Wednesday, February 20, 2013

Sang Penari Barongsai

Sang Penari Barongsai
Oleh: Lea Willsen
WANG kembali membuka album itu. Album berwarna merah yang berisi sejumlah foto-foto atraksi barongsai yang dimainkan oleh putranya itu menyimpan banyak kenangan. Banyak ingatan yang selalu kembali berdesak-desakan di pikiran pria paruh baya itu setiap kali ia mengamati foto-foto itu. Dulu ia kerap menitikkan airmata bila terkenang kembali tragedi kepergian putranya. Betapa tidak, orangtua mana yang ikhlas mengantarkan kepergian anaknya yang mendahuluinya?
Tetapi..., beberapa tahun terakhir Wang tak lagi menitikkan airmata. Mungkin, secara perlahan waktu yang terus bergulir telah menawarkan rasa sakit itu. Entahlah, terkadang Wang sendiri teramat tak setuju dengan ungkapan kalau waktu dapat perlahan menawarkan rasa sakit di hati. Oleh waktu yang telah berlalu belasan tahun, mungkin airmatanya memang telah mengering, tetapi bukan berarti rasa sakit di hatinya juga telah terobati. Sama sekali tidak!
Jika boleh memilih, Wang lebih ingin bila nyawanya yang pergi menggantikan nyawa putranya. Rimin masih terlalu muda untuk dipanggil oleh-Nya. Anak itu baru berusia dua puluh satu tahun. Ia adalah seorang anak yang berbakat. Di usia yang masih belia itu Rimin telah menjuarai sejumlah kompetisi barongsai, dan memeroleh banyak penghargaan. Bila anak itu masih tetap hidup, bukankah ia akan tetap mencatat prestasi dan membanggakan Wang?
Tubuh Rimin tidak terlalu besar. Tingginya seratus tujuh puluh dua senti. Tetapi ia memiliki otot yang kuat dan lincah. Ia adalah pemain yang memegang peran sebagai kepala barongsai. Selain harus melompat dengan beban kepala barongsai yang beratnya dapat mencapai tujuh belas kilo, ia juga harus pintar memainkan ekspresi si barongsai, seperti mengedipkan mata atau menggerakkan kuping dan rahangnya. Ia termasuk pemain yang menonjol dan dihargai oleh pelatih serta anggota lain dalam sanggar tari barongsai yang telah membesarkan namanya itu.
Semenjak duduk di bangku SD pun, Rimin telah menunjukkan ketertarikan besarnya terhadap seni dan tradisi barongsai. Wang paham betul keinginan putranya untuk menjadi seorang penari barongsai setelah dewasa. Sebagian orangtua suku Tionghoa mungkin kurang setuju bila anak-anak mereka berkecimpung di dunia seni yang kurang menjanjikan masa depan. Tetapi Wang tidak demikian. Ia tidak berharap banyak kalau kelak putra tunggalnya itu akan menjadi seorang pengusaha kaya ataupun bos besar. Ia hanya berharap Rimin dapat menjalani hidup dengan baik dan bahagia.
Di usia Rimin yang lima belas, Wang mendaftarkannya menjadi salah seorang murid dari sebuah sanggar tari barongsai ternama. Ia ingin Rimin memeroleh didikan yang tepat untuk mewujudkan impian menjadi seorang penari barongsai profesional, tidak sekadar ‘penari’ barongsai jalanan yang bermodalkan kostum barongsai dan sejumlah alat-alat musik seperti tambur, kenong, dan simbal untuk mengumpulkan angpao.
Apa yang Rimin pelajari dari sanggar tari itu tidaklah mudah. Anak itu harus berlatih selama satu setengah tahun terlebih dulu sebelum benar-benar diperbolehkan untuk tampil menghibur penonton. Mengikuti pola dasar, skenario tarian barongsai terbagi menjadi delapan sesi yang disebut; tidur, pembuka, bermain, pencarian, bertarung, makan, penutup, dan kembali pada tidur. Masing-masing sesi memiliki makna, teori, serta gerakan berbeda yang harus dipelajari. Namun itu bukanlah pola yang mutlak harus diikuti. Untuk menciptakan suatu kebaruan, ada kalanya Rimin bersama anggota harus menyusun sebuah skenario yang lebih variatif serta kreatif untuk disesuaikan dengan acara dan golongan penonton yang menyaksikan pertunjukan mereka.
Rimin cocok menjalani hidupnya sebagai seorang penari barongsai. Entah hanya kebetulan belaka atau memang genetik berpengaruh dalam segala pencapaian Rimin. Ayah Wang—akong Rimin—dulunya juga adalah seorang penari dan pendiri sebuah sanggar tari barongsai. Sanggar tari milik akong Rimin hanya bertahan selama beberapa tahun, dan oleh sebuah kebijakan di masa Orde Baru, sanggar itu terpaksa harus dibubarkan. Beberapa sanggar yang besar masih memeroleh kesempatan untuk tampil di lokasi-lokasi tertentu seperti kelenteng atau vihara pada acara-acara tertentu. Tetapi sanggar yang didirikan oleh akong Rimin hanyalah sebuah sanggar kecil yang anggotanya tidak lebih dari sepuluh orang. Alat-alat yang digunakan dalam pertunjukan semula masih disimpan rapi dalam sebuah gudang, kemudian termakan usia, dan berakhir dijual dengan harga loak.
Tidak hanya memiliki keterampilan yang sama, tetapi cara meninggal yang ditempuh oleh Rimin dan agong-nya juga sama, yakni kecelakan mobil di malam Imlek kedua. Peristiwa itu menimpa Rimin usai mempertunjukkan tari barongsai di luar kota. Malam hari pukul delapan lewat empat puluh lima menit, Wang menerima sebuah telepon yang mengabari kalau putranya telah meninggal sebelum dilarikan ke RS. Mobilnya jatuh ke jurang ketika dalam perjalanan pulang dari luar kota.
Famili dan kenalan yang kala itu mengetahui peristiwa itu mencoba mengaitkannya dengan kutukan atau ulah roh jahat. Mereka masih percaya kepada takhayul kalau barongsai itu adalah makhluk yang dapat membawa serta roh jahat di sekitar. Orang-orang yang menarikan barongsai dapat mengalami kesurupan atau dikendalikan roh jahat seperti tari kuda lumping. Mereka sama sekali tak mau percaya sekalipun Wang berusaha keras menjelaskan kalau barongsai adalah sebuah seni dan tradisi warisan leluhur. Rimin putranya memahami secara jelas, kalau barongsai yang dicintainya sepenuh hati tak semistik yang dikatakan orang-orang.
Wang lebih terima bila peristiwa yang menimpa Rimin adalah takdir, bukan sesuatu yang menjelek-jelekkan hobi putranya.
Sebuah foto dalam album yang berada di pangkuan Wang menunjukkan Rimin sedang berdiri tegap memeluk kostum barongsai di lengannya. Anak itu tersenyum bahagia. Tak kalah indah senyum kebanggaan di wajah Wang yang tepat berdiri di sebelahnya. Foto itu diambil ketika pertama kali Rimin memenangkan tari barongsai kelas nasional di usianya yang ketujuh belas. Bagaimana mungkin senyum bahagia itu dikaitkan dengan hal-hal mistik seperti dirasuki roh jahat? Yang Wang yakini hanyalah putranya adalah seorang penari barongsai berbakat, dan semua itu tercapai atas usaha keras, bukan pengaruh roh jahat.
“Permisi...! Permisi...!” suara seorang pria berteriak dari luar pagar.
Wang segera bangkit dari kursi goyangnya, dan meletakkan kembali album itu di atas rak. Ia mengernyitkan mata—sebelum keluar untuk membukakan pintu—memerhatikan baik-baik orang yang sedang memanggil pintu itu dari dalam. Orang tua itu masih selalu mengingat kondisi di masa lalu, di mana pada hari-hari Imlek sangat pantang sembarangan menyahut atau membukakan pintu, karena banyaknya aksi mengucapkan “kiong hie”—jika tak ingin disebut pungutan liar—yang ujung-ujungnya meminta diberikan angpao. Satu pintu rumah suku Tionghoa sehari bisa didatangi orang-orang demikian hingga lima atau enam kali.
“Oh! Ya, ya! Acek datang!” sahut Wang segera begitu berhasil mengenali orang yang sedang berdiri di luar. Pria itu adalah Ahmad, seorang anggota dari sanggar tari barongsai yang dulunya kerap berpasangan bersama Rimin—menjadi ekor barongsai—dalam berbagai pertunjukan serta kompetisi. Sejak dulu pria keturunan Jawa itu memiliki hubungan dekat dengan keluarga Wang. Dan selama belasan tahun ini ia masih tetap ingat untuk sesekali bertamu di rumah Wang—terlebih pada Hari Raya Imlek—meskipun sahabatnya telah meninggal.
Melihat Ahmad jugalah yang selalu meyakinkan Wang bahwa kepergian Rimin bukan disebabkan oleh roh jahat. Saat peristiwa itu terjadi, Ahmad berada dalam satu mobil bersama Rimin, dan juga tiga anggota penari barongsai lainnya. Menurut cerita Ahmad, mobil yang mereka tumpangi mengalami kecelakaan karena si supir mengantuk.
Rimin menjadi satu-satunya orang yang meninggal, maka itu sudah takdirnya. Mungkin Tuhan telah begitu merindukan anak baik itu untuk segera berada di sisi-Nya. Pepatah berbunyi; seseorang yang baik itu tidak berumur panjang...
***
Akhir Desember, 2012
Cerpen muat di Rubrik Cerpen dan Puisi, Harian Analisa, Medan, 20-02-2013
Ilustrasi muat di Rubrik TRP, Harian Analisa, Medan, empat tahun lalu

Posted by Art Dimension
Art Dimension Updated at: 12:07 PM
Komentar Facebook
0 Komentar Blogger

No comments:

Post a Comment

Silakan centang "Notify me" agar Anda memeroleh pemberitahuan.

Entri Populer