mendengar hal tersebut, Qu Yuan pun kembali melarang keras usul itu, dan berdebat dengan Kaisar Chu Xiang, hingga kemudian dicopot dari jabatan, dan dikirim ke tempat pembuangan manusia di Chang Sha.
Sembilan tahun hidup dalam ketragisan di mana harus menghadapi kenyataan bahwa negara Chu telah hancur di tangan Kaisar Chu Xiang, serta nasib keluarganya yang berantakan, akhirnya Qu Yuan memutuskan untuk mengakhiri hidupnya dengan menceburkan diri ke Sungai Mi Luo (sekarang Sungai Qian Tang di propinsi Zhe Jiang). Tanggal 5 bulan 5 Lunar, sastrawan Qu Yuan pun meninggal pada usia 62 tahun.
Rakyat yang selama ini yakin bahwa Qu Yuan adalah tokoh yang selalu berpihak kepada negara Chu amat bersedih atas keputusan Qu Yuan. Mereka berusaha keras untuk menemukan jenazah Qu Yuan, namun sia-sia. Karena berharap agar jenazah itu jangan sampai diusik (baca: dimakan) oleh binatang-binatang air, akhirnya rakyat negara Chu pun sepakat untuk membungkus nasi dan makanan-makanan lainnya untuk kemudian diceburkan ke Sungai Mi Luo, agar dapat dimakan oleh binatang-binatang air. Nasi dan makanan-makanan itulah yang kemudian kini dikenal sebagai kue bacang.
Dalam versi lain yang tidak berbeda jauh, sastrawan Qu Yuan juga dikisahkan sebagai seorang pejabat cerdas yang memiliki pengaruh besar. Buku karyanya dengan judul “Chun Tzu (Ratapan Negeri Tzu) dan juga “Li Sao (Menapaki Kesedihan) merupakan buku yang populer di masa itu. Karena terlalu gemilangnya karir Qu Yuan, terdapat banyak lawan politik yang hendak menjatuhkannya.
Lawan-lawan politik Qu Yuan bukan hanya membenci Qu Yuan, tetapi pada dasarnya kebanyakan dari mereka adalah pejabat tak setia yang merencanakan kudeta. Mereka sempat menawarkan kerja sama, tetapi ditolak oleh Qu Yuan. Penolakan itu jugalah yang kemudian membuat mereka semakin memusuhi Qu Yuan.
Suatu ketika kaisar negara Chu sakit, para pejabat pengkhianat itu pun menekan tim medis untuk mengeluarkan larangan garam terhadap kaisar. Akibatnya, kondisi kaisar menjadi semakin memburuk dan hanya dapat terbaring lemas di atas ranjang. Selidik demi selidik, Qu Yuan berhasil mencium siasat licik itu. Namun, dikarenakan terdapat kesulitan-kesulitan tertentu yang kala itu sulit dihadapi, Qu Yuan tak dapat berbuat banyak, selain diam-diam membungkus garam dalam daum bambu dengan empat kerucut, lalu menggantung bungkusan itu di langit-langit ranjang kaisar dengan maksud agar garam itu menetes sedikit demi sedikit di atas mulut kaisar, dengan harapan kesehatan kaisar dapat segera pulih kembali.
Hal yang tak terduga, di kemudian hari ketika bungkusan garam itu ditemukan, Qu Yuan justru dituduh sebagai orang yang telah meracuni kaisar, sehingga kondisi kesehatan kaisar kian memburuk. Qu Yuan mengalami depresi berat akibat tuduhan terhadap dirinya. Dan untuk menghindari pengadilan serta jeratan hukum yang tak semestinya ia terima, akhirnya Qu Yuan pun lebih memilihi mengakhiri hidup sendiri secara terhormat dengan menceburkan diri ke Sungai Mi Luo.
Hari Bacang di Indonesia
Di Indonesia, Hari Bacang juga merupakan salah satu hari istimewa bagi Suku Tionghoa. Setiap tahunnya, sebagian besar—tergantung kepercayaan yang dianut—keluarga Suku Tionghoa memiliki kewajiban untuk membuat bacang yang kemudian disembahyangkan kepada leluhur dan dewa, kecuali keluarga yang tengah berkabung. Namun, itu adalah pandangan lama. Modernnya, kini bacang boleh dibeli dari orang lain, tanpa harus repot-repot membuatnya sendiri.
Hal unik lain yang terdapat pada tanggal 5 bulan 5 Lunar, setiap pukul 12 siang, telur dapat didirikan tegak. Ah, masak?! Ya, ini memang sulit masuk di akal. Namun, sebuah klipingan (koran Analisa) yang tersimpan dalam PC penulis di tahun 2009 menunjukkan bahwa hal itu benar adanya. Acara itu digelar oleh Paguyuban Sosial Marga Tionghoa Indonesia (PSMTI) Sumut pada Kamis, 28 Mei 2009.
Posted by Art Dimension
Art Dimension Updated at: 1:24 PM

Sunday, June 9, 2013

Pentingnya Kualitas Lingkungan Hidup



BEBERAPA hari lalu—tepatnya 5 Juni—diperingati sebagai Hari Lingkungan Hidup Sedunia. Momen ini diperingati pertama kali pada tahun 1972, melalui sidang umum PBB, sebagai upaya untuk meningkatkan kesadaran global akan pentingnya melestarikan lingkungan hidup demi kepentingan bersama.
Di Indonesia sendiri, setiap tahun momen ini biasanya diperingati dengan diterbitkan prangko-prangko peringatan yang menampilkan gambar-gambar bertemakan lingkungan hidup. Beberapa kalangan dan aktivis biasanya juga mengadakan acara seperti jalan kaki bersama, penghijauan, atau bersih-bersih lingkungan, dan lain sebagainya.
Akan tetapi, agaknya hal tersebut tentu bukan sekadar aksi formalitas tahunan belaka. Setiap tindakan pelestarian lingkungan itu wajib didasari kesadaran, bukan sekadar partisipasi. Setiap dari kita bertanggungjawab untuk memelihara kualitas lingkungan hidup di sekitar, dengan pola hidup yang baik, kesadaran untuk tidak membuang sampah pada sembarang tempat, serta kemauan untuk membenahi lingkungan. Hal ini perlu diterapkan sebagai sebuah kebiasaan positif, dimulai dari diri sendiri, baru kemudian menginspirasi pihak lain.
Untuk sekarang, kita memang masih menghuni sebuah Bumi yang termasuk layak, tanpa perlu adanya rasa cemas. Tetapi, bagaimana untuk kelak? Coba saja kita bayangkan, bagaimana bila suatu hari nanti Bumi telah kehilang air bersih untuk dikonsumsi, tanah yang subur untuk ditanami buah dan sayur, serta terjadi perubahan iklim yang menyebabkan datangnya berbagai bencana, sementara kita masih tak memiliki Bumi kedua—planet penggantinya?! Ini bukan ancaman kosong, tetapi sebuah prediksi yang berpotensi menjadi kenyataan, apabila kita tetap mengabaikan kepentingan melestarikan lingkungan. Tiba masa itu, mungkin memiliki uang juga belum tentu memiliki lingkungan hidup yang layak. Mungkin juga kita semua terpaksa mengizinkan udara yang terlanjur tercemar melewati paru-paru kita agar tidak kehilangan nafas, dan mengobati rasa haus dengan air berwarna keruh yang berbau lumpur.
Think-Eat-Save
2013, oleh United Nations Environment Programme (UNEP)—Badan Lingkungan Hidup Dunia—Hari Lingkungan Hidup Sedunia ditetapkan dengan tema “Think-Eat-Save”. Melalui Kementerian Lingkungan Hidup Indonesia, tema tersebut kemudian diselaraskan menjadi “Ubah Perilaku dan Pola Konsumsi untuk Selamatkan Lingkungan”. Kita mungkin bertanya-tanya, apa hubungannya antara pola konsumsi dan lingkungan hidup.
Jelas ada!
Berdasarkan data dari  Food and Agriculture Organization (FAO)—Organisasi Pangan dan Pertanian—tercatat untuk setiap tahunnya terdapat setidaknya 1,3 milyar ton makanan yang terbuang sia-sia di seluruh dunia. Padahal, berdasarkan data lain menunjukkan bahwa 1 dari 7 orang memaksakan diri untuk tertidur dengan kondisi kelaparan, sementara lebih dari 20.000 balita bahkan meninggal dunia akibat kasus kelaparan untuk setiap harinya.
Kebiasaan manusia di seluruh dunia yang membeli makanan dalam jumlah berlebih, kemudian berakhir dengan membuangnya dinilai sebagai tindakan pemborosan yang teramat merugikan lingkungan. Setiap makanan yang terbuang menjadi limbah dan membutuhkan waktu lama agar dapat terurai. Dan tanpa kita sadari, sebagian makanan yang terbuang itu sesungguhnya telah melalui proses produksi yang rumit serta memakan banyak biaya dan energi, baru kemudian dapat tiba di tangan konsumen. Contoh sederhana yang dapat dijelaskan, untuk memproduksi 1 liter susu saja dibutuhkan 1.000 liter air. Jika dengan adanya data 1 liter susu yang terbuang, berarti telah terbuang secara sia-sia juga sejumlah 1.000 liter air layak konsumsi. Belum lagi bila makanan tersebut merupakan makanan impor, tentu dibutuhkan juga bahan bakar untuk alat transportasi dan lain sebagainya.
Kebiasaan membuang makanan bukan hanya mubazir, tetapi yang ironisnya justru menjadi limbah yang berkontribusi banyak dalam merusak lingkungan, memicu pemanasan global, yang ujung-ujungnya berdampak negatif bagi kelangsungan hidup manusia. Berdasarkan pertimbangan demikianlah, UNEP memilih tema Think-Eat-Save sebagai tema Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2013, dengan harapan masyarakat di seluruh dunia dapat berpikir secara bijak dalam berbelanja makanan, agar tidak berakhir menjadi limbah yang merusak lingkungan hidup.
Manfaat
            Upaya melestarikan lingkungan bukanlah sebuah tindakan sia-sia yang merepotkan. Kita sendirilah yang akan merasakan manfaat dari semua itu. Manfaat yang dimaksudkan bukan sekadar manfaat untuk masa mendatang—di mana belum tentu kita masih hidup di Bumi ini—tetapi juga manfaat untuk masa sekarang. Lingkungan hidup yang baik memberikan kita kehidupan yang sehat, dan sebaliknya lingkungan hidup yang buruk justru berpotensi mendatangkan berbagai penyakit bagi tubuh manusia, semisal DBD, diare, alergi, dan lain sebagainya.
Berpikir lebih jauh, dengan adanya lingkungan yang baik, kota dan negara yang bersih terjaga, tidak menutup kemungkinan akan menarik wisatawan untuk mengunjungi negara kita. Ini adalah sebuah nilai plus. Jika Anda adalah seorang yang mengikuti perkembangan berita, Anda pasti tahu, salah satu tempat wisata terkenal di negara kita pernah dikritik oleh seorang jurnalis Majalah Times gara-gara lingkungan kotor yang diibaratkan sebagai hell—neraka—oleh jurnalis luar negeri tersebut. Bayangkan saja, berapa pasang mata yang membaca pemberitaan itu, dan berapa besar negara kita harus kehilangan visitor asing, hanya gara-gara kebiasaan yang tidak melestarikan lingkungan.
Generasi Muda yang Cerdas
Kita tak dapat membalikkan waktu. Segala tindakan merusak lingkungan yang telah terlanjur terjadi di masa sembelumnya mustahil untuk dibatalkan seperti ketika kita mengeklik undo pada suatu tindakan salah pada komputer. Tetapi, bukan berarti kita juga tak dapat memulihkan kondisi. Terlebih sebagai generasi muda yang cerdas, terpelajar, lebih pantas lagi menjadikan diri sebagai teladan, dan terus mewariskan perilaku positif dalam memelihara lingkungan untuk generasi-generasi seterusnya, bahkan juga menginspirasi generasi-generasi sebelumnya.
Mulai dari sekarang berpikirlah dalam setiap tindakan, apakah itu merugikan lingkungan, dan semestinya bagaimana. Satu contoh sederhana yang paling dekat dengan keseharian remaja, penggunaan kertas. Sebisa mungkin minimalkanlah jumlah penggunaannya, dan maksimalkanlah daya guna barang yang terbuat dari hasil ‘membunuh’ pohon itu. Selain kertas, untuk barang-barang lain semisal pakaian, tas, dan apa saja itu, gunakanlah selalu selagi masih berdaya guna, agar tidak menjadi limbah yang menumpuk dan merusak lingkungan.
Jika memungkinkan, boleh juga aktif dengan berbagai kegiatan positif semisal penghijauan dan lain sebagainya, yang tentu tidak sekadar setahun sekali ketika tibanya momen Hari Lingkungan Hidup Sedunia. Setuju?!
***
 Lea Willsen
Akhir Mei, 2013
Posted by Art Dimension
Art Dimension Updated at: 12:47 PM

Friday, May 24, 2013

Ketika Ajal di Depan Mata


Oleh: Lea Willsen
Judul tulisan ini begitu menyeramkan mungkin. Kebanyakan dari kita tentu takut berada dalam kondisi tersebut. Lantas, apa yang kemudian kita lakukan? Jelas secara batin kita tertekan, bahkan seketika kehilangan semangat hidup, dan menjadi lebih sering menjalani hari-hari—yang tak banyak lagi—dengan menangis atau murung. Tak ada yang salah dari sikap tersebut. Sangat manusiawi.
Mungkin kita akan berpikir tentang banyak hal yang masih tidak ikhlas kita lepaskan. Kita masih belum melakukan ini, belum melakukan itu, dan masih banyak target atau impian yang belum tercapai. Nah, kenyataannya ungkapan "tak ada yang mustahil dalam dunia ini" berlaku di sini. Ada saatnya kondisi titik terendah dalam hidup justru adalah motivasi terampuh untuk melakukan hal positif dalam hidup ini.
Kisah Anthony Burgess
Melakukan banyak hal dengan sisa waktu yang sedikit. Inilah yang telah dilakukan oleh Anthony Burgess, seorang pria kelahiran Inggris 25 Februari 1917 yang telah divonis dokter menderita penyakit tumor otak. Saat itu Burgess baru berusia 42 tahun, tetapi dokter mengungkapkan kalau maksimal sisa hidup Burgess tinggal satu tahun.
Keberadaan tumor otak itu bukan hanya mengancam hidup, tetapi biaya pengobatan yang diperlukan juga telah menguras banyak kekayaan Burgess, hingga pria itu benar-benar jatuh miskin. Satu hal yang Burgess risaukan adalah ia tak memiliki apa pun untuk diwariskan kepada isterinya. Namun, Burgess tidak berdiam diri menunggu ajal menjemput. Dalam kondisi terdesak itu terpikirkan ide kalau ia harus mulai menulis dan coba menjadi seorang novelis. Burgess merasa dirinya berpotensi untuk menjadi seorang penulis besar. Semangatnya bagai bara api yang takkan padam oleh siraman air. Bila novelnya populer, maka kelak royalti yang terus mengalir dapat menghidupi keluarganya, sekalipun ia telah meninggal.
Menurut perkiraan, Burgess hanya memiliki musim dingin, musim semi, serta musim panas untuk menjalani hidup. Dan pada musim gugur ajal akan datang menjemputnya. Ia lekas mulai menulis novel. Tahun itu menjadi tahun yang demikian menakjubkan. Ia berhasil merampungkan lima buah naskah novel, yang kemudian tiga di antaranya berhasil diterbitkan.
Satu hal yang menakjubkan lagi, Burgess ternyata tidak meninggal pada tahun itu! Tumor otaknya menghilang, dan ia tidak berhenti menulis begitu saja hingga kemudian berhasil melahirkan sekitar 70 buku, sebelum meninggal pada usia 76 tahun. Coba saja bayangkan, Burgess yang pada usia 42 tahun telah divonis hidupnya tak akan lama lagi ternyata masih dapat hidup sampai usia 76 tahun. Dan ini bukan sebuah drama fiksi!
Jika Burgess tidak dihadapkan pada ancaman ajal di depan mata, entah harus menunggu sampai kapan ia baru akan termotivasi untuk menggali potensi dirinya. Bahkan mungkin untuk selamanya ia tak akan pernah menjadi seorang novelis besar—seorang yang namanya mendunia. Inilah yang disebut motivasi ampuh di kala berada pada titik terendah kehidupan.
Memfoya-foyakan Sisa Hidup
Tak ada satu pun dari kita yang mutlak mengetahui kapan ajal kita tiba. Mungkin esok, mungkin lusa, atau kapan pun itu kita tak akan pernah tahu. Apalagi bila masih muda, usia dua puluh atau tiga puluh dan empat puluh tahunan, kita akan membayangkan kita masih akan tetap hidup hingga usia tujuh puluh, delapan puluh, sembilan puluh atau bahkan sampai ratusan tahun. Ah, waktu masih panjaaang...! Sedikit berleha-leha itu manusiawi. Bukankah masa muda itu tak pernah kembali dan harus dinikmati dengan baik?!
Sah-sah saja menikmati masa muda—menikmati hidup—atau yang biasa disebut refreshing. Refreshing itu penting, ibarat mengistirahatkan atau menyegarkan kembali sebuah komputer yang sudah bekerja sepuluh jam lebih dan mulai mengalami bugs di mana-mana. Tetapi, harus dipahami juga kalau refreshing itu berbeda dari bermalas-malasan, dan tidak akan pernah dapat disamakan dengan alasan apa pun. Terlalu lama ‘refreshing’, justru akan membuat kita menjadi barang elektronik baru yang tak terpakai, disimpan selama bertahun-tahun, hingga termakan usia dan berakhir menjadi loak yang tak pernah sekali pun bermanfaat.
Agaknya kisah Anthony Burgess dapat mengingatkan kita bahwa betapa bermanfaatnya sisa hidup, sekalipun ajal sudah di depan mata. Bermalas-malasan itu identik dengan ‘memfoya-foyakan’ sisa hidup. Bisa jadi sepuluh tahun yang dimiliki seorang pemalas tidak lebih berharga daripada satu tahun yang dimiliki Burgess. Pepatah berbunyi; tak penting hidup berapa lama, tetapi lebih penting apa yang telah dikerjakan semasa hidup.
Fokus dengan Target
Dalam buku “Mimpi Sejuta Dolar”, Merry Riana menceritakan pengalaman berharganya dalam mengikuti seminar Anthony Robbins, di mana terdapat sebuah permainan lari menyeberangi kobaran api untuk mencapai tujuan. Sebuah permainan yang menantang tentunya. Dalam kehidupan kita juga sama. Api ibarat rintangan. Tujuan ialah target. Untuk mencapai target, sudah tentu kita harus berani dan fokus menyeberangi rintangan. Di samping itu, kehidupan tak pernah luput dari godaan. Godaan yang dimaksudkan adalah keinginan kita yang terus mengarah pada hal-hal menyenangkan—seperti berjam-jam chating, nonton film, bermain game online, atau mengunjungi tempat hiburan—daripada hal-hal yang menjanjikan.
Sukses mungkin bukan milik semua pekerja keras. Namun, tanpa bekerja keras dan fokus dengan target, sudah tentu sukses lebih tidak mungkin dimiliki. Tak ada pantangnya menganggap ajal sudah di depan mata—setahun lagi kita akan meninggal—maka kita pasti akan memanfaatkan waktu sebaik mungkin. Setiap akan berpikir atau bertindak negatif, kita akan berpikir dua kali. Oh, waktu saya tidak banyak! Lebih baik saya memanfaatkannya untuk hal yang baik!
***
karen, awal Januari, 2013
http://myartdimension.blogspot.com

Posted by Art Dimension
Art Dimension Updated at: 9:02 PM

Thursday, April 11, 2013

Tips Catur

Catur adalah permainan yang dikenal sepanjang masa. Selain menjadi permainan kelas dunia yang bergengsi, catur juga mampu melatih otak manusia dalam berkonsentrasi. Postingan kali ini tidak dengan tujuan mengajarkan dasar permainan catur, tetapi berisi tips yang mungkin bermanfaat bagi Anda yang telah menguasai dasar-dasar permainan catur.

Penulis akan membahas kelebihan dari satu per satu jenis bidak catur yang tersedia, dalam bentuk teori. Selebihnya Anda akan coba menerapkannya atau tidak, terserah, mengingat permainan catur memang tergantung dari skill masing-masing pemain dan tidak mungkin dipaksakan. Jika ada masukan atau berniat berbagi cerita atau pengalaman, jangan segan berkomentar. Setuju?! Mari kita mulai!

-Bidak-Bidak Catur-

8 Pawns - Sepintas bidak satu ini memang terlihat lemah, bahkan cenderung menghalangi bidak-bidak kuat di belakang untuk maju bertempur. Namun, jangan salah, dengan formasi yang baik, pawn justru akan menjadi pagar yang kuat untuk menghalangi serangan musuh. Di samping itu, jika Anda adalah seorang pemain yang kerap tanpa segan mengorbankan pawn, jangan heran jika pada pertengahan permainan pertahanan Anda menjadi sangat lemah--setelah kekurangan pawn. Hargailah juga 'kehidupan' pawn. Di saat Anda sudah kehilangan queen atau rook, Anda pasti akan sangat membutuhkan pawn untuk menghidupkan mereka lagi.

2 Bishops - Bidak dengan gerakan diagonal ini kuat dalam posisi pertahanan atau memberi perlindungan terhadap bidak lain yang tengah maju bertempur. Karena peran bishop yang jarang sebagai penyerang, keberadaan bishop yang mengancam justru sering luput dari pengawasan musuh. Jadi, jangan heran--ketika musuh lengah--bishop justru menjadi penyerang yang kuat. Jika Anda perhatikan, kedua bishop memiliki jalur yang berbeda, satu bergerak di petak hitam, dan satu lagi putih. Bishop yang tidak lagi berpasangan--salah satunya gugur--akan membuat kemampuan pemain serasa pincang. Apalagi bila pada akhir permainan Anda tinggal memiliki satu bishop--bidak lain sudah pada gugur--musuh cukup berdiri pada warna petak yang bukan menjadi jalur bishop yang masih hidup, maka dipastikan Anda tak mungkin dapat melakukan penyerangan lagi. Prinsip mempertahankan bidak itu bagus, namun jangan sampai Anda hanya tersisa bishop menemani king di akhir permainan, karena bishop tak bisa diandalkan pada pertarungan papan catur yang telah lapang. Setidaknya Anda harus menyisakan rook atau queen untuk memeroleh kemenangan.

2 Knights - Inilah bidak dengan kemampuan meneror yang mengerikan! Gerakannya yang bagaikan bulan sabit akan dengan mudah membantai markas musuh. Anda harus memberi nilai plus untuk knight. Satu knight saja dapat mengancam dua tiga bidak musuh sekaligus, dan menghancurkan formasi musuh. Kelebihan knight dibanding bidak yang lain, knight dapat bergerak bebas tanpa terhalang bidak lain. Pemain yang terampil akan memiliki kemampuan yang baik dalam mengendalikan knight, bahkan melebihi peran queen. Jaga dan fungsikanlah keberadaan knight secara maksimal selama dalam permainan.

2 Rooks - Bidak dengan gerakan vertikal/horizontal ini memiliki kemampuan menyerang serta memblokir jalan yang baik. Sayangnya--dikarenakan keberadaan rook yang berada di sudut--beberapa pemain terlalu buru-buru hendak memfungsikannya, hingga 'tanpa rasa dosa' mengorbankan pawn yang berada di depan. Ini jelas prinsip yang amatir. Rook diciptakan sebagai pelindung king di sisi kiri-kanan. Anda tak perlu buru-buru memfungsikannya rook di awal permainan, jikalau tak ingin pertahanan king justru menjadi longgar. Rook lebih cocok difungsikan pada akhir permainan, di mana papan catur telah mulai lapang. Kelebihan rook yang tak dimiliki oleh bidak lain adalah teknik castling yang melibatkan king. Umumnya, setelah melakukan castling, pertahan king akan menjadi kuat, karena dilindungi oleh rook.

1 Queen - Bidak dengan gerakan vertikal/horizontal serta diagonal ini adalah bidak penting kedua--setelah king--dalam permainan catur. Baik dari segi penyerangan atau pertahanan, kemampuan queen tak diragukan. Usahakanlah membuka jalan bagi queen di awal permainan. Pemain yang tangguh biasanya dapat mengendalikan queen secara agresif dalam menyerang margas musuh. Namun, berhati-hatilah dalam menjaga queen, karena lawan biasanya sangat mengincar queen. Queen yang gugur di awal permainan sering menjadi prediksi jitu dari hasil akhir permainan.

1 King - Sebagian besar pemain catur menyesalkan gerakan bidak penting satu ini yang ternyata sangat lemah--hanya mampu bergerak satu petak. Namun, bagaimanapun juga king adalah bidak yang terpenting. Tanpa king berarti permainan berakhir. Untuk tips permainan, janganlah terlalu sering melibatkan king dalam pertempuran, jika bukan dalam kondisi sangat terpaksa. King yang telah beranjak dari posisi awal tak memungkinkan lagi melakukan teknik castling bersama rook. Jadi, sebisa mungkin pertahankan posisi tersebut. Pastikan juga petak di sekitar king selalu terlindungi oleh bidak lain. Jangan biarkan king berada pada sudut mati, di mana sekali di-skak langsung tak ada tempat lari.

Secara garis besar, teori yang dipaparkan di sini adalah teori yang lebih memprioritaskan pertahanan daripada penyerangan. Dengan senantiasa memelihara keberadaan setiap bidak, barulah dapat memiliki lebih banyak peluang kemenangan. Namun, ada saatnya teori tak sejalan dengan situasi. Terkadang sebuah keuntungan besar memerlukan pengorbanan. Misalkan dengan berkorban bishop memungkinkan Anda untuk merenggut nyawa queen lawan, mengapa tidak?!

-Gerakan-

Dalam permainan catur, lambat selangkah saja terkadang berakibat fatal. Sebisa mungkin janganlah melakukan gerakan bodoh semisal melakukan skak dengan bishop pada awal permainan yang ujung-ujungnya menarik diri lagi setelah digertak hanya dengan pawn. Gerakan yang sering dilakukan pemain amatiran ini hanya gerakan yang menyia-siakan turn dan dipandang rendah oleh lawan.

Posisikanlah bidak secara baik dalam setiap turn. Perhatikan tiga hal untuk setiap langkah, yaitu; apa yang menjadi tujuan utama, apakah posisi baru aman dari serangan lawan (lihat sekitar ada ancaman atau tidak), dan apakah setelah meninggalkan posisi lama akan ada bidak lain yang terancam (bisa dikarenakan terbukanya jalur yang tertutup, atau karena sebelumnya bidak tersebut dilindungi oleh bidak yang akan digerakkan). Demikian juga dengan langkah lawan, perhatikanlah; apa yang menjadi tujuan utamanya, adakah peluang mengeksekusi bidak tersebut pada posisi baru (mungkin lawan kebetulan ceroboh), dan adakah peluang mengeksekusi bidak lain dari musuh (setelah posisi lama ditinggalkan).

Jangan dengan bernafsunya langsung 'menyantap' bidak lawan yang memungkinkan, karena terkadang itu adalah jebakan yang disengaja. Sebisa mungkin analisislah langkah-langkah lawan untuk dua atau tiga turn ke depan agar dapat berjaga-jaga.

Yang terakhir sekaligus terpenting, permainan Anda harus menarik, berkesan, dan dinikmati, tak peduli kalah-menang. Jika semua menang, lalu siapa yang kalah?

Semoga bermanfaat!


2L, 2013
Dikirim melalui BlackBerry® dari 3 – Jaringan GSM-Mu

Posted by Art Dimension
Art Dimension Updated at: 5:51 PM

Entri Populer