Sunday, October 14, 2012

Seribu Kisah Bersama PLN



Seribu Kisah Bersama PLN
Oleh: Liven R

TERLAHIR dan besar di kota metropolitan, Medan, merupakan suatu keberuntungan bagiku. Ya, dibandingkan dengan masih banyaknya saudara sebangsa lainnya yang hidup di daerah pedalaman yang belum terjangkau aliran listrik, maka tak berlebihan jika sering kali ungkapan syukur terhatur tatkala banyak kegiatan yang menjadi teramat mudah dilakukan hanya karena adanya bantuan listrik.
Dalam hal ini, PLN selaku pemasok/pengendali listrik tunggal di Indonesia, tentunya layak mendapatkan apresiasi setinggi-tingginya, mengapa?
Sebagai masyarakat awam yang hanya tahu menekan stop kontak, mencolok steker dan menikmati berbagai fasilitas/peralatan yang berdaya listrik, mungkin kita tak pernah bertanya maupun membayangkan bagaimana panjang dan rumitnya proses listrik dihasilkan di generator listrik untuk kemudian dapat disalurkan ke rumah-rumah penduduk untuk kita nikmati.
Jika hendak diurai, dalam kenyamanan hidup kita sehari-hari bersama PLN, sesungguhnya terdapat jerih payah yang tidak kecil dari para laskar PLN yang bekerja siang-malam demi memastikan kehidupan masyarakat yang terang, mudah, dan nyaman.
Ironisnya, membicarakan PLN saat ini, dominan kita akan mendengar nada-nada kecewa dan hujatan maupun amarah dari masyarakat luas. Ya, sejak krisis listrik di tahun 2006 melanda negeri kita dan sebagai konsekuensinya maka diberlakukan kebijakan pemadaman bergilir, berbagai bencana dan kecelakaan yang disinyalir merupakan tanggung jawab PLN pun banyak terjadi seperti yang sering kita baca di media massa sebagai headline news: Sejumlah Rumah Terbakar di Saat PLN Padam, atau Sekeluarga Meninggal Dunia Akibat Menghirup Asap Genset Saat Listrik Padam.
Meski serangkaian kecelakaan maupun bencana yang terjadi di saat listrik padam tak sepenuhnya merupakan kesalahan PLN, dan pastinya juga terdapat unsur human error maupun keteledoran manusia yang berperan di dalamnya, namun dari sini kita tahu bahwa listrik berpengaruh besar dalam setiap sendi kehidupan manusia. Dan, tanpa listrik kehidupan manusia tidaklah nyaman!
Sementara, membicarakan tentang aku dan PLN, tak terbantahkan ada banyak cerita yang dapat dibagikan; teringat sebuah pengalaman bersama PLN di tahun 2006. Menjelang pernikahan kakakku, PLN saat itu sedang marak-maraknya mengadakan pemadaman bergilir. Jauh-jauh hari, kami terus berharap giliran gelap tak memilih lokasi kediaman kami tepat pada hari H. Namun, benar saja! Pada hari yang dinanti-nanti, begitu pasangan pengantin tiba, listrik pun padam!
Saat itu, serta-merta tetangga pun menawarkan pinjaman gensetnya yang besar dan segera dihidupkan untuk mengusir kegelapan. Namun, Anda tentu mafhum betapa berisiknya suara genset yang menyala! Riuhnya suara hadirin dan M.C. yang berusaha berteriak sekuat tenaga pun seketika kalah oleh mesin genset yang menyala.
 Akhirnya, pun menjadi sebuah kenangan yang tak terlupakan kala rekaman video pernikahan kakakku (yang terjadi sekali seumur hidup itu) rampung dan di dalamnya berisi gambaran sosok-sosok kami layaknya film pantomim dengan latar suara genset: Brreeettt…! Brreeetttt…! Brrreettt…! Breerrrtt…!
Lagi, pada acara yang sama saat itu, kami mengundang tamu seorang tetua dari negeri Tirai Bambu dengan maksud untuk ikut memberi restu untuk kedua mempelai.
Singkat cerita, sesaat setelah keluar dari lingkungan Bandara Polonia, Medan, listrik di sepanjang jalan padam. Tamu dari RRC tersebut pun terlihat bingung lantaran yang terlihat olehnya adalah pemandangan gelap-gulita di sepanjang jalan.
Kala itu, sebagai warga Indonesia, tentu saja kami membela citra Indonesia habis-habisan dengan berbagai penjelasan, meski fakta menunjukkan beliau tetap kecewa dengan pemandangan yang gelap dan tak sesuai dengan promosi kami saat mengundangnya. (Hehehe…)
Mudah-mudahan, beliau tak pulang dan menceritakan bahwa Indonesia (Medan khususnya) adalah sebuah kota yang gelap dan suram, mengingat dalam seminggu kunjungannya, sedikitnya terdapat 5 x 4 jam kami mengobrol dalam remangnya cahaya lilin.
Melalui pengalaman ini, disadari bahwa PLN selaku pihak pengelola listrik negara, ternyata tak hanya memiliki tanggung jawab memenuhi hajat hidup masyarakat Indonesia akan listrik, namun juga mengemban tanggung jawab dalam membangun citra Indonesia di mata dunia internasional.
Kembali kepada apresiasi terhadap kinerja para laskar PLN, tak dipungkiri bahwa tak sedikit di antara mereka adalah sosok pekerja pemberani dan berdedikasi tinggi. Terbukti, dalam sebuah kasus meledaknya trafo di dekat rumah kami (oleh sebab yang tak diketahui), dua orang petugas PLN segera tiba dan bekerja memperbaiki bahkan hingga lewat jam dua dini hari. Salut!
Namun, membicarakan fakta, tentu juga terdapat laskar PLN yang kurang tanggap ketika menerima laporan dari masyarakat. Sekadar berbagi, sebuah tiang listrik yang terpancang tak jauh dari kediaman kami, Kelurahan Pandau Hulu II, Medan, beberapa waktu yang lalu tertiup angin kencang dan mengalami kemiringan hingga dipastikan akan segera roboh menimpa rumah penduduk.
Setiap pengendara yang lewat di bawah kemiringan tiang listrik tersebut dapat dipastikan akan melafal nama ‘Tuhan’ sebelum lewat. Dan, untuk warga yang rumahnya terancam, apalagi!
Akan tetapi, kemiringan yang telah terjadi semenjak tiga tahun lalu dan telah berulangkali dilaporkan kepada pihak PLN, tak kunjung mendapatkan tanggapan. Bahkan, menghadapi cuaca ekstrem yang kembali terjadi belakangan, warga yang khawatir pun kembali membuat pengaduan dan tetap tak ada tindak lanjut dari pihak PLN.
Hingga suatu pagi, terdengarlah suara ‘BANGGG…!’ disertai getaran dan padamnya listrik. Sebagian warga berhamburan keluar karena mengira telah terjadi gempa bumi. Namun seperti yang telah lama dinyana, tiang listrik miring tersebut telah roboh menimpa atap dua rumah penduduk. Alhasil, listrik di wilayah kediaman kami pun padam selama 10 jam dan penduduk yang rumahnya tertimpa tiang mengalami kerugian tak sedikit.
(Kiri ke kanan, foto pra dan pasca robohnya tiang. Berita terkait juga dapat dibaca di sini

Dari pengalaman yang berharga ini, tidakkah kita semua dan laskar PLN wajib belajar bahwa mengantisipasi bencana akan lebih baik daripada mengevakuasi korban pasca kerugian dan bencana?
Dari sekian banyak kisahku bersama PLN, ke depannya, harapanku (mungkin juga mewakili harapan masyarakat lainnya) PLN mampu terus memberikan pelayanan yang maksimal, bukan hanya dari segi pasokan listrik, namun juga dari segi keamanan dan kenyamanan yang berkaitan dengan listrik dan segala prasarananya, kepada masyarakat dan bangsa; mampu menertibkan para laskarnya yang nakal dan menjadi perusahaan yang bersih dari korupsi, kolusi, dan nepotisme; hingga akhirnya, mampu membawa Indonesia keluar dari krisis listrik dan mampu mencitrakan Indonesia di mata internasional sebagai negara yang terang dan indah.
Kepada masyarakat pembaca, krisis listrik tak sepenuhnya hanya merupakan tanggung jawab PLN saja, namun juga tanggung jawab kita bersama. Jangan pernah melakukan tindakan pencurian listrik. Hematlah pemakaian listrik di mana pun Anda berada. Sebab, menghemat listrik berarti menghemat energi dan biaya. Keluar dari krisis listrik, bersama kita bisa!

Medan, 14 Oktober 2012


Posted by Art Dimension
Art Dimension Updated at: 1:04 PM

Friday, October 12, 2012

My Farm, Sensasi Menjadi Petani Profesional


Tema game online seperti apakah yang biasa Anda mainkan? Menjadi mafia yang disegani di mana-mana, petarung kuat yang menerima misi penting, atau raja judi di atas meja bundar? Tunggu dulu, apa yang disebutkan barusan semuanya sudah biasa dijumpai. Yuk, kita menjadi petani!
My Farm adalah sebuah game online yang mengambil tema di mana para pemain akan hidup sederhana--menyatu dengan alam--menjadi petani di lingkungan pedesaan yang memiliki penduduk atau tetangga-tetangga ramah yang juga berprofesi sebagai petani.
Silakan lanjut membaca review dari beberapa fitur menarik yang tersedia di My Farm!

Kebun
Di kebun inilah, tempat Anda dapat menanam ratusan jenis tumbuhan yang kemudian dapat dijual untuk memeroleh keuntungan. Anda tentu sudah mengenal game offline sejenis, Harvest Moon, 'kan?! Ya, jujur saja, di sini Anda dapat menjumpai lebih banyak jenis tumbuhan daripada di game Harvest Moon. Semakin tinggi level Anda, semakin banyak pula pilihan benih yang tersedia.

Pekarangan
Selain bertani, Anda juga dapat beternak ayam, kambing, domba, dan masih banyak lagi. Ya..., asalkan harus pintar-pintar mengumpulkan uang lo...! Ada saatnya juga hewan-hewanmu butuh diberi makan agar dapat tetap produktif menghasilkan produk hewani yang dapat Anda jual.



Memancing
Yup! Asalkan Anda sudah memiliki alat pancing serta bergabung dengan club petani tertentu, Anda dapat menyewa kolam selama beberapa jam untuk memancing berbagai jenis ikan.
Sedikit tip di sini, untuk memeroleh ikan, Anda harus benar-benar mengandalkan alat yang berkualitas--dan tentunya lebih mahal. Jadi, daripada menghabiskan uang untuk membeli alat abal-abal yang mengecewakan, sebaiknya menabunglah untuk langsung membeli alat yang berkualitas.


Desa
Sesekali Anda juga boleh ‘jalan-jalan’ keliling desa. Terdapat banyak menu-menu seperti bank, pertukaran—antara berlian dan koin ataupun sebaliknya--, dan lain sebagainya.


Rolet
Rolet merupakan sebuah jenis permainan di My Farm. Sebenarnya Anda juga tidak benar-benar dapat bermain di rolet, karena tugas Anda cukup mengeklik sebuah link. Bila beruntung, akan ada hadiah yang dapat diperoleh. Rolet hanya dapat dimainkan dua jam sekali (gratis), kecuali Anda siap untuk berbayar.

Lumbung
Setiap benda-benda yang dimiliki oleh Anda—baik benih, produk dari kebun/pekarangan, ataupun ikan yang berhasil tertangkap—disimpan di sini. Dari sini jugalah, biasanya Anda akan menjual barang-barang tersebut untuk memeroleh keuntungan.


Toko
Lelah mengurus tanaman dan ternak?! Tenang saja! Dalam game My Farm, pada dasarnya Anda tidak harus menjadi seorang petani kuno yang bekerja keras. Di toko ini, Anda dapat membeli atau menyewa beberapa mesin pertanian modern yang dapat membantu meringankan beban kerja Anda. Tetapi, kumpul uang dulu ya?!


Club Petani
Jangan hanya bekerja sendiri. bergabunglah menjadi anggota dari beberapa club petani yang tersedia, maka Anda akan dapat bertukar cerita dengan yang lainnya. Dengan bergabung dengan club petani jugalah, Anda baru dapat memiliki akses untuk memasuki kolam ikan. Masing-masing club memiliki prestasi serta pengaruh yang berbeda-beda di dunia pertanian. Bila mau, Anda juga dapat mendirikan club sendiri.  

Demikianlah review dari beberapa fitur yang ada. Tentu saja ini masih belum seberapa dibandingkan dengan keseluruhan fitur yang ditawarkan. Game ini memiliki tiga jenis antar muka, yakni tersedia untuk ponsel jadul, ponsel cerdas, dan tentunya untuk desktop (komputer/laptop). Mari langsung saja Anda mencobanya sendiri! Klik di sini!


2012, 2L
Posted by Art Dimension
Art Dimension Updated at: 3:15 PM

Monday, October 8, 2012

Sutra Bakti Anak Kepada Orangtua Part 4/4



Lihat juga "Sabda Buddha: Sutra Bakti Anak Kepada Orangtua Part 3/4"
 .
"Sutra Bakti Anak Kepada Orangtua" merupakan salah satu sabda Buddha yang telah melegenda, serta amat bermanfaat mengajarkan kita semua untuk menumbuhkan rasa kewajiban agar senantiasa berbakti dan mengingat jasa-jasa besar orangtua. Melalui video animasi menarik dengan total durasi 44 menit—yang dibagi menjadi 4 bagian—ini, kita dapat mengetahui serta merenungkan betapa besarnya budi serta pengorbanan mereka dalam melahirkan, menjaga, mendidik, serta mengasihi kita tanpa mengenal batas.

Video ini merupakan video yang diambil dari VCD kiriman seorang rekan. Untuk membalaskan budi besar orangtua kita, serta turut membantu dalam menumbuhkan rasa kewajiban agar senantiasa berbakti dan mengingat jasa-jasa besar orangtua kepada yang lainnya, mohon sebarkan video ini kepada yang lainnya. Video ini tidak terikat dengan hak cipta yang dipegang oleh pihak mana pun, dan bebas bagi siapa saja untuk turut menyebarkannya dalam berbagai bentuk.

Apabila Anda menjalankan video ini melalui desktop, Anda dapat menyesuaikan audio-nya menjadi berbahasa Indonesia atau Mandarin, cukup dengan mematikan fungsi salah satu speaker. Speaker kiri untuk bahasa Indonesia. Speaker kanan untuk bahasa Mandarin.

Semoga semua orangtua berbahagia...

Semoga semua makhluk berbahagia...

Posted by Art Dimension
Art Dimension Updated at: 8:57 PM

Saturday, October 6, 2012

Sutra Bakti Anak Kepada Orangtua Part 3/4



Lihat juga "Sutra Bakti Anak Kepada Orangtua Part 2/4".

"Sutra Bakti Anak Kepada Orangtua" merupakan salah satu sabda Buddha yang telah melegenda, serta amat bermanfaat mengajarkan kita semua untuk menumbuhkan rasa kewajiban agar senantiasa berbakti dan mengingat jasa-jasa besar orangtua. Melalui video animasi menarik dengan total durasi 44 menit—yang dibagi menjadi 4 bagian—ini, kita dapat mengetahui serta merenungkan betapa besarnya budi serta pengorbanan mereka dalam melahirkan, menjaga, mendidik, serta mengasihi kita tanpa mengenal batas.

Video ini merupakan video yang diambil dari VCD kiriman seorang rekan. Untuk membalaskan budi besar orangtua kita, serta turut membantu dalam menumbuhkan rasa kewajiban agar senantiasa berbakti dan mengingat jasa-jasa besar orangtua kepada yang lainnya, mohon sebarkan video ini kepada yang lainnya. Video ini tidak terikat dengan hak cipta yang dipegang oleh pihak mana pun, dan bebas bagi siapa saja untuk turut menyebarkannya dalam berbagai bentuk.

Apabila Anda menjalankan video ini melalui desktop, Anda dapat menyesuaikan audio-nya menjadi berbahasa Indonesia atau Mandarin, cukup dengan mematikan fungsi salah satu speaker. Speaker kiri untuk bahasa Indonesia. Speaker kanan untuk bahasa Mandarin.

Semoga semua orangtua berbahagia...

Semoga semua makhluk berbahagia...





Lihat juga "Sutra Bakti Anak Kepada Orangtua Part 4/4".

Posted by Art Dimension
Art Dimension Updated at: 2:54 PM

Sutra Bakti Anak Kepada Orangtua Part 2/4



Lihat juga "Sutra Bakti Anak Kepada Orangtua Part 1/4".

"Sutra Bakti Anak Kepada Orangtua" merupakan salah satu sabda Buddha yang telah melegenda, serta amat bermanfaat mengajarkan kita semua untuk menumbuhkan rasa kewajiban agar senantiasa berbakti dan mengingat jasa-jasa besar orangtua. Melalui video animasi menarik dengan total durasi 44 menit—yang dibagi menjadi 4 bagian—ini, kita dapat mengetahui serta merenungkan betapa besarnya budi serta pengorbanan mereka dalam melahirkan, menjaga, mendidik, serta mengasihi kita tanpa mengenal batas.

Video ini merupakan video yang diambil dari VCD kiriman seorang rekan. Untuk membalaskan budi besar orangtua kita, serta turut membantu dalam menumbuhkan rasa kewajiban agar senantiasa berbakti dan mengingat jasa-jasa besar orangtua kepada yang lainnya, mohon sebarkan video ini kepada yang lainnya. Video ini tidak terikat dengan hak cipta yang dipegang oleh pihak mana pun, dan bebas bagi siapa saja untuk turut menyebarkannya dalam berbagai bentuk.

Apabila Anda menjalankan video ini melalui desktop, Anda dapat menyesuaikan audio-nya menjadi berbahasa Indonesia atau Mandarin, cukup dengan mematikan fungsi salah satu speaker. Speaker kiri untuk bahasa Indonesia. Speaker kanan untuk bahasa Mandarin.

Semoga semua orangtua berbahagia...

Semoga semua makhluk berbahagia...

 


Posted by Art Dimension
Art Dimension Updated at: 2:49 PM

Sutra Bakti Anak Kepada Orangtua Part 1/4



"Sutra Bakti Anak Kepada Orangtua" merupakan salah satu sabda Buddha yang telah melegenda, serta amat bermanfaat mengajarkan kita semua untuk menumbuhkan rasa kewajiban agar senantiasa berbakti dan mengingat jasa-jasa besar orangtua. Melalui video animasi menarik dengan total durasi 44 menit—yang dibagi menjadi 4 bagian—ini, kita dapat mengetahui serta merenungkan betapa besarnya budi serta pengorbanan mereka dalam melahirkan, menjaga, mendidik, serta mengasihi kita tanpa mengenal batas.

Video ini merupakan video yang diambil dari VCD kiriman seorang rekan. Untuk membalaskan budi besar orangtua kita, serta turut membantu dalam menumbuhkan rasa kewajiban agar senantiasa berbakti dan mengingat jasa-jasa besar orangtua kepada yang lainnya, mohon sebarkan video ini kepada yang lainnya. Video ini tidak terikat dengan hak cipta yang dipegang oleh pihak mana pun, dan bebas bagi siapa saja untuk turut menyebarkannya dalam berbagai bentuk.

Apabila Anda menjalankan video ini melalui desktop, Anda dapat menyesuaikan audio-nya menjadi berbahasa Indonesia atau Mandarin, cukup dengan mematikan fungsi salah satu speaker. Speaker kiri untuk bahasa Indonesia. Speaker kanan untuk bahasa Mandarin.

Semoga semua orangtua berbahagia...

Semoga semua makhluk berbahagia...


Lihat juga "Sutra Bakti Anak Kepada Orangtua Part 2/4".

Posted by Art Dimension
Art Dimension Updated at: 2:45 PM

Sunday, September 30, 2012

Keluarga, Mutiara Tiada Tara




Oleh: Liven R
Harta yang paling berharga adalah keluarga
Istana yang paling indah adalah keluarga
Puisi yang paling bermakna adalah keluarga
Mutiara tiada tara adalah keluarga…

LIRIK lagu di atas pasti tak asing lagi bagi Anda yang pernah menggemari sinetron Keluarga Cemara yang pernah populer di tahun ’90-an dan ditayangkan oleh stasiun televisi RCTI.
Film yang diangkat dari novel karya Arswendo Atmowiloto tersebut agaknya cukup membekas di hati penggemarnya (bahkan hingga hari ini) karena telah mengusung tema tentang kehidupan sebuah keluarga—keluarga Cemara—yang amat sederhana (dengan Abah seorang penarik beca) namun selalu hidup sesuai norma, saling menyayangi, rukun, dan bahagia.
Keluarga. Ya, siapa yang tak mengenal arti kata ‘keluarga’? Sebuah komunitas kecil yang terdiri dari orangtua dan anak-anak, itulah arti keluarga secara sederhana. Namun sesungguhnya, sebuah perkumpulan kecil yang terdiri dari orang-orang yang (seharusnya) saling menyayangi, mendukung dalam kebaikan, membimbing, menjaga, dan menghormati satu sama lainnya, itulah arti keluarga sesungguhnya.
Menjadi hal yang ironi ketika orang-orang bercerita mereka memiliki keluarga, namun dalam ceritanya, mereka justru tak mengenal arti keluarga yang sesungguhnya. Terhadap orang-orang yang mereka sebut keluarga, terdapat begitu banyak perselisihan, pertengkaran, amarah, bahkan sebagian telah berakhir dengan ‘putus hubungan keluarga’.
 Mengapa hal tersebut dapat terjadi? Apa saja pemicu retaknya hubungan kekeluargaan hingga menimbulkan konflik berkepanjangan? Dan, sulitkah mengupayakan kehidupan keluarga yang harmonis?
Kepedulian
Dalam hidup, tak terelakkan masalah terkadang menghampiri kita, baik tentang pekerjaan, kesehatan, keuangan, dan sebagainya. Ketika menemui masalah, apa pun itu, izinkanlah keluarga sebagai pihak pertama yang mengetahuinya. Biasakanlah untuk berbagi cerita apa saja kepada keluarga. Dengan demikian, kedekatan antar-anggota keluarga akan selalu terbina.
Sejak dulu, bukan cerita yang asing lagi jika kita mendengar seseorang mengakui bagaimana dia begitu membenci saudaranya sendiri sebagai akibat dari perebutan harta warisan, kekayaan, maupun jabatan.
Jika Anda berkesempatan mengenal kedua belah pihak bersengketa, maka Anda akan mendengar bahwa di antara mereka sama-sama merasa benar/berhak dan saling menyalahkan. Masalahnya, tak seorang pun yang mau mengakui bahwa sesungguhnya mereka sama-sama sudah merasa ‘payah’ menghadapi ‘perang’ tersebut. Menyedihkan bukan?
Profesional muda, kebajikan dan kehangatan hubungan persaudaraan adalah hal-hal yang tak ternilai dengan uang. Jika Anda diberi rejeki berlebih, bersyukurlah. Dalam persaudaraan, yang berlebih membantu yang kekurangan adalah hal yang sudah semestinya. Sebab, banyak fakta menunjukkan, memberi tidak akan memiskinkan. Memberi akan memperkaya kegembiraan dan kehangatan batin. Dan, bukankah ketika kita sama-sama meninggalkan dunia ini, harta dan kekuasaan tak ikut dibawa? Lantas pantaskah harta dan kekuasaan menjadikan hubungan kekeluargaan renggang?
Kejujuran dan kesetiaan
“Dia tak pengertian!” Terlalu sering sudah kita mendengar keluhan seperti ini keluar dari mulut pasangan suami-istri yang sedang bertengkar. Terlalu idealis memang jika ada pasangan suami-istri yang tak pernah bertengkar, ya? Namun, alih-alih selalu menuntut untuk dimengerti, sudahkah Anda menjadi seorang yang penuh pengertian untuk pasangan Anda?
Sebuah riwayat pernikahan seseorang pernah berkisah; ketika menikah, suami-istri tersebut adalah pasangan yang belum memiliki apa-apa. Bersama, mereka berjuang membuka usaha dari nol hingga mampu membeli rumah mewah dan memiliki segalanya. Namun, masalah mulai muncul. Sang suami mulai merasa tak cukup hanya memiliki seorang istri. Sementara sang istri mulai merasa tanpa suaminya, masih banyak lelaki lain yang bisa membahagiakannya. Pertengkaran demi pertengkaran pun akhirnya jatuh pada pilihan perceraian. Rumah dan anak-anak kemudian menjadi harta yang harus dibagi secara hukum.
Mungkin kita tak pernah mampu mengerti apa sesungguhnya pemicu retaknya hubungan pernikahan seseorang. Namun, jika berpaling kembali pada usaha dan perjuangan yang pernah diupayakan bersama, tidakkah sebuah keluarga yang utuh sudah sewajibnya dipertahankan, apa pun alasannya?
Sekadar berbagi, ketika penulis berkesempatan mengenal dan mendidik anak dengan latar keluarga yang memiliki riwayat perceraian orangtuanya, mereka adalah anak-anak yang ‘tidak mudah’. Tekanan psikologi akibat perceraian orangtua, pengasuhan oleh pihak lain selain orangtua (pasca perceraian orangtua) sering menyebabkan anak tumbuh dalam karakteristik yang kasar, sulit diatur, pembangkang, krisis kepercayaan, dan berpotensi menjadi ‘remaja nakal’. Sebuah fenomena yang amat menyedihkan!
Agaknya gambaran singkat dari dampak buruk akibat tidak utuhnya sebuah keluarga karena perceraian, dapat menjadikan kita semua (yang telah menikah) untuk sebisa mungkin bertanggung jawab terhadap keluarga, mengekang diri dari hal-hal yang tak semestinya, selalu berpedoman pada rambu-rambu pernikahan, serta selalu jujur dan setia kepada pasangan.
Jadi, kata ‘pengertian’ hendaklah bukan menjadi sebuah tuntutan yang selalu kita harapkan dari pasangan, melainkan adalah sebuah usaha. Usaha dari diri kita untuk pasangan dan keluarga kita.
Saling membantu, menyayangi, dan menghormati
Profesional muda, bagaimana cara Anda dan keluarga menyelesaikan pekerjaan di rumah Anda?
Percaya atau tidak, di keluarga penulis, mencuci piring kerap menimbulkan masalah! Ya. Masalahnya, kami (penulis bersama kakak dan Mama) selalu berebutan untuk mencuci piring-piring kotor yang ada. Hehehe….
Siapa pun yang lebih dahulu mencapai tempat cucian, akan merasa bagaikan pemenang. Tak jarang banyak canda dan tawa yang mengalir tatkala kami berebutan dengan saling mengaku sebagai pencuci terbersih untuk ‘merayu’ agar yang lain menyingkir (baca: dapat beristirahat).
Ini tentunya bukan tentang hak maupun kewajiban dalam membagi pekerjaan di rumah, namun lebih kepada adanya sebentuk kasih dan kepedulian yang mampu menghangatkan jiwa meski hanya sesederhana sebuah pekerjaan mencuci piring saja.
Mungkin terdengar konyol, tapi jika Anda ingin merasakan betapa indahnya sensasi suatu kebersamaan, tak ada salahnya Anda mencoba berebut cucian piring, tumpukan baju untuk dilipat, atau bersama-sama membayar suatu barang yang dibeli (meski bukan barang kebutuhan sendiri) di rumah Anda mulai hari ini.
Dapat membantu meringankan beban saudara dan orangtua adalah suatu berkah. Masa-masa kebersamaan dengan keluarga adalah sesuatu yang tak kekal. Ketika kita masih diberi-Nya kesempatan bersama, hargailah selalu jodoh kekeluargaan yang ada.
Keegoisan membarakan amarah dan menghancurkan hubungan kekeluargaan. Pengertian dan kasih sayang mampu menumbuhkan semangat hidup untuk menghadapi berbagai cobaan dan kesulitan hidup.

*E-mail: lie.liven@gmail.com
Harian Analisa—TRP, hlm. 20, edisi 30 September 2012


Posted by Art Dimension
Art Dimension Updated at: 3:31 PM

Entri Populer