"Berapa harganya? Wei Jian (Dicky Cheung), jangan berpikir bahwa kamu sangat populer di Hongkong setelah bermain Journey to The West. Biarkan aku memberitahumu, popularitasmu di China adalah nol! Biarkan saya mengirimimu sepatah kata, ingat! Ketika kamu tidak memiliki rambut di wajahmu, kamu tidaklah berharga!" ungkap si senior.
Demi sebuah kehormatan, tidak peduli seberapa banyak remaja perempuan yang menganggap penampilan Dicky Cheung yang tanpa rambut membuatnya terlihat seperti pria paruh baya, dan tidak peduli pula dengan seberapa banyak orang yang menyarankan Dicky Cheung untuk kembali memelihara rambut indahnya, ia tetap pada pendirian untuk membuktikan kepada dunia bahwa ia dapat sukses di dunia hiburan, walau tanpa sehelai rambut pun! 2 dekade berlalu, Dicky Cheung pun membuktikan, ia tetap bernilai dan diterima para penggemar, dan nilai tersebut tidak semata terletak pada bulu dan rambut dari sosok Sun Wukong yang pernah ia perankan. Selain masih sangat aktif bermain film, Dicky Cheung juga masih cukup aktif muncul di berbagai acara televisi luar negeri membawakan berbagai lagu. Secara tidak langsung, Dicky Cheung juga telah mengajarkan kepada kita agar tidak terpaku pada suatu kondisi, tetapi tingkatkan terus keterampilan,maka siapa saja adalah bernilai, tak peduli dalam penampilan apa pun! Salut untuk Zhang Wei Jian, Sang Kera Sakti tanpa rambut!Saturday, October 19, 2024
Kisah Miris di Balik Hilangnya Rambut Kera Sakti
Anak 80-an, pastilah pada kenal dengan sosok Kera Sakti, Sun Wukong yang dulunya sering tayang di televisi lokal! Journey to The West versi Hongkong yang terbagi menjadi 3 season tersebut, dibintangi oleh dua aktor berbeda, yaitu Dicky Cheung pada season 1 dan 3, kemudian Benny Chan pada season 2. Konon, hal tersebut dikarenakan masalah honor. Dan banyak pula yang setuju, Kera Sakti versi Dicky Cheung lebih 'greget' dibandingkan yang versi Benny Chan, di masa Dicky Cheung memang lebih lincah, ekspresinya lebih hidup, dan segalanya deh, Dicky Cheung lebih pas dengan peran tersebut!
Bila kalian adalah seorang yang kini sudah dewasa (atau tua) dan masih mencoba menggali atau kebetulan menemukan informasi para pemain Kera Sakti tersebut, Anda pasti tahu, si kera tampan, Dicky Cheung kini telah menjadi berpenampilan botak! Bahkan, penampilan tersebut sudah dipertahankan 2 dekade lebih, sementara di masa lalu ketika Dicky Cheung masih berambut, dia sebenarnya merupakan aktor remaja Hongkong yang memiliki paras di atas rata-rata aktor sebaya lainnya. Selama 2 dekade tersebut juga, tak pernah ada yang tahu, apa sebenarnya yang terjadi dengan rambut indah Dicky Cheung yang tidak pernah terlihat lagi. Sebagian netizen luar negeri hanya berspekulasi kalau Dicky Cheung mengalami masalah rontok yang bisa saja dialami siapa saja.
Hingga ketika artikel ini ditulis, belum ada yang membahas tentang rambut si kera tampan idola kita ini di Indonesia, di mana di media Hongkong pun baru beberapa tahun terakhir Dicky Cheung menceritakan kepada publik bahwa apa sebenarnya yang telah membuatnya menjadi berpenampilan botak selama 2 dekade lebih!
Jadi, Dicky Cheung menceritakan bahwa sebenarnya tidak ada masalah kesehatan yang terjadi pada rambutnya, di mana rambut tersebut sebenarnya masih bisa tumbuh secara normal. Tetapi, ia memilih mencukur rambut tersebut, oleh karena sindiran seorang senior di masa lalu, di mana ketika itu ia telah menjadi sangat terkenal di Hongkong, setelah memerankan Sun Wukong yang penuh dengan bulu dan rambut di sekujur tubuh. Kala itu, Dicky Cheung ditawari sebuah peran lain yang tidak mengharuskan dirinya berbalutkan kostum bulu dan rambut. Lantas Dicky Cheung mencoba meminta honor yang sebenarnya masih sangat wajar, tetapi di luar dugaan senior tersebut malah melontarkan kalimat yang membuat Dicky Cheung merasa amat tersinggung.
Posted by Art Dimension
Art Dimension Updated at: 11:46 PM
Saturday, September 28, 2024
Cara Instal Racing Master Jepang
Baru-baru ini, pencinta game balap tanah air mendapatkan kejutan indah dengan hadirnya Racing Master di Google Play Store, di mana game multi platform tersebut diunggulkan dengan grafis yang sangat memukau! Sayangnya, game tersebut berstatus beta test dan dalam sekejap saja sudah kembali menghilang dari Google Play Store, kemudian dilakukan penutupan server dan mengakibatkan semua pemain Indonesia tidak dapat memainkannya lagi. Banyak yang kecewa dan mengaku setelah mendownload hingga belasan GB, hanya sempat memainkannya beberapa hari. Sementara itu, tidak ada kejelasan dari pengembang kapan game tersebut akan dirilis secara resmi. Selain Indonesia, beberapa negara lain malah telah menunggu rilis resmi lebih lama tanpa ada kejelasan.
Namun, di balik ketidakjelasan tersebut, ternyata Racing Master diam-diam telah dirilis secara resmi di Jepang! Untuk itu, pada kesempatan kali ini Art Dimension bakal menjelaskan kepadamu cara untuk bermain Racing Master versi Jepang, di mana kita dapat menggunakan server dari negara tersebut. Secara default, game versi Jepang tersebut tidak tersedia pada Google Play Store Indonesia. Untuk itu, ikuti step by step berikut:
1. Visit link berikut.
2. Tap tombol "Download via QooApp" yang terdapat di bawah layar.
3. QooApp APK akan terdownload ke ponsel. Instal dan login dengan Google.
4. Setelah login, gunakanlah mesin pencari dengan kata kunci "racing master", untuk menemukan game tersebut. Penting, game mungkin tidak langsung terlihat di atas. Gulir layar secara perlahan hingga menemukannya, kemudian tap "Pasang".
Dengan keempat step di atas, kini Racing Master telah berhasil terinstal ke ponsel. Dalam beberapa kasus, ponsel mungkin meminta izin penginstalan lewat QooApp, silakan diizinkan saja.
Meskipun versi Jepang, Racing Master bisa disetting menjadi menggunakan bahasa Inggris, sehingga lebih mudah dipahami. Namun, antara versi Jepang dan versi beta test adalah menggunakan server yang berbeda, sehingga kita tidak dapat melanjutkan progres permainan sebelumnya. Meskipun demikian, dengan alur permainan serta visual yang memukau, harusnya tidak ada yang berkeberatan kalaupun harus bermain ulang. Setuju?!
Posted by Art Dimension
Art Dimension Updated at: 1:28 PM
Monday, July 4, 2022
Bermain Final Fantasy VII Remake di Ponsel Android
Tetapi, melalui postingan kali ini kita akan mempelajari cara untuk memainkan FFVIIR secara mobile, dengan OS Android. Namun, perlu digarisbawahi, metode yang bakal kita terapkan kali ini bisa dikatakan tidak gratis. Kita memang tidak harus membayar mahal untuk sebuah konsol atau PC berspesifikasi tinggi, tetapi--untuk kenyamanan selama permainan--akan diperlukan biaya-biaya lainnya. Dan langsung kita praktikkan jika kamu setuju dan bersedia untuk tidak mengeluh!
1. Buka Play Store dan instal Chikii. Jika tidak ditemukan, silakan cari di Google dengan keyword "chikii apk". Pastikan setting ponsel sudah mendukung penginstalasian apk dari sumber lain, jika yang kamu instal bukan yang bersumber dari Play Store.
2. Setelah Chikii terinstal, lakukan login dengan FB, isi data yang diminta, seperti nama, tgl lahir, dan gender. Untuk mendapatkan bonus ekstra, masukkan kode invite 1YOZE.
3. Chikii sudah berhasil dijalankan. Kamu bisa langsung menemukan game FFVIIR dengan mencarinya pada mesin telusur di bagian atas Chikii, dengan keyword "final fantasy".
Dengan ditemukannya game FFVIIR, kamu sudah bisa memainkannya dengan tap tombol MAIN. Namun, seperti yang dijelaskan di awal, ini tidak gratis dan sebaiknya kamu menuntaskan membaca postingan ini agar mengerti cara kerja Chikii.
Sistem kerja Chikii sama seperti rental game, di mana kita akan dikenakan tarif 2 koin / menit. Koin sendiri bisa didapatkan secara gratis apabila kita rutin checkin di Chikii, menyelesaikan misi yang disediakan, atau menonton iklan. Namun, jika kamu ingin bermain secara nyaman tanpa galau kehabisan koin, kamu bisa melakukan topup minimum 0.99 USD (15 ribu rupiah) untuk 120 koin (1 jam permainan).
Selain itu, sama halnya seperti rental sungguhan yang tidak hanya melayani kamu seorang, terlebih Chikii melayani pengguna secara internasional, di setiap akan memasuki permainan kamu harus mengambil antrean. Semakin populer sebuah game, semakin panjang antreannya. Terkadang itu bisa menembus angka 999+ yang berarti mustahil untuk mendapatkan giliran. Dan solusi untuk mempersingkat antrean ialah:
1. Menggunakan tiket percepatan yang bisa kamu dapatkan di setiap melakukan topup koin. Misalkan antrean angka 999+, bakal menjadi 20-30an. Kurang lebih 5 - 15 menit untuk mendapatkan giliran. Sayangnya, tiket percepatan jumlahnya terbatas dan tidak dapat secara khusus dibeli, selain sebagai hadiah topup (bonus 1 tiket untuk setiap 120 koin).
2. Solusi kedua yang lebih efisien, jadilah member VIP, maka kamu bakal mendapatkan angka 2 - 14. Kurang lebih 0 - 5 menit untuk mendapatkan giliran. Member VIP sendiri normalnya dibanderol 20.99 USD / Minggu. Namun, biasanya akan ada tawaran khusus dengan harga 2.99 USD / Minggu, atau sekitar 45 ribu rupiah.
Menjadi member VIP layak dipertimbangkan. Selain efektif dalam mempersingkat antrean, member VIP biasanya mendapatkan bonus lebih banyak, dan juga jumlah topup koin yang berlipat ganda. Dengan 0.99 USD, member VIP bisa mendapatkan 240 koin (tergantung promo yang berlaku). Member VIP juga memungkinkan kita save permainan secara online, menjalankan visual secara HD.
Kamu mungkin membayangkan kalau bermain FFVIIR melalui Chikii bakalan memakan biaya mahal serta ribet. Kenyataannya tidak. Selama kamu berlangganan VIP, akan ada banyak cara yang memungkinkanmu untuk mendapatkan koin gratis.
Sebagai contoh, saya telah memainkan FFVIIR selama 11 jam. Jika perhitungan kasarnya 1 jam = 15 ribu rupiah , maka 11 jam ialah 165 ribu rupiah. Namun, sejauh ini biaya yang saya keluarkan--entah untuk topup maupun langganan VIP--'hanya' sejumlah 150 ribu rupiah, dan saya masih memiliki simpanan 1560 koin untuk 13 jam durasi permainan. Singkatnya, dengan 150 ribu rupiah, saya telah memiliki jatah main 24 jam, dan berarti 1 jam hanya membutuhkan 6.250 rupiah. Tidak hanya itu, selama sisa waktu 13 jam yang ada, kemungkinan saya masih akan dapat mengumpulkan koin gratis lainnya.
Selain FFVIIR, Chikii juga memungkinkan kita untuk memainkan beragam game PC lainnya. Berbeda dari emulator yang masih memiliki banyak bugs grafis, Chikii berjalan sangat lancar di bawah koneksi internet yang stabil, di mana setiap permainan adalah diolah pada komputer tangguh milik Chikii yang berada di jarak jauh, sementara app Chikii pada perangkat mobile kita hanya berfungsi sebagai remote pengendali serta penerima citra layar. Dengan trik demikianlah, Chikii dapat berjalan sangat lancar, bahkan pada game bergrafis tinggi sekelas FFVIIR. Kamu wajib coba!
Posted by Art Dimension
Art Dimension Updated at: 11:47 PM
Monday, February 24, 2020
Review Speaker Bose Companion 2 Series III
Berbicara soal speaker untuk komputer, terdapat banyak
pilihan dari berbagai merek hingga harga. Ada yang hanya ratusan ribu, ada pula
yang jutaan rupiah! Apa bedanya? Ataukah sama saja?
Pada postingan kali ini, kita bakal mereview sebuah speaker
yang telah penulis coba sendiri. Meskipun speaker ini bukan lagi model terbaru,
setidaknya terdapat beberapa alasan unik mengapa speaker ini masih layak
direview, semisal harganya yang tidak termasuk murah sehingga beberapa dari
kita masih banyak pertimbangan untuk membelinya, brand yang sudah tidak asing serta
tidak diragukan lagi, hingga rating tingginya di situs jual-beli Amazon. Yup, sesuai judul, speaker yang bakal kita
review ialah Bose Companion 2 Series III, keluaran 2013.
Packing dan Kelengkapan
Produk Bose Companion 2 Series III hanya terdiri dari dua
satelit utama, speaker kiri dan kanan. Tidak ada woofer, subwoofer, ataupun
yang lainnya. Meskipun demikian, penjelasan di paragraf ini tidaklah mewakili
kualitas suara yang dihasilkan. Kita akan membahasnya lebih lanjut nanti.
Untuk packing Bose Companion 2 Series III, hanya berupa
kardus yang mencetak gambar produk, dominan putih. Tetapi, di bagian dalamnya
terlihat sangat aman, di mana di setiap sudut blister pembungkus satelit speaker
diberi sekat sehingga tidak takut terbentur.
Dalam paket pembelian, telah disediakan berbagai kabel yang
dibutuhkan, dan juga berbagai model konektor colokan pada dinding, sehingga
begitu beli kita sudah bisa langsung mengoperasikan Bose Companion 2 Series
III. Perlengkapan kabel sangat lengkap dalam satu kotak kecil. Hal ini
berimbang dengan produk yang dibanderol tinggi, sekitar 2.3 juta bila order
dari official store Bose Indonesia, atau 3 juta untuk toko fisik.
Dari perusaan Bose juga memberikan jaminan garansi 1 tahun.
Tetapi, karena penulis membeli Bose Companion 2 Series III secara online, agak
ragu juga dengan proses klaim garansi. Apalagi agen Bose tidak ada di semua
kota. Tetapi, berdasarkan pengalaman menggunakan produk Bose pada perangkat
multimedia di ruang keluarga, merek satu ini umumnya bandel, bisa bertahan
hingga belasan tahun atau mungkin puluhan tahun, tanpa sedikitpun kendala.
Jadi, ada atau tidaknya garansi semestinya tidak menjadi pertimbangan utama
untuk membeli produk ini.
Desain dan Fitur
Sebagai produk elektronik keluaran 2013, Bose Companion 2
Series III tidak bisa dikatakan memiliki desain yang modern. Speaker ini masih mengusung
desain klasik di mana kabel-kabel masih menjadi alat penghubung antara kedua
satelit utama speaker, kemudian juga komputer atau laptop. Tidak ada koneksi
bluetooth, tidak ada slot micro SD ataupun flashdisk, dan apalagi remote
control. Speaker ini masih benar-benar mengusung desain klasik, di mana
pengaturan volumenya juga masih mengandalkan tombol putar, bukan seperti
saudara-saudara generasi penerusnya yang telah menggunakan panel sentuh.
Positifnya, tombol putar kelihatannya masih jauh lebih kokoh dibanding panel
sentuh.
Desain klasik dari Bose Companion 2 Series III mungkin tidak
cocok dengan kaum yang lebih mengutamakan modernisasi, kaum yang lebih
mementingkan gaya dan fitur-fitur kekinian seperti bluetooth, remote control,
atau bahkan FM Radio. Produk ini benar-benar hanyalah sebuah speaker standar.
Tetapi, soal fitur bluetooth, hal tersebut bisa diakali dengan penambahan
sebuah alat yang disebut “bluetooth audio receiver” seharga 10 ribuan, yang
bisa dengan mudah ditemukan di berbagai online shop. Dan speaker yang awalnya tanpa
berfitur bluetooth pun ‘tersihir’ menjadi speaker berfitur tersebut. Hitung-hitung,
ini jauh lebih ekonomis dibanding bila Bose sendiri menanamkan fitur itu, maka
harga jualnya mungkin bakal 3.5 juta ke atas!
Bose Companion 2 Series III juga tidak memiliki banyak
tombol pengaturan seperti bass dan lain sebagainya, dan benar-benar hanya
memiliki satu buah tombol putar tunggal yang tepat berada di atas sebuah slot
audiojack untuk kepentingan headset, di bagian satelit kanan. Tombol putar ini
juga merangkap sebagai switch on/off,
tidak ada lampu indikator, selain isyarat klik yang bisa terasa ketika volume
diturunkan hingga kandas. Meskipun sederhana, tetapi ini menarik karena baik
tombol putar dan slot audiojack berada di depan, sangat mudah diakses.
Bagian belakang dari satelit kanan memiliki slot untuk kabel
penghubung ke satelit kiri, power DC, slot untuk kabel penghubung ke komputer,
dan slot AUX yang bisa menghubungkan berbagai perangkat media termasuk ponsel. Antara
slot komputer dan slot AUX kelihatannya merupakan slot dengan fungsi yang sama
persis. Sementara pada satelit kiri benar-benar clear, selain sebuah kabel di
bagian belakang untuk terhubung dengan satelit kanan.
Soal desain, hal yang benar-benar menjadi nilai plus dari
Bose Companion 2 Series III ialah ukurannya yang compact, hanya 19x8x15 cm per
satelit, tidak butuh space yang lebar, bahkan speaker ini juga tidak membutuhkan
unit woofer yang umumnya sangat besar. Dan layaknya barang berkualitas lainnya,
meskipun kedua satelit sangat kecil, secara bobot terasa berat dan padat. Total
kedua satelit kira-kira ada 1.8 KG.
Bahan dari body Bose Companion 2 Series III juga terasa
berkualitas, keras dan tidak mudah rusak. Sayangnya, bagian logo Bose hanya
mengandalkan cetak, tidak terlalu jelas, berbeda dari sejumlah merek lain yang
menggunakan plat timbul. Padahal, Bose merupakan merek kelas dunia, logonya
harus lebih menonjol. Tapi, lagi-lagi karena ini Bose, jika logo ini dibuat
sebagai plat timbul, jangan-jangan harga jualnya juga bakal meningkat entah
berapa ratus ribu.
Kualitas Audio
Ini bagian yang paling menarik serta poin yang membuat Bose
layak dihargai tinggi. Meskipun berukuran compact, tidak memiliki woofer, suara
yang dihasilkan Bose Companion 2 Series III tidaklah kalah dari speaker besar
yang bisa dibeli hanya dengan budget 300-an ribu. Lebih tepatnya, speaker
300-an ribu terlalu mustahil menyaingi kualitas audio dari ‘monster’ kecil
milik Bose.
Dalam berbagai kesempatan penulis telah menjajal berbagai
merek speaker komputer yang umumnya memiliki size yang lebih bongsor dengan
adanya unit woofer yang berfungsi menghadirkan nada rendah atau bass. Kebanyakan,
audio yang dihasilkan malah terdengar buram, tenggelam di antara bass yang
terasa lebay, hingga suara yang pecah ketika berada di atas 70% volume. Pada
Bose Companion 2 Series III yang tanpa dibekali woofer, bass yang dihasilkan
ternyata malah sangat unggul dan terasa empuk.
Berbeda dari sejumlah speaker lain yang mengedepankan
spesifikasi entah berapa watts, PMPO, dan berbagai istilah lainnya yang
sebenarnya tidak dipahami pengguna awam selain berasumsi makin tingginya angka
adalah makin baik, Bose malah tidak pernah mencantumkan semua itu pada varian
speaker Companion, selain klaim bahwa teknologi TrueSpace yang dikembangkan
mereka mampu untuk menghasilkan suara yang luas, nyata, detail, dan nyaman di
setiap tingkat volume. Dan benar saja, membandingkan dengan speaker komputer
lain, dalam menjalankan suatu lagu, akan membuat kita menyadari adanya
detail-detail musik nada rendah yang terdengar sangat jelas melalui Bose
Companion 2 Series III. Di speaker lain, terlalu banyak detail musik yang
terkorupsi.
Sedikit kekurangan ialah dalam menjalankan lagu dengan audio
yang terlalu low quality, volume Bose menjadi terasa kurang nyaring. Butuh
sedikit meningkatkan volumenya. Bose Companion 2 Series III bukan tidak dapat
menjalankan audio dengan keras, tetapi ada perbedaan kontras antara tingkat volume
dari audio low quality dan high quality, sehingga ketika mendengarkan suatu playlist
yang terdari dari audio berbeda kualitas, kita menjadi lebih sering menyetel
tingkat volume.
Overall, Bose Companion 2 Series III lebih dari cukup untuk
penikmat musik pada umumnya. Namun, mungkin itu tidaklah cukup bagi seorang
yang bergerak di bidang pekerjaan yang berhubungan erat dengan musik, semisal
penyanyi atau komposer. Harga 2.3 juta memang terasa mahal untuk sebuah speaker
komputer. Tetapi, itu adalah sangat murah untuk menikmati kualitas audio dari
teknologi yang dikembangkan Bose.
Foto: Amazon.com
Posted by Art Dimension
Art Dimension Updated at: 9:51 AM
Saturday, March 23, 2019
Cross Ange: Putri yang Kehilangan Mahkota
Berbicara tentang anime, pasti yang pertama timbul di benak
kita ya itu-itu saja, seperti Naruto, One Piece, Dragon Ball, atau Inu-Yasha.
Di luar itu, ratusan hingga ribuan judul anime mungkin jarang dikenal. Tidak
heran kalau mempertimbangkan dari segi episode. Kecuali Inu-Yasha, ketiga judul
lain yang tersebut di atas rata-rata ditayangkan sepanjang masa. Episodenya sangat
banyak, sanggup menemani seseorang dari bayi hingga dewasa. Ya, mau tidak mau,
saat kamu tidak mengenal ketiganya, pasti ada teman atau saudaramu yang
membahasnya!
Tetapi, bukan berarti anime dengan sedikit episode itu kalah
menarik. Seperti halnya anime dengan judul Cross Ange (dibaca: En Ji), 25
episode, yang baru-baru ini saya nonton, dan hingga artikel ini ditulis saya juga
baru menontonnya hingga episode ke-8. Meskipun demikian, kesan dari alur yang
ditawarkan cukup kuat dan menurut saya cukup berkualitas. Bagi kalian yang
sudah pernah tahu anime ini, atau tahu-tahu sedikit dari bocoran gambar atau
video di Google, mungkin banyak dari kalian yang mulai berpikir melenceng ke
arah ‘sana’. Ya, tentang tontonan yang sudah pasti enggak bakal tayang di
Indonesia, tentang visual-visual yang memang sangat dianti bagi sebagian orang.
Tetapi, saya di sini, menulis artikel ini, dengan pandangan sebagai seorang
pelaku kreatif dalam menciptakan sebuah ide cerita, penokohan, dan juga alur. Artikel
ini murni mengupas dari segi cerita. Oke?!
Terbayang tidak, bagaimana ketika kita sangat membenci
sebuah makhluk, menghina dan menganggap makhluk itu kotor, misalkan saja kecoa
yang sering bersembunyi di WC, hitam, jelek, bau, dan tiba-tiba suatu hari kita
menjadi makhluk itu, dan harus hidup dengan cara makhluk itu?! Inilah yang
terjadi kepada Angelise, seorang putri cantik dari sebuah kerajaan yang gaya
berbusananya kerap menjadi sebuah tren, dan diidolakan oleh seluruh masyarakat.
Tunggu! Angelise bukan menjadi kecoa ya...?! Kecoa hanya sebuah perumpamaan.
To the point, di dunia Angelise, di mana ayahnya memimpin,
terdapat dua golongan manusia, yaitu manusia Mana yang menguasai sihir, dan
manusia Norma yang tidak menguasai sihir, dianggap sampah, berbahaya, anti
sosial, dan umumnya ketika seseorang diketahui sebagai seorang Norma maka akan
langsung dikarantina, untuk kemudian dibunuh atau dijadikan prajurit di sebuah
pulau terpencil. Para manusia Mana tidak segan ‘membuang’ seorang Norma,
termasuk sang putri yang sama sekali tidak berbelas kasih terhadap seorang bayi
yang diketahui terlahir sebagai Norma, di suatu perjalanan pulang menuju istana.
“Lahirlah lagi seorang anak lain, anak sungguhan, bukan Norma,” inilah kalimat
yang sempat diucapkan Angelise di tengah pecahnya tangis sesosok bayi dan sang
ibu bayi. Ya, ‘anak sungguhan’, mengandung arti bahwa Norma bukanlah anak, bukanlah
manusia.
Tragisnya, di balik semua ketegasan Angelise dalam menyingkirkan
Norma, baru terkuak bahwa ternyata Angelise sendiri juga terlahir sebagai Norma,
pas ketika usianya mencapai 16 tahun, di mana ia harus hadir di publik,
dibabtis sebagai putri mahkota, dan membuktikan kepada rakyatnya kalau dirinya
murni merupakan seorang manusia Mana. Berbagai teknologi untuk memalsukan hasil
pembuktian yang juga menggunakan teknologi canggih sebenarnya telah
dipersiapkan oleh kedua orangtua Angelise yang menyembunyikan kenyataan itu.
Sayangnya, momen tersebut ternyata telah ditunggu-tunggu oleh abang Angelise
untuk melancarkan kudeta, yang kemudian menggagalkan pemalsuan hasil pembuktian.
Kerusuhan pun terjadi di mana orang-orang sibuk meringkus
sang putri. Insiden itu pun merenggut nyawa sang ratu (mama Angelise), serta mengakhiri
kerajaan mereka di bawah aksi kudeta sang abang. Tidak mendapatkan perlakuan
khusus, Angelise juga dikirim ke pulau terpencil di mana para Norma dipaksa menjadi
prajurit yang berperang melawan naga-naga raksasa. Segala kenaan/perhiasaan
atribut bangsawan pun ditanggalkan, termasuk nama Angelise yang diganti menjadi
Ange.
Ange atau Angelise yang selama ini hidup dalam kemewahan
sangat sulit menerima kenyataan itu, dan tetap merasa dirinya adalah seorang
Mana terhormat yang tidak sepantasnya hidup berbaur dengan para Norma yang
terhina. Sayangnya, Angelise tidak dapat membuktikan hal itu, dan ia juga tidak
memiliki kemampuan sihir layaknya manusia Mana lainnya. Selama ini ia mengira
kalau itu hanya masalah waktu hingga kemampuan itu ada pada dirinya. Nyatanya,
sedari kecil kedua orangtuanya telah menyiapkan seorang pelayan yang selalu
mewakilinya menggunakan sihir dalam berbagai kepentingan melindungi diri,
sehingga tidak pernah ada yang menyadari sang putri tidak pernah sekali pun
menunjukkan sihirnya. Semua hanya berpikir sang putri tidak perlu melakukan hal
itu sendiri selama didampingi pelayannya.
Kehidupan Ange berubah total. Ia tidak dapat akur dengan
siapa pun, dan mendapat banyak musuh yang benci dengan sikapnya yang dianggap
sok lembut. Kalaupun ada pula beberapa Norma yang demikian terkesan dengan
seorang putri yang cantik dan mencoba akrab, Ange tetap tertutup untuk menerima
Norma. Ia tetap merasa ia adalah Mana, dan kenyataannya ia memang dibesarkan
dengan cara membesarkan seorang Mana. Kenakanlah pakaian bekas prajurit mati
yang masih menempel bekas darah, atau jadilah seorang yang telanjang. Makanlah
makanan seadanya, atau mati kelaparan. Di sana, Ange juga dipaksa untuk belajar
mengendalikan sebuah robot mesin raksasa (semacam Gundam) yang akan digunakan
dalam pertempuran melawan naga raksasa. Mengapa para Norma harus melakukan
semua itu, perlahan Ange baru menyadari kalau di balik perdamaian yang tercipta
dalam kehidupan para Mana, sesungguhnya itu berkat perjuangan para Norma yang
menjaga area perbatasan antara manusia dan naga. Ada yang berjuang hingga
kehilangan sebelah tangan, mata, atau bahkan mati tanpa jasad.
Ange adalah seorang mantan putri yang jelas mendapatkan pendidikan
lebih baik dari yang lainnya. Ia terampil dan mudah menguasai cara mengoperasikan
robot mesin raksasanya. Hanya saja, pada pertempuran perdananya mengendalikan
benda itu di alam bebas, hal pertama yang dilakukan Ange justru mencoba kabur
dan kembali ke kerajaannya. Akibat keegoisan itu, Ange merusak formasi dan
strategi pertempuran, lantas menewaskan tiga anggota seperjuangannya termasuk
sang kapten, dan ia sendiri juga mendapatkan luka parah di sekujur tubuh. Tidak
hanya luka, Ange juga menjadi semakin dibenci, dan juga diharuskan bertanggung
jawab membuatkan tiga buah kuburan untuk orang-orang yang telah dicelakainya.
Saat membuat kuburan itu, Ange lantas menyadari bahwa setiap
Norma yang telah meninggal berhak menggunakan kembali nama kelahirannya di permukaan
batu nisan. Bagaimana jika itu terjadi pada dirinya? Bukankah ia akan kembali
bernama Angelise?!
Tidak memiliki jalan untuk kembali ke kehidupan yang
sebelumnya, kehilangan kedua orang tua, Ange tiba-tiba berpikiran pendek untuk
lekas mengakhiri hidupnya di pertempuran berikutnya. Seakan tidak peduli dengan
keinginan gilanya, dan juga kejadian sebelumnya Ange memang sudah mengakibatkan
kerusakan empat buah robot mesin raksasa, komandan dan para petinggi memutuskan
untuk memberikan sebuah robot mesin raksasa rongsokan kepada Ange untuk
pertempuran berikutnya. Detik-detik terakhir dari aksi bunuh diri Ange yang
menerobos area naga raksasa begitu saja, rasa takut akan kematian menyergap, disertai
terngiangnya pesan terakhir ratu yang meminta Angelise untuk tetap hidup. Siapa
sangka, Ange ternyata sangat terampil mengendalikan robot itu melebihi siapa
pun. Aksi menerobos area naga raksasa itu lantas diubah menjadi peluang besar
untuk melancarkan serangan akhir!
Sedari awal antara Ange dan robot mesing rongsokan itu
memang seakan memiliki ikatan khusus. Ange mungkin juga memiliki kemampuan
tersembunyi lainnya, meskipun ia tidak dapat membuktikan dirinya sebagai
seorang Mana. Bisa juga seperti apa yang diyakininya, hanya masalah waktu hingga
ia menguasai sihir sebagai seorang Mana. Kalian harus menontonnya sendiri untuk
menemukan jawaban
Cross Ange menjadi cerita yang penuh perjuangan bagi Ange,
di antara aksi perundungan dari musuhnya, bagaimana ketika ia harus membuka
diri menerima sahabat baru yang merupakan manusia Norma, hingga bagaimana
ketika ia harus menyerahkan cintanya kepada seorang pria yang menyelamatkan
hidupnya.
Overall, anime yang divisualkan Sunrise ini sangat layak untuk ditonton. Bagi
pencinta anime pasti tahu, studio Sunrise merupakan studio yang selalu
menghadirkan anime-anime dengan grafis berkualitas atau di atas rata-rata. Cross
Ange bahkan semestinya lebih menarik, seandainya tanpa dibumbui adegan-adegan yang
otomatis menjadikan film ini tidak leluasa ditonton bareng keluarga di ruang
tengah. Semoga saja ke depannya Cross Ange dapat digarap sebagai live action yang
dapat ditonton bareng keluarga, tanpa pengkategorian umur.
Posted by Art Dimension
Art Dimension Updated at: 12:06 PM
Wednesday, August 15, 2018
Review Kabel Data Micro USB Remax Joy
Melalui pos kali ini, Art Dimension akan mereview sebuah
barang kecil yang tergolong sangat murah. Meskipun di sini kita menyebutnya
barang kecil, tetap saja barang satu ini akan menjadi amat penting untuk kita
semua, dalam menunjang aktivitas mobilitas kita sehari-hari. Barang tersebut
tak lain ialah kabel data!
Tidak terpungkiri, memilih kabel data memang perlu
memperhatikan kualitas, mengingat barang tersebutlah yang berfungsi mengalirkan
arus listrik untuk mengisi baterai pada gawai kita. Salah memilih kabel data,
mungkin akan terjadi arus pendek, merusak komponen di dalam gawai, atau bahkan
terbakar/meledak, dan membahayakan nyawa penggunanya. Dan sesuai dengan judul,
kabel data yang akan Art Dimension review ialah Remax Joy, jenis Micro USB.
Seperti Apakah Remax Joy?
Remax sendiri sebenarnya merupakan brand khusus aksesori
gawai asal Tiongkok yang memproduksi produk-produk mereka melalui pabrik di
Hongkong, dan sudah cukup ternama. Dan khusus untuk produk kabel data Joy, di
Indonesia Remax bekerja sama dengan JD.id untuk memasarkannya. Praktis, selain
hanya ditempeli sebuah sticker logo Remax, kemasan Remax Joy terkesan lebih
mempromosikan JD.id. Bahkan ketika Anda mencoba membeli Joy melalui webstore
selain JD.id, kemasan Joy tetap saja mempromosikan JD.id. Tentu saja hal
tersebut dikarenakan si penjual memang memasok barang tersebut dari JD.id.
Berapakah harga Remax Joy?
Remax Joy dibanderol dengan harga yang tergolong sangat
terjangkau, yaitu 20 ribu rupiah, dengan pilihan warna hitam dan putih. Dalam
momen tertentu, Joy juga dapat dibeli hanya dengan harga 5 ribu rupiah!
Bayangkan saja, sebungkus sarapan pun sudah seharga 10 hingga 30 ribu rupiah,
Joy hanya seharga 5 ribu rupiah! Dan pemesanan melalui JD.id adalah free ongkos
kirim! Meskipun demikian, di sini kita tetap akan mereview Joy sebagai produk
seharga 20 ribu rupiah, karena momen promosi Joy seharga 5 ribu rupiah adalah
sesuatu yang tidak dapat diprediksi, apakah ke depannya masih ada atau tidak.
Apakah Remax Joy Berkualitas?
Meskipun Remax Joy hanya seharga 20 ribu rupiah, secara
tercantum pada kemasan tersebut, Joy berani memberikan garansi selama 6 bulan,
yang berarti setara dengan garansi resmi yang diberikan Samsung untuk
produk-produk charger dan kabel data. Namun, karena ini hanya benda seharga 20
ribu rupiah yang kita beli secara online, rasanya tidak akan ada dari kita yang
bersedia menghabiskan ongkos kirim balik benda rusak itu, untuk melakukan klaim
garansi. Lagipula, tidak dijelaskan pula di mana lokasi yang tepat untuk klaim
garansi.
Secara material yang digunakan ialah PVC. Remax mengklaim
kalau Joy merupakan kabel yang sangat kuat dan tidak mudah patah. Bahan utama
yang digunakan sebagai penghantar listrik ialah tembaga.
Apa Saja Fitur yang Ditawarkan Remax Joy?
Seperti kabel data pada umumnya, Remax Joy bisa digunakan
untuk mengisi daya langsung dari dinding, maupun transfer file dengan PC. Daya
output yang dimiliki 1.3A, yang sekaligus menjelaskan kalau Joy belum
benar-benar support quick charger. Meskipun demikian, pada praktik langsung,
tidak ada keluhan terkait kecepatan pengisian daya yang ditawarkan Joy. Untuk
kepentingan transfer file dengan PC juga cukup stabil.
Seperti Apakah Remax Joy secara Fisik?
Dengan panjang 1 meter, tidak ada kesan premium pada fisik
Remax Joy. Kabel ini sangat halus. Meskipun demikian, dapat terasa perbedaan
kualitas lapisan luar yang dimiliki Joy dibandingkan kabel data lainnya. Pada
lapisan luar yang dimiliki kabel Joy terasa lebih kuat, tidak mudah pecah, dan
tetap elastis dengan permukaan berstruktur garis-garis lurus yang mengkilap.
Pada bagian lapisan kepala dari male Micro USB yang akan terhubung dengan gawai
terasa lebih compact dan dipastikan akan cocok dengan berbagai casing gawai.
Kesimpulan
Overall, dengan mempertimbangkan harga yang ditawarkan,
Remax Joy bisa dikatakan memiliki kualitas di atas harga. Secara logika, jika
bukan karena produk Joy dikhususkan untuk mempromosikan JD.id dan keduanya
bekerja sama, adalah mustahil untuk mendapatkan sebuah kabel dengan kinerja
akurat, hanya dengan anggaran 20 ribu rupiah, free ongkos kirim!
Terkait masalah halusnya kabel tersebut—dan meskipun terasa
cukup kuat—bisa diantisipasi dengan ‘memumisasi’-nya dengan selotip agar
bertambah tebal. Ya, penulis memang memiliki kebiasaan untuk ‘memumisasi’
setiap kabel data yang ada. Jadi jangan ragu untuk mencoba tip ini!
Bagi yang berminat membeli kabel ini—dan ini sama sekali
bukan promosi berbayar—silakan langsung saja klik di sini.
Posted by Art Dimension
Art Dimension Updated at: 9:24 PM
Thursday, March 15, 2018
Tren Ponsel Model Notch hingga Pengertian Ponsel Berponi
Bisnis perponselan yang kerap berada pada kondisi persaingan ketat seakan menuntut setiap vendor untuk terus berinovasi, baik dari segi spesifikasi, software, hingga desain yang ditawarkan. Dan baru-baru ini, salah satu tren baru yang ditawarkan oleh sejumlah vendor ialah ponsel dengan desain layar FullView FHD, di mana ukuran layar tersebut akan terlihat lebih lebar dan memanjang hingga menyebar di seluruh bagian depan ponsel.
Karena inovasi FullView FHD pula, vendor juga menemukan sebuah masalah yang cukup serius, di mana ponsel menjadi kehilangan ruang untuk penempatan kamera depan dan juga sensor. Dan untuk mengatasi hal tersebut, para vendor pun akhirnya mengusung desain dengan istilah notch (takikan) pada bagian atas layar, guna menggunakan ruang pada notch tersebut untuk penempatan kamera beserta sensor. Lebih lanjut, oleh sebab bentuk notch yang berada di bagian atas tengah, di Indonesia kemudian muncul pula istilah ponsel ber-‘poni’ untuk sejumlah ponsel model notch. Dan berikut ialah beberapa tipe ponsel berponi:
iPhone X
iPhone X diyakini sebagai pelopor dari ponsel berponi. Dan karena brand satu ini memang identik dengan pengguna kalangan atas, tak heran notch kemudian secara tidak langsung seakan standar desain dari tipe ponsel papan atas yang kemudian juga diusung sejumlah vendor lainnya.
Motofone F3
Jika menyebut iPhone X sebagai pelopor notch bagi ponsel cerdas masa kini, tentu itu benar. Namun, sebelum kita semua mengenal apa itu ponsel cerdas, model notch sebenarnya sudah pernah diadopsi pada ponsel Motofone F3 lawas. Dan fungsi notch pada masa itu ternyata bukan untuk penempatan kamera maupun sensor, melainkan sebuah logo Motorola.
Vivo V9
Meskipun masih tergolong vendor pendatang baru, tak terpungkiri bahwa Vivo juga menjadi salah satu vendor yang kerap mengejar berbagai tren kekinian. Melalui Vivo V9, hadir pula ponsel model notch.
Oppo R15
Sebagai pesaing ketat dari Vivo, Oppo juga memasarkan sebuah ponsel berponi, melalui seri Oppo R15. Bedanya, jika dibandingkan dengan poni yang dimiliki Vivo V9, kelihatannya vendor yang merajai sektor kamera ini memiliki ukuran poni yang lebih lebar.
Huawei P20
Tidak kalah dari Vivo dan Oppo, Huawei yang awalnya lebih dikenal sebagai vendor bagi produk-produk modem juga menghadirkan ponsel berponi pada tiga varian produknya, yaitu: Huawei P20; Huawei P20 Pro; Huawei P20 Lite.
Asus ZenFone 5Z
Daftar ponsel dengan notch selanjutnya ialah datang dari vendor Asus, yaitu ZenFone 5Z yang memiliki cukup banyak variasi dari segi spesifikasi, mulai dari yang hanya dibekali RAM 4 GB hingga 8 GB, kemudian memori internal dari 64 GB hingga 256 GB.
LG G7
Berbeda dengan Samsung yang masih tetap pada pendirian untuk tidak mengikuti tren yang dipelopori saingannya, meskipun sama-sama merupakan vendor asal Korea Selatan, LG ternyata juga meluncurkan sebuah ponsel berponi yang siap disejajarkan dengan ponsel flagship di tahun 2018. Seri dengan notch tersebut tak lain ialah LG G7.
Selain sejumlah ponsel yang disebutkan di atas, masih terdapat pula sejumlah ponsel dengan poni, semisal Doogee V5, Noa N10, Leagoo S9, kemudian Ulefone T2 dan Ulefone X. Lantas, manakah ponsel berponi yang paling memikat hati Anda?!
Tak terpungkiri, meskipun sejumlah ponsel berponi adalah ponsel flagship. tetapi bukan berarti setiap ponsel flagship wajib tampil berponi. Pada intinya kemunculan poni pada ponsel sebenarnya merupakan wujud penolakan vendor terhadap suatu desain ponsel yang memiliki bezel tebal dan terkesan ketinggalan zaman, sementara itu mereka juga masih harus memperhitungkan ke mana akan diletakkannya kamera beserta sensor. Akan tetapi, cara alternatif terlihat ada pada Vivo Apex, di mana keberadaan dari kamera terletak pada sebuah baki tersembunyi yang ada pada bagian atas ponsel.
Lagipula, secara pribadi menurut penulis konsep notch pada ponsel kurang begitu nyaman digunakan. Terlebih ketika kita sedang menonton film atau melihat-lihat foto, beberapa objek yang berada di pinggir akan terhalang oleh objek poni. Mungkin dengan pertimbangan serupa pula, berdasarkan rumor yang beredar, walau belum juga memiliki satu pun ponsel berponi, Samsung kelihatannya tengah mengembangkan teknologi yang memungkinkan suatu kamera beserta sensor yang terbenam di balik layar.
Karena inovasi FullView FHD pula, vendor juga menemukan sebuah masalah yang cukup serius, di mana ponsel menjadi kehilangan ruang untuk penempatan kamera depan dan juga sensor. Dan untuk mengatasi hal tersebut, para vendor pun akhirnya mengusung desain dengan istilah notch (takikan) pada bagian atas layar, guna menggunakan ruang pada notch tersebut untuk penempatan kamera beserta sensor. Lebih lanjut, oleh sebab bentuk notch yang berada di bagian atas tengah, di Indonesia kemudian muncul pula istilah ponsel ber-‘poni’ untuk sejumlah ponsel model notch. Dan berikut ialah beberapa tipe ponsel berponi:
iPhone X
![]() |
| Gambar: www.t-mobile.com |
Motofone F3
![]() |
| Gambar: www.amazon.com |
Vivo V9
![]() |
| Gambar: www.planetofmobile.com |
Oppo R15
![]() |
| Gambar: http://id.priceprice.com |
Huawei P20
![]() |
| Gambar: www.androidauthority.net |
Asus ZenFone 5Z
![]() |
| Gambar: www.pricebaba.com |
LG G7
![]() |
| Gambar: www.phonearena.com |
Selain sejumlah ponsel yang disebutkan di atas, masih terdapat pula sejumlah ponsel dengan poni, semisal Doogee V5, Noa N10, Leagoo S9, kemudian Ulefone T2 dan Ulefone X. Lantas, manakah ponsel berponi yang paling memikat hati Anda?!
Tak terpungkiri, meskipun sejumlah ponsel berponi adalah ponsel flagship. tetapi bukan berarti setiap ponsel flagship wajib tampil berponi. Pada intinya kemunculan poni pada ponsel sebenarnya merupakan wujud penolakan vendor terhadap suatu desain ponsel yang memiliki bezel tebal dan terkesan ketinggalan zaman, sementara itu mereka juga masih harus memperhitungkan ke mana akan diletakkannya kamera beserta sensor. Akan tetapi, cara alternatif terlihat ada pada Vivo Apex, di mana keberadaan dari kamera terletak pada sebuah baki tersembunyi yang ada pada bagian atas ponsel.
![]() |
| Gambar: www.androidpolice.com |
Posted by Art Dimension
Art Dimension Updated at: 12:08 PM
Subscribe to:
Posts (Atom)
Entri Populer
-
Teknologi SIM ganda pada smartphone bukan lagi hal baru di dunia pergawaian. Hampir semua merek memiliki model smartphone yang dibekali...
-
Foto: Rizka Amita Bermunculannya smartphone yang menggunakan slot model hybrid dari yang murah hingga mahal selangit, sedikit banya...
-
Menyambung postingan sebelumnya yang membahas tentang salah satu game balap berkualitas yang ada pada sistem operasi Android, yaitu N...
-
Pada kesempatan kali ini, kita akan membahas tentang perlu dan pentingnya sikap sopan-santun bagi kita semua. Karena, sikap sopan-santun ...
-
Tentu, dalam menciptakan suatu karya tulis, penulis-penulis cenderung lebih memprioritaskan MAKNA KATA daripada sakadar BUNYI KATA. Cara ...
-
Sejumlah fitur baru selalu mempermanis sejumlah smartphone flagship berbagai merek, sebut saja Samsung GALAXY S7 atau S7 Edge, di mana salah...
-
Sedari zaman dulu pun, desain fisik sebuah ponsel umumnya selalu tidak luput dari kepentingan para pengguna tunanetra, atau katakanlah ...
-
Oleh: Lea Willsen SEBAGIAN orang beranggapan kalau belajar menggambar itu membutuhkan biaya yang maha...
-
Setelah lama kita mendengar kabar akan ditambahkannya tombol dislike oleh Facebook (FB), kemudian kita juga sempat menduga-duga atau be...




































