Sunday, May 24, 2015

Mengatasi Masalah pada Google Chrome

Aktivitas online—atau daring—dewasa ini tak sekadar menjadi media hiburan, tetapi media untuk mencari informasi/referensi, dan juga sejumlah kepentingan yang berhubungan dengan pekerjaan, baik itu untuk serah-terima dokumen, file, maupun mendata/meng-input sesuatu. Untuk dapat online, terlepas dari adanya jaringan internet yang memadai, sebuah komputer/laptop membutuhkan program yang biasa disebut browser. Hanya saja, terkadang bisa saja kita mendapati masalah misalkan suatu browser yang tiba-tiba tak bekerja sebagaimana mestinya, tak dapat terhubung ke jaringan, sehingga aktivitas kita pun menjadi terganggu.
Browser alternatif mungkin menjadi pilihan atau keputusan yang baik. Namun, terkadang browser juga memiliki keterikatan seperti sebuah kamar atau rumah baru, di mana ketika kita baru berpindah padanya, kita cenderung butuh penyesuaian yang terkadang mungkin membuat kita merasa tak nyaman. Terlebih bila kita telah menyimpan banyak bookmark pada browser kita yang tengah bermasalah.
Dalam postingan kali ini—sesuai judul—kita akan mencoba beberapa solusi untuk mengatasi browser Chrome yang tak dapat terhubung ke jaringan. Solusi akan dijabarkan berdasarkan masalah yang paling umum terjadi, sampai yang lebih jarang terjadi. Diharapkan Anda mencobanya satu demi satu terlebih dulu. Bila solusi yang pertama tak menyelesaikan masalah, baru lanjut pada solusi kedua, demikian seterusnya.
1. Tanggal dan jam
Tanggal dan jam pada sebuah komputer/laptop bisa saja menyebabkan sebuah browser menjadi gagal terhubung ke jaringan. Umumnya hal tersebut terjadi ketika baterai cmos pada komputer sudah habis daya, masalah pada setting BIOS, atau kerusakan pada motherboard (jarang terjadi). Penanganan paling sederhana ialah coba sesuaikan terlebih dulu tanggal atau jam pada komputer/laptop. Anda dapat melakukannya dengan klik tanggal dan jam yang ada di sudut kanan bawah layar, lalu pilih Change date and time settings. Bila setelah disesuaikannya tanggal dan jam masalah terselesaikan, tetapi tanggal dan jam itu kembali lari di lain waktu, disarankan untuk coba mengganti cmos.
Tanggal dan jam
2. Hapus cache dan cookie

Bila masalah bukan diakibatkan oleh larinya tanggal dan jam pada komputer/laptop, solusi selanjutnya adalah menghapus cache dan cookie pada Chrome. Caranya, jalankan Chrome, input chrome://settings pada address bar dan tekan enter, gulir halaman ke bawah dan klik Tampilkan setelan lanjutan, klik Hapus data penjelajahan, lalu pilih Awal waktu pada bagian Hapus item berikut dari, centang Riwayat jelajah, Cookie serta data plugin dan situs lainnya, serta File dan gambar yang disimpan dalam cache, lalu Hapus data penjelajahan. Lamanya proses tergantung seberapa banyaknya data yang perlu dihapus. Setelah selesai, tutup dan jalankan ulang Chrome Anda.
Hapus cache dan cookie
3. Reset ke default
Solusi ketiga bila Chrome masih bermasalah. Jalankan Chrome, input chrome://settings pada address bar dan tekan enter, gulir halaman ke bawah dan klik Tampilkan setelan lanjutan, gulir lagi layar hingga ke paling bawah dan klik Setel ulang setelan, konfirmasi lagi dengan pilih Setel ulang.
Setel ulang
4. Upgrade atau reinstall
Solusi selanjutnya adalah upgrade atau install ulang Chrome. Namun secara pribadi penulis berpendapat bila ketiga solusi yang ditawarkan sebelumnya telah gagal, besar kemungkinan solusi keempat ini juga tak banyak membantu dan malah merepotkan. Masalah Anda mungkin lebih memungkinkan diselesaikan dengan solusi kelima di bawah. Bila Anda siap untuk mencoba solusi yang lebih rumit proses dan praktiknya, silakan langsung lompat ke solusi kelima.
Kembali pada solusi keempat bila Anda tetap ingin mencoba setiap solusi secara berurut. Umumnya install ulang dapat dilakukan langsung melalui Chrome. Namun, bila Chrome telanjur berhenti total untuk bekerja, berarti kita perlu menggunakan cara lain. Pertama uninstall terlebih dulu Chrome yang sudah ada dengan masuk ke menu Start (klik icon Windows di sudut kiri bawah layar), pilih Control Panel, Uninstall a program, klik kanan pada Google Chrome, lalu pilih Uninstall. Selanjutnya kunjungi www.google.com/chrome melalui browser lain (rekomendasi: Firefox atau Opera) untuk install ulang versi terbaru Chrome.
Reinstall
5. Menghapus perangkat lunak jahat
Bila keempat solusi di atas semuanya gagal, kemungkinan besar masalah pada Chrome Anda adalah disebabkan oleh adanya perangkat lunak jahat seperti firewall, malware, adware, atau sejenisnya yang menyusup ke komputer/laptop Anda. Ciri-ciri umum (walau tak selalu sama) dari keberadaan perangkat lunak jahat biasanya adalah hasil pencarian Google yang disertai iklan tak jelas, atau munculnya iklan-iklan popup yang bisa saja muncul di web mana pun. Padahal, sejatinya sebuah iklan mustahil untuk muncul di web mana pun, jika iklan itu memang adalah iklan yang khusus dipasang si pemilik web bersangkutan untuk memeroleh pendapatan tambahan.
Iklan memadati hasil pencarian Google
Hasil pencarian tanpa iklan
Untuk itu, kita perlu menghapusnya agar Chrome sehat kembali. Pertama, periksa ekstensi (plug-in) yang terpasang pada Chrome dengan cara masuk lagi ke Setelan dengan meng-input chrome://settings (lagi) pada address bar Chrome dan tekan enter, lalu klik tab Ekstensi yang ada di sudut kiri atas layar, dan perhatikan satu demi satu ekstensi yang terpasang apakah ada yang namanya mencurigakan atau tidak. Jika ada, maka tindakan yang dianjurkan adalah kita harus menghapusnya dengan mengklik icon tong sampah. Namun, bila Anda ragu, untuk berjaga-jaga lakukan uji coba terlebih dulu dengan cukup menonaktifkannya (melepas centang), lalu tutup dan hidupkan ulang Chrome dan perhatikan apakah masalah masih berlanjut atau tidak. Jika tidak, berarti Anda telah mencurigai ekstensi yang benar—ekstensi yang Anda nonaktifkan—dan sekarang Anda boleh kembali masuk ke Setelan untuk menghapusnya.
Ekstensi yang mencurigakan (mungkin saja berbeda dengan yang terlihat pada layar Anda)
Namun perlu Anda pahami bahwa dengan menghapus ekstensi dari Chrome saja terkadang belum menyelesaikan masalah, karena perangkat jahat masih terpasang di sistem komputer/laptop Anda, kemudian di lain waktu ketika komputer/laptop dihidupkan ulang ekstensi pun kembali terpasang. Untuk itu, kita perlu menghapusnya hingga ke akar melalui Control Panel. Caranya, masuk ke menu Start (klik icon Windows di sudut kiri bawah layar), pilih Control Panel, Uninstall a program, lalu perhatikan satu per satu program yang berderet di sana apakah ada yang namanya mencurigakan atau hampir-hampir sama dengan nama ekstensi yang sebelumnya kita hapus. Ciri lain yang membuat sebuah program layak kita curigai adalah iconnya yang tidak jelas, publisher yang tidak jelas (perhatikan kolom Publisher), serta tanggal pemasangannya yang berdekatan dengan munculnya masalah pada Chrome, sementara kita tak merasa pernah meng-install sesuatu. Perangkat lunak jahat sejenis terkadang juga terpasang secara ‘keroyokan’, dua, tiga, lima, atau enam sekaligus pada tanggal yang sama. Silakan di-uninstall saja.
Program mencurigakan (mungkin saja berbeda dengan yang terlihat pada layar Anda)
Usai menerapkan solusi kelima secara benar, umumnya Chrome telah pulih kembali. Bila tetap tidak, kemungkinan lebih buruk ialah Chrome Anda sebenarnya tidak rusak, tetapi Windows Anda yang rusak atau mengalami crash. Masalah ini lebih kompleks dan mungkin membutuhkan format ulang seluruh komputer baru dapat terselesaikan.

2L, medio Mei
Posted by Art Dimension
Art Dimension Updated at: 2:52 PM

Saturday, April 11, 2015

Mengatasi Masalah Redirect URL pada Blog



Masalah redirect URL yang dimaksudkan di sini ialah kondisi ketika blog kita diakses, dalam proses load halaman itu, tiba-tiba browser teralihkan ke URL situs lain. Hal ini tentu merugikan, bahkan sangat merugikan. Pertama, mungkin saja kita kehilangan banyak visitor. Kedua, visitor menjadi kesal dan merasa terganggu, karena umumnya blog teralihkan ke situs berbau iklan. Ketiga, pagerank menjadi turun. Ketiga kondisi ini semua dialami blog ini. Kecewa memang. Namun ikhlaskan saja. Soal pagerank itu bisa diperoleh kembali. Yang penting adalah mengatasi masalah redirect URL agar blog kembali sehat.

Salah satu penyebab terjadinya redirect URL ialah keberadaan widget jahat dari pihak ketiga yang diam-diam memberi perintah, tetapi tidak kita sadari dan tetap kita pergunakan widget tersebut. Hal ini juga mencakup berbagai widget yang membutuhkan kode tambahan pada bagian template. Bisa saja kode yang ditambahkan mengandung kode jahat. Kemungkinan lain, hacker menggunakan tool tertentu untuk menanamkan kode jahat itu tanpa persetujuan kita.

Adapun solusinya yang paling sederhana dan patut pertama dicoba, cek satu per satu widget. Bila perlu lepas satu per satu dan perhatikan apakah masalah masih berlanjut.

Bila masalah masih berlanjut, berikutnya coba perhatikan atau catat URL utama dari situs tujuan redirect. Tidak untuk seluruhnya, cukup URL utama seperti http://www.hanya-contoh.com. Masuk ke ruang Edit HTML, gunakan Ctrl+F untuk membuka mesin pencari, temukan URL bersangkutan. Jika ada, coba amati dan ambil tindakan terbaik untuk membuang URL beserta rangkaian kode pendukungnya.

Jika pada solusi kedua yang ditawarkan Anda tidak berhasil menemukan URL yang dimaksud, solusi terakhir adalah ganti template Anda ke salah satu template default yang disediakan Blogger. Tindakan ini akan mengakibatkan setiap modifikasi dari template lama yang telah pernah diterapkan turut terhapus. Namun, umumnya inilah solusi terbaik yang dipastikan berhasil mengatasi masalah redirect URL, walau pekerjaan berikutnya ialah Anda harus modifikasi ulang template yang baru, memasang dan menyesuaikan background, layout, dan sejumlah fitur lainnya.


Masalah masih berlanjut?! Besar kemungkinan komputer/laptop Anda yang terjangkit malware atau adware, dan sebenarnya blog Anda dalam kondisi sehat.
Posted by Art Dimension
Art Dimension Updated at: 11:55 AM

Sunday, April 5, 2015

Game Balap 3D untuk Android Low-End

Kata siapa hanya Android berspesifikasi tinggi saja yang mampu menjalankan game dengan grafis berkualitas? Setidaknya, Anda perlu mencoba game Race Illegal – High Speed 3D terlebih dulu, dan rasakan grafis serta berbagai fitur menawan yang ditawarkan.

Bila Anda adalah seorang pencinta game balap seperti Need for Speed, kemungkinan Anda akan menemukan sensasi yang sama pada game ini. Ya, meskipun grafis yang ditawarkan tentu tidak sebaik ketika Anda memainkan Need for Speed di PS2, PS3, atau berbagai generasi penerusnya, setidaknya game ini layak diacungi jempol sebagai game dengan grafis di atas rata-rata game lain yang kompatibel dengan Android low-end, atau yang berspesifikasi standar.

Dari segi storyline, game ini juga cukup menarik. Anda akan menjadi seorang anak muda (pemeran utama) yang melibatkan diri pada dunia balapan liar, dan juga memiliki musuh utama yang tangguh untuk dihadapi di akhir permainan. Sesekali mungkin Anda juga akan terlibat dengan balapan yang mempertaruhkan hidup-mati, seperti menjatuhkan lawan-lawan dengan menabrak dan meledakkan mobil mereka, atau sebaliknya. Tersedia juga mode balapan drift yang menuntut ketangkasan dalam mengendalikan kemudi, dan juga berbagai mode balapan lainnya.

Eits! Tidak semuanya yang menyebalkan saja. Anda juga memiliki kawan dalam cerita game ini, orang-orang yang akan selalu mendukung dan membantumu untuk mencapai tujuan. Dan kelihatannya selaku anak muda sedari awal peran Anda memang sudah dianggap pembalap yang terampil. Buktinya, sesekali dalam game ini akan hadir tokoh-tokoh pembalap wanita yang mempercayakan Anda untuk menguji kemampuan mobil mereka. Yup! Game ini sangat menarik!

Game yang merupakan versi remake dari game Symbian ini juga menawarkan konsep dan suasana yang terasa nyata, seperti opsi yang memungkinkan kita untuk menyetel musik yang hendak dimainkan selama berlangsungnya balapan, fitur untuk membeli dan mengecat mobil, bagaimana ketika efek matahari menyilaukan mata, dan juga bagaimana beratnya mengendalikan mobil Anda yang mulai mengalami kerusakan setelah mengalami berbagai hantaman keras.


Lihat saja beberapa capture di bawah:









Anda juga dapat melihat video demo berikut:



Untuk memainkan Race Illegal - High Speed 3D, Anda dapat mengunduhnya di PlayStore langsung. Pastikan ruang internal Android masih muat untuk menampung data kurang-lebih 180MB
Posted by Art Dimension
Art Dimension Updated at: 9:37 PM

Friday, March 27, 2015

Banner Blogger Anti-Pornografi

Jadilah blogger kreatif yang berbagi konten sehat serta bermanfaat. Tunjukkan ke visitor bahwa Anda adalah salah seorang yang anti terhadap konten pornografi, dengan memasang salah satu desain banner "Blogger Anti-Pornografi" di bawah. Download kode sesuai banner yang diinginkan.

Desain 1

Desain 2

Desain 3

Desain 4

Posted by Art Dimension
Art Dimension Updated at: 1:18 PM

Tuesday, December 23, 2014

Shinigami’s Eye (Bab 6)

Oleh: Lea Willsen


Bab 6
ANGIN berderu keras. Dalam dimensi gelap itu, Leysa terus berlari dan mencari papanya.
“Papa! Papa! Di mana kau?!” teriak Leysa. Nafasnya ngos-ngosan. Sekujur tubuhnya bermandikan peluh.
“Leysa...! Leysa...!” Sayup-sayup terdengar pula suara Katada memanggil nama putrinya.
“Papa! Di mana kau?!”
“Aku di belakangmu...” Tiba-tiba suara itu menjadi terasa dekat.
Leysa pun berpaling dan menemukan sosok papanya. “Papa! Aku sedari tadi mencarimu...”
Katada tersenyum. “Selamat tinggal, Leysa...”
“Hah?! Papa mau ke mana?!”
“Papa telah dipanggil untuk menjadi korban berikutnya...” Begitu selesai berbicara, Katada pun menghilang dalam gelap.
“Papa! Papa! Jangan meninggalkan kamiii...!” Leysa pun terjaga.
Braaak! Pintu terbuka. “Ada apa Leysa?!”
“Mama! Di mana Papa?”
“Kau mimpi buruk...?”
“Di mana Papa?” Leysa bertanya sekali lagi.
“Papa baru saja keluar.”
“Papa ke mana? Sekarang jam berapa?”
“Barusan Papa menerima telepon dari rekannya, katanya seorang pekerja mereka tiba-tiba menghilang entah ke mana. Sekarang baru jam setengah dua belas malam. Tidurlah kembali. Kau baru tertidur sekitar satu jam sedari tadi.”
Leysa menatap berkeliling. Tunggu dulu, ke mana perginya si wanita berbaju merah, pria tanpa busana, dan juga si kakek cengeng yang terus-menerus menangis? Mereka tak terlihat lagi, atau memang sudah menghilang? Tak biasanya mereka tak mengganggu Leysa. Kalau si cebol memang tak selalu muncul. Tapi biasanya yang lain tak pernah tak ada. Leysa merasa heran. Entah mengapa, kendati ketiga makhluk itu tak lagi mengganggunya, namun firasatnya tak begitu enak. Ia merasa telah—atau akan segera—kehilangan sesuatu.
Tiba-tiba ia menangkap sesuatu yang bercahaya di genggaman mamanya. Sebuah salib!
“Ma, bukankah salib itu milik Papa?”
“Oh, ini?” Linda memandangi salib pada genggamannya. “Tadi sebelum pergi kalung di leher Papa putus, dan ia menitipkannya kepada Mama. Mama sedang coba memperbaikinya, dan ternyata bisa. Mumpung hari ini Radhi tertidur pulas, jadi Mama punya sedikit waktu.”
“Sejak kapan Papa mengenakan salib? Bukankah biasanya Kakek dan Papa selalu berbangga diri mengaku mereka manusia tak beragama?”
Linda tersenyum. “Salib ini ditemukannya saat membersihkan gudang di lantai dasar pada hari kedua kita datang. Semula terlihat hitam dan kotor. Tapi setelah dicuci ternyata masih terlihat cantik. Sepertinya papamu hanya mengenakannya sebagai aksesori.”
“Mungkinkah berkat salib ini...?” gumam Leysa nyaris tak terdengar.
“Kau bilang apa?”
Leysa menatap wajah mamanya. “Ma, kau pernah melihat hantu?”
Linda tersentak. “Jangan membicarakan itu...”
“Tapi Papa bilang Mama yang setiap hari membicarakannya?”
Linda menghela nafas. “Mama tak dapat melihatnya. Tapi Mama selalu merasa tak nyaman di rumah ini...”
“Bukankah biasanya kalian tak pernah merasa seperti itu di tempat lain?”
“Ya...”
“Itu karena di sini jumlah mereka sangat banyak, Ma. Aku melihatnya dengan jelas! Aku takut...”
“Leysa... Mama sudah mendengarnya dari Papa tadi sore. Kita tak punya pilihan lain. Papamu berencana akan mencari sebuah rumah sederhana lain. Semoga saja kita dapat segera pindah.”
Leysa tertunduk. Malam ini berbeda. Makhluk-makhluk itu semua pergi ke mana?
“Leysa...” Linda menyerahkan salib di tangannya kepada Leysa. “Bawalah ini jika kau takut. Semoga Tuhan Yesus melindungi putri Mama...” Linda mengecup kening putrinya. “Tidurlah, Nak...”
Leysa jarang mendengar mamanya menyebut Tuhan. Namun setahunya, sebelum menikah dengan Papa, keluarga Mama menganut agama Kristen.
***

Kembali ke Prolog untuk membaca bab lain.
Posted by Art Dimension
Art Dimension Updated at: 12:43 PM

Shinigami’s Eye (Bab 5)

Oleh: Lea Willsen


Bab 5
PADA malam malam berikutnya, Linda masih terus merasakan kejadian-kejadian aneh lainnya, seperti sandal yang berpindah tempat, pintuk yang malam-malam diketuk, lampu teras yang tiba-tiba menyala, suara tangisan di koridor, suara alat musik di lantai tiga, keran di kamar mandi yang tiba-tiba terbuka, dan juga suara-suara pria yang menjerit-jerit entah dari mana arahnya.
Selain itu, Radhi si bungsu juga setiap malam menangis tak henti-hentinya. Linda takut suara tangisan Radhi akan membuat Katada tak dapat tidur nyenyak—sementara esok masih harus bekerja di kebun—maka Linda selalu membawa Radhi turun ke ruang utama lantai dasar.
Bukan hanya itu, Randy juga sempat bercerita, suatu malam ketika ia keluar dari kamar untuk mengambil air, terdengar suara Leysa yang memanggil-manggil namanya. Namun saat disahut, suara itu pun menghilang. Dan ketika ia hendak kembali ke kamar, terdengar suara bola besi yang terseret-seret di tangga lantai dua menuju lantai tiga.
Dan berbeda lagi dengan apa yang dialami oleh Leysa. Setiap malam ia melihat sesosok wanita berbaju merah yang terbang ke sana kemari di atas langit-langit kamarnya. Sesosok pria tanpa busana mengamatinya semalaman dari arah pintu. Dan sesosok kakek tua yang tak henti-hentinya menangis di sisi ranjang. Belum lagi sesosok cebol yang kadang muncul kadang tidak. Cebol itu paling mengganggu. Dia senang menarik rambut Leysa, menciptakan bunyi-bunyian aneh dengan sebuah terompet kecil yang selalu bergelantungan di lehernya, dan juga mendekatkan jari-jarinya di wajah Leysa serta mengancam akan mencungkil mata Leysa. Selama seminggu tinggal di rumah itu, nyaris tak ada satu malam pun Leysa dapat tidur nyenyak. Sebagai pemilik shinigami’s eye, ia dapat melihat serta merasakan gangguan-gangguan makhluk halus itu, melebihi apa yang dapat dirasakan oleh anggota keluarga lainnya. Ia tahu secara pasti bahwa rumah mewah yang mereka tempati sangat angker dan tak seperti tempat-tempat lainnya. Tetapi, ia tak berani menceritakannya kepada anggota keluarga lainnya.
Yang sulit dipercaya, selama seminggu tinggal di rumah mewah itu, Katada sama sekali tak merasakan hal aneh apa pun.
***
“BAGAIMANA kalau kita pindah saja?” tanya Linda hati-hati.
Katada tak menjawab.
“Betul, Pa... Randy takut...,” timpal Randy.
Katada pun menghela nafas. “Pindah ke mana? Rumah ini tersedia secara gratis, mewah dan indah. Kita tak mungkin meminta perusahaan memberikan rumah lain lagi, ‘kan? Itu mustahil...”
“Tapi, Katada... Sepertinya ada sesuatu yang aneh di sini...”
“Betul, Pa! Rumah ini angker!”
“Randy..., jangan ikut campur...”
Randy tertunduk.
“Kalian setiap hari membicarakan hal ini. Tapi mengapa aku tak pernah sekali pun merasakannya? Sepertinya kalian terlalu sering menonton film horor, Suster Mandi, Suster Rangkak, Hantu Jeruk Busuk, Hantu Jamu Pahit, Babi Ngesot, dan lainnya...” Katada pun bangkit dari kursinya, dan berjalan keluar rumah, menuju halaman belakang. Rasanya kesal juga terus-menerus mendengar Linda setiap hari membahas itu-itu saja.
Ternyata di halaman belakang Katada mendapati Leysa. Putri pendiamnya itu sedang membaca sebuah buku.
“Papa...”
“Leysa...” Katada menghampiri Leysa. Tiba-tiba rasanya ada yang ingin ia bicarakan. “Leysa, apa pendapatmu tentang rumah ini?”
“Rumah ini?” Leysa sedikit kaget mendengar pertanyaan itu.
“Benar! Maksud Papa, Mama dan adikmu setiap hari membicarakan yang bukan-bukan tentang rumah ini, tapi Papa tak pernah merasakannya...”
Leysa hanya terdiam.
“Papa tak begitu percaya, karena matamu bisa melihat makhluk halus, tapi kau tak pernah mengeluh. Sementara mata mereka tak dapat melihatnya, tapi justru mereka yang terus mengeluh kepada Papa...” Katada tersenyum sinis.
“Pa...” Leysa tampak ragu. “Apa yang dikatakan oleh Mama dan adik itu benar...”
“Apa?”
“Rumah kita... Seperti sarang hantu...”
Nafas Katada tertahan. Ah, haruskah ia percaya dengan apa yang barusan dikatakan oleh Leysa?
Leysa mencengkeram lengan Katada. Nafasnya memburu. Suaranya meninggi. “Jumlah mereka bukan belasan atau puluhan, tapi tak terhitung lagi, Pa! Bentuknya sangat menyeramkan! Aku takut! Aku tak tahan lagi, Pa!” Tangisan Leysa pun pecah dalam dekapan sang Papa.
“Sudah, Leysa... Jangan menangis... Papa akan mencarikan jalan keluar untuk kita... Kita akan pindah begitu Papa menemukan rumah lain...”
Leysa tetap tak dapat membendung airmata. Wajahnya dibenamkan pada dada sang Papa. Di sana ia mendapati sebuah liontin salib yang tergantung pada kalung di leher papanya. Salib itu berkilau-kilauan memantulkan sinar matahari.
***

Kembali ke Prolog untuk membaca bab lainnya.
Posted by Art Dimension
Art Dimension Updated at: 12:32 PM

Shinigami’s Eye (Bab 4)



Oleh: Lea Willsen
Bab 4
KEDUA mata Linda terpejam. Tubuhnya terendam dalam bathtub yang dipenuhi air sabun. Sungguh lelah rasanya. Seharian ia membereskan ruang-ruang di lantai dua. Dan besok-besok masih ada lantai dasar, tiga, dan empat yang harus dibersihkan. Kendati Katada dan anak-anak juga turut membantu, tapi bagaimana pun juga pria dan anak-anak tak pintar mengerjakan pekerjaan rumah. Pekerjaan mereka tak sebanding dengan Linda.
Tiba-tiba, sepasang tangan merangkul leher Linda dari belakang.
“Ah, Katada, jangan menggangguku...,” gumam Linda yang masih memejamkan mata.
Tak ada balasan. Sepasang tangan itu masih terus berada pada leher Linda, dan meraba-raba halus.
“Katada...” Linda tak tahu harus berkata apa. Kalau ia tak salah ingat, sebelum ia mandi tadi, Katada sudah terlelap. Suaminya terbangun lagi?
Perlahan-lahan, sepertinya Linda merasa kuku sepasang tangan itu menggesek lehernya. Kuku itu terasa panjang.
“Katada!” Linda tersentak membuka mata. Tak ada siapa-siapa dalam kamar mandi itu. Lalu, siapa yang barusan merangkul lehernya?
Linda bergidik. Bergegas ia bangkit dari bathtub, mengenakan pakaiannya, dan berjalan keluar. Terlihat olehnya Katada masih terlelap di atas ranjang.
Oh, Katada masih terlelap... Lalu...?
Srrrt... Srrrt... Terdengar langkah kaki yang terseret-seret dari belakang. Linda coba melirik ke belakang, namun tubuhnya tak berani berputar. Astaga! Sepertinya ada sesuatu bergerak-gerak di belakang! Warnanya hitam! Apa itu?! Manusia?! Siapa?!
Greeeb...! Sesuatu menarik baju Linda dari belakang! Spontan Linda menjerit histeris. Jantungnya hampir berhenti.
“Ada apa?!” Katada tersentak bangun. Langsung saja Linda melesat dalam pelukannya.
“Hantu! Hantu!” pekik Linda tak berani membuka mata.
“Hantu?! Di mana?!”
“Di belakangku!”
Mata Katada menerawang seisi ruangan, hingga ke langit-langit. Tak terlihat apa pun. “Tak ada, Linda... Jangan bicara yang bukan-bukan...”
“Ada!”
“Tak ada... Coba kau buka mata lihat sendiri. Di sini hanya ada kita berdua...”
Pelan Linda membuka mata, dan menerawang seisi ruangan. Hantunya hilang. “Oh, tadi jelas-jelas ada! Dia menarik bajuku!”
Katada tersenyum. “Jangan takut...”
Linda menatap wajah Katada. Tiba-tiba ia teringat sesuatu. “Tadi kau masuk ke kamar mandi?”
“Tidak... Aku sudah terlelap.”
“Tadi ada sepasang tangan yang meraba leherku! Aku tak bohong, Katada! Aku mengira itu kau... Tapi... kukunya terasa panjang!”
“Linda...” Alis Katada mengernyit. “Mungkin kau ketiduran di dalam karena terlalu lelah. Nanti aku akan mencarikan seorang pembantu untukmu...”
“Tidak, Katada! Aku yakin aku tak sedang bermimpi! Aku merasakan kukunya bergesekan dengan leherku. Sedikit sakit...” Linda menjelaskannya sembari mengelus leher sendiri. “Ah?!” Lehernya terdapat sebuah luka kecil. “Katada! Leherku terluka?”
“Coba diangkat...” Katada pun memerhatikan leher Linda. “Benar..., sedikit goresan memar...”
“Katada! Itu perbuatan hant...”
“Linda. Sebaiknya kau segera istirahat dulu. Besok pagi baru kita bicarakan lagi...”
***

Kembali ke Prolog untuk membaca bab lain.
Posted by Art Dimension
Art Dimension Updated at: 12:23 PM

Entri Populer