Wednesday, June 1, 2016

Review Lengkap Samsung GALAXY A3 (2016)



Bila biasa kita melakukan review terhadap software atau hardware komputer, pada postingan kali ini yang akan kita review ialah sebuah produk smartphone, Samsung GALAXY A3 (2016), yang dapat dikatakan sebagai sebuah produk yang menargetkan pasar menengah ke atas, dengan harga berkisar antara 3.8 juta hingga 4 jutaan (update Oktober 2017: 2.5 juta).
Ohya, namun bila foto-foto ‘penampakan’ A3 (2016) yang terlampir di sini terlihat agak buram, mohon dimaklumi karena penulis menjepretnya dengan smartphone lain yang masih hanya dibekali kamera 5 MP.

Samsung GALAXY A3 (2016) dengan balutan body metal


Performa
Merujuk pada produk generasi sebelumnya, GALAXY A3 yang tanpa disertai angka 2016 di belakang, Samsung melakukan beberapa upgrade bagi GALAXY A3 (2016), guna meningkatkan performa dari produk ini. Adapun beberapa upgrade yang dimaksudkan ialah sebagai berikut: 1. Ukuran layar 4.5 inci menjadi 4.7 inci; 2. Resolusi layar 540x960 menjadi 720x1280; 3. Kompatibilitas OS Android v4.4.4 KitKat (upgrade ke v5.0.2 Lollipop) menjadi Android v5.1.1 Lollipop (upgrade ke v7.0 Nougat); 4. CPU Quad-core 1.2 GHz Cortex A53 menjadi CPU Quad-core 1.5 GHz Cortex A53; 5. Kompatibilitas slot micro SD dari 64 GB menjadi 128 GB; 6. Kamera utama 8 MP menjadi 13 MP; dan 7. Baterai Li-Ion 1900 mAh menjadi Li-Ion 2300 mAh. Bisa dikatakan spesifikasi antara A3 dan A3 (2016) tidak memiliki upgrade yang terpaut jauh, kecuali pada bagian resolusi, kamera, serta kapasitas baterai yang cukup berpengaruh. Lantas, bagaimana dengan performa A3 (2016)?

Spesifikasi berdasarkan CPU-Z



Selama pemakaian seminggu hingga postingan ini dibuat, bisa dikatakan penulis tidak menemukan gangguan kinerja serius pada GALAXY A3 (2016), baik melakukan aktivitas multimedia yang berhubungan dengan foto, video, atau audio, multitasking yang melibatkan sejumlah aplikasi yang dijalankan secara bersamaan, kemudian juga gaming. Hmm.... Kira-kira game seperti apa yang sanggup dijalankan oleh perangkat mini ini? Tak terpungkiri, game juga banyak jenis, dari yang sederhana, hingga yang memiliki grafis luar biasa serta membutuhkan spesifikasi yang tidak tanggung untuk menjalankannya. Namun, Anda jangan cemas, karena penulis telah menguji aktivitas gaming dari A3 (2016) dengan game Real Racing 3! Ya, segalanya berjalan mulus--meskipun ada juga reviewer lain yang mengklaim smartphone satu ini tidak cocok untuk gaming--dan asal tahu saja total size dari Real Racing 3 menembus 2 GB!


Multitasking tanpa kendala



Ohya, bahkan sambilan menjalankan Real Racing 3 yang super berat, smartphone masih sanggup menjalankan aplikasi perekam tampilan layar (menjadi video) yang umumnya juga tergolong aktivitas multitasking berat. Keduanya tetap beroperasi dengan baik.


Real Racing 3


Dengan dibekali layar jenis Super AMOLED serta resolusi mencapai 720x1280, ketangguhan A3 (2016) pun terlihat nyata ketika memutar sejumlah video kualitas HD. Tampilan terlihat tajam dengan warna yang tegas, bahkan ketika kita coba memiringkannya dengan berbagai sudut pandang. Untuk hasil yang lebih maksimal, pengguna juga dapat menjalankan video dengan aplikasi MX Player atau MX Player Pro yang dapat diinstal melalui Play Store. Tak ada yang mengecewakan dari segi kualitas tampilan layar. Dan lagi, meskipun resolusi smartphone mini ini sendiri hanya 720x1280, tetapi sudah memungkinkan untuk menjalankan video full HD dengan resolusi 1080x1920, bahkan juga mengoperasikan Photoshop Touch versi tablet tanpa kendala! Untuk informasi tambahan, Anda mungkin juga tertarik membaca review untuk Real Racing 3 di sini.

Dengan layar Super AMOLED terlihat jelas dari berbagai sudut

Menjalankan video full HD tanpa kendala



Masih berkat layar jenis Super AMOLED yang diklaim pengembang sanggup menghemat penggunaan daya hingga 40%, baterai Li-Ion 2300 mAh yang dimiliki A3 (2016) lebih dari cukup untuk menemani Anda seharian penuh tanpa repot-repot mengandalkan power bank. Faktor-faktor lain yang menjadi rahasia di balik ketahanan baterai GALAXY A3 (2016) tak lain karena smartphone ini masih menggunakan layar di bawah 5 inci, dan juga processor 4 core yang tidak menyebabkan panas berlebih ketika smartphone melakukan kerja berat. Pengujian ini penulis lakukan dengan setelan pencahayaan rendah pada layar, dan tentu berbeda pengalaman ketika mengujinya pada setelan pencahayaan tinggi yang lebih menguras daya. Yang pasti, dengan kapasitas baterai 2300 mAh tidaklah menjadi kelemahan A3 (2016), seperti apa yang dirumorkan sejumlah blogger lain melalui review yang sekadar mengandalkan data tertulis.
Adapun beberapa keluhan dari pengguna lain terkait GALAXY A3 (2016), setelah melakukan upgrade OS ke v6.0.1 Marshmallow jaringan menjadi terkendala, chat dari BBM, WhatsApp, dan sejenisnya sering telat masuk. Namun, dari opini penulis, sebenarnya masalah tersebut hanya terdapat pada setting yang diterapkan. Penulis sendiri sama sekali tidak mengalami masalah tersebut. Untuk detail masalah serta solusi, silakan klik di sini.
Kamera
Kamera utama dari GALAXY A3 (2016) tergolong sanggup bersaing dengan berbagai smartphone high-end, yaitu memiliki resolusi sebesar 13 MP. Sejumlah menu juga memungkinkan pengguna untuk menyesuaikan lensa dengan kondisi pencahayaan sekitar, baik pada ruangan tanpa pencahayaan, ataupun kondisi luar ruangan yang terang. Untuk kepentingan selfie, kamera depan yang beresolusi 5 MP juga telah dibekali bukaan f/1.9, sehingga hasil jepretan jelas tidak mengecewakan. Berikut beberapa hasil jepretan kamera belakang dalam ruangan tanpa cahaya, dan harap (sekali lagi) maklum bila objek yang diambil kurang menarik, mengingat penulis pada dasarnya bukan seorang fotografer.

Potret malam dengan zoom

Objek terlihat jelas walau pada ruangan minim cahaya

Hasil tangkapan layar cukup solid

Khusus untuk para pencinta alam yang mungkin sering memotret foto di alam terbuka, hasil jepretan dari Saudara Supher Frank Fakhrur yang merupakan salah seorang pengguna A3 (2016) juga cukup terlihat baik, dengan sedikit efek motion pada latar objek utama.

Hasil jepretan pada alam terbuka


Dan berikutnya ialah hasil selfie dengan kamera depan 5 MP.

Hasil jepretan kamera depan cukup terang



Sebagai pelengkap, Samsung juga memanjakan pengguna A3 (2016) dengan fitur yang memungkinkan pengambilan foto/video hanya dengan mengibaskan tangan, atau mengucapkan “shoot”, “smile”, “cheese”, “capture”, dan “record video”. Dengan kata lain, ketika Anda menggunakan tongsis standar yang tidak dibekali bluetooth, Anda bisa langsung mengambil foto tanpa harus repot-repot menyetel timer dan buru-buru menyesuaikan posisinya.
Meskipun tidak memiliki sebuah tombol fisik kamera yang biasanya digunakan untuk mengambil fokus, bukan berarti A3 (2016) tidak dapat mengambil fokus secara benar. Pengambilan fokus bisa dilakukan cukup dengan menyentuh objek yang hendak dibidik melalui tampilan layar, dan secara otomatis objek tersebut akan menjadi apa yang difokuskan oleh lensa.
Ketika kita—mungkin—masih belum puas dengan hasil jepretan yang diperoleh, tersedia juga fitur editor foto yang tergolong canggih, bahkan membuat kita usah lagi menambahkan berbagai aplikasi kamera cantik dari pihak ketiga. Prinsipnya adalah hampir semua dari kita ingin terlihat baik pada foto, dan berbagai opsi pada editor foto dapat ‘menyihir’ wajah kita menjadi tanpa jerawat, lebih tirus, terang, dengan sepasang mata yang lebar. Wah! Jangan percaya begitu saja ya, ketika berkenalan dengan seorang cantik atau tampan melalui dunia maya! Siapa tahu, foto yang diperlihatkan juga merupakan foto yang sudah ‘disihir’!
Desain
Tidak sedikit yang merumorkan A3 (2016) itu overprice untuk sebuah smartphone yang belum dibekali fingerprint, fast charging, serta dukungan VR. Di balik itu, Samsung tidak tanggung-tanggung menginvestasikan modal untuk menghadirkan desain premium bagi A3 (2016), di mana body smartphone ini telah berbahan utama metal, kemudian juga pelapisan Corning Gorilla Glass 4 pada bagian depan dan belakang. Praktis, kesan pertama ketika bersentuhan dengan smartphone ini adalah rasa dingin dan sejuk di kulit kita. Selain itu, masih karena desain premium yang dimiliki, A3 (2016) bahkan sempat dirumorkan sebagai produk yang awalnya akan diperkenalkan sebagai S6 Mini, meskipun pada akhirnya malah menjadi generasi dari seri A.
Desainer dari body A3 (2016) kelihatannya juga merupakan seorang pembersih yang tidak menyukai kotoran hitam yang cenderung menempel di sela-sela smartphone, terlihat dari body A3 (2016) yang nyaris tanpa ada sudut mati, kemudian juga sela-sela yang sangat rapat sehingga tidak mudah menumpuk kotoran. Sebut saja lubang speaker depan yang berada di atas layar, bila pada smartphone lain lubang itu tenggelam cukup dalam dari permukaan layar dan berpotensi menampung kotoran, di sini speaker tersebut terlihat licin dan senyawa dengan layar, meskipun tetap sedikit lebih masuk. Pada sela-sela antara body metal dan lapisan kaca depan-belakang pun sangat rapat, tak ketinggalan juga pintu SIM/micro SD yang bahkan sepintas tak akan terlihat selanya.
Dengan ukuran 134.5x65.2x7.3 milimeter dan berat 132 gram, smartphone ini juga pas di tangan, mudah dibawa dan disimpan di mana saja. Namun, karena bagian depan dan belakang smartphone ini dilapisi kaca, mudah tercemar minyak, terkadang terasa licin di tangan, dan rawan meluncur ke bawah ketika diletakkan pada suatu tempat dengan permukaan yang tidak rata. Untuk itu, sangat disarankan ditambahkan sarung atau tempered glass sebagai pelindung ekstra.

Corning Gorilla Glass 4 di bagian depan dan belakang


Berbicara tentang tempered glass, ada satu desain yang semestinya adalah suatu kelebihan, tetapi justru menjadi ‘masalah’ ketika kita memasangkan anti gores pada A3 (2016). Pasalnya, A3 (2016) mengambil desain layar yang sedikit melengkung (2.5D) di keempat sisinya, sehingga ketika dipasangkan tempered glass, kadang pada bagian tepi tidak akan merekat secara baik. Namun, ada pula tempered glass merek tertentu yang dapat merekat secara baik.
Mengenai side button, GALAXY A3 (2016) hanya memiliki tiga buah side button, yaitu power di bagian kanan (beserta pintu SIM/micro SD yang tertutup rapat), kemudian volume +/- di bagian kiri yang secara pribadi penulis nilai terlalu tinggi dan kurang pas dioperasikan dengan tangan kanan. Di bagian bawah, terdapat port pengisian daya, audiojack, dan sebuah speaker. Sementara untuk bagian atas, tidak ada tombol maupun port.

Tampak kanan

Tampak kiri


Tampak bawah

Tampak atas


Berbicara tentang kelebihan dari segi desain, keindahan dan kemewahan menjadi hal mutlak pada A3 (2016). Dengan tipisnya bingkai layar pada tepi body, meskipun hanya berbekal layar 4.7 inci, tampilan terlihat luas dan nyaman, tidak memboros ruang pada sisi layar. Meskipun demikian, karena tipisnya bingkai layar juga, seorang pengguna yang belum terbiasa akan sering tanpa disengaja menyentuh layar dan membuat GALAXY A3 (2016) bereaksi tanpa dikehendaki. Sebagai solusi, kita dapat memasangkan sarung guna mempertebal bagian tepi.




Overall, desain A3 (2016) tidaklah buruk, meskipun butuh sedikit penyesuaian. Adapun pilihan warna yang tersedia: emas; perak; hitam; dan pink keemasan.
Kelengkapan

Barang-barang bawaan dari Samsung, yaitu box, buku panduan serta kartu garansi, kabel data, charger 1.5 ampere, pin untuk membuka pintu SIM/micro SD, kemudian earphone model in-ear. Meskipun tren smartphone warna putih yang bisa dikatakan juga dipelopori oleh Samsung di masa lalu kini mulai redup sejak Samsung kembali memperkenalkan ragam smartphone berbahan metal, untuk kabel data, charger, serta earphone kelihatannya perusahaan asal Korea tersebut masih tetap mempertahankan warna putih yang menjadi ciri khas. Satu hal yang sedikit disayangkan, Samsung tidak memberikan pin pembuka pintu SIM/micro SD cadangan, padahal benda itu sangat kecil dan rawan hilang, meskipun fungsinya amat penting.

Aksesori Samsung masih mempertahankan ciri khas warna putih

Kelebihan dan Kekurangan Lainnya
Kelebihan dari Samsung GALAXY A3 (2016) ialah telah dibekali memori internal sebesar 16 GB, sehingga memungkinkan untuk menginstal game-game berat sekalipun. Di samping itu, smartphone ini juga dibekali koneksi LTE Cat 4 dengan kecepatan download hingga 150 Mbps, processor yang cukup baik di kelas menengah, layar yang tajam, bahan serta desain body premium, kemudian daya tahan baterai lebih lama.
Untuk kekurangan, A3 (2016) tidak memiliki lampu indikator, sehingga sedikit repot ketika kita hendak memastikan apakah pengisian daya telah selesai atau belum, maupun pemberitahuan lainnya. Selain itu, meskipun diklaim sebagai GALAXY Duos yang mampu menjalankan dua buah SIM secara bersamaan, slot yang digunakan adalah slot hybrid. Untuk lebih detail tentang slot hybrid, silakan baca di sini.
Demikianlah review untuk kali ini, dan semoga bermanfaat. Apabila masih ada hal-hal yang ingin ditanyakan seputar GALAXY A3 (2016), silakan melalui kolom komentar.

*
Lea Willsen, penulis buku “Cara Tokcer Android Canggih Tanpa Rooting”, terbitan Penerbit ANDi
Posted by Art Dimension
Art Dimension Updated at: 12:21 PM

Friday, April 8, 2016

Risiko Modifikasi SIM dan Micro SD untuk Slot Hybrid

Foto: Rizka Amita


Bermunculannya smartphone yang menggunakan slot model hybrid dari yang murah hingga mahal selangit, sedikit banyak membuat pengguna merasa kesulitan untuk memenuhi kebutuhan mobilitas. Seperti yang dijelaskan pada artikel sebelumnya yang dapat dibaca di sini, slot hybrid kadang membuat pengguna merasa dilema, antara apakah akan menggunakan satu kartu SIM dan satu micro SD, atau dua kartu SIM dan tanpa micro SD. Pasalnya, slot hybrid tidak benar-benar memiliki dua buah slot kartu SIM, tetapi SIM 2 justru hanya menumpang pada slot micro SD, atau boleh juga dianggap sebaliknya, micro SD yang menumpang pada slot SIM 2.
Umumnya, tidak sedikit pengguna membeli smartphone dengan slot hybrid karena tidak mengetahui kondisi tersebut. Beberapa dari mereka menggunakan cara ekstrem untuk mengatasi masalah slot hybrid, agar ketiga kartu (SIM 1, SIM 2, dan micro SD) dapat bekerja secara bersamaan. Adapun caranya ialah dengan membakar lapisan plastik pada bagian belakang SIM 2 dengan korek api atau lilin, kuliti dan lepaskan pelat emas di tengah, rekatkan kembali pelat pada micro SD sesuai posisi konektor yang ada di dalam slot pada smartphone, lalu pasangkan.
Namun, tentu cara di atas sangat tidak dianjurkan. Sejatinya pengguna smartphone juga perlu menjadi seorang smart user. Kalaupun banyak yang berhasil dengan cara di atas, setidaknya kita perlu mempertimbangkan beberapa hal berikut:
1. Bila SIM kita adalah nomor penting untuk menjalin komunikasi bersama sejumlah kenalan, ketika terjadi kesalahan dan pelat emas malah turut terbakar, untuk memohon kembali nomor tersebut dengan SIM baru bukanlah masalah mudah.
2. Ketika merekatkan pelat emas dari SIM ke micro SD, berarti kita setuju dengan risiko rusaknya micro SD secara fisik, dan bahkan juga hilangnya sejumlah data penting di dalamnya yang gagal terbaca. Micro SD akan menjadi tebal, dan tidak dapat kompatibel pada sejumlah perangkat lain.
3. Usai pelat emas dan micro SD menyatu, mungkin dibutuhkan unsur pemaksaan agar benda yang menjadi lebih tebal daripada aslinya itu dapat dimasukkan ke dalam slot smartphone. Lalu, belum tentu posisi pelat emas pas dengan konektor, yang berarti mungkin perlu dipisahkan kembali antara pelat emas SIM dan micro SD, baru direkat ulang dengan posisi lain yang tetap belum tentu pas dengan konektor.
4. Kabar baik, pelat emas dan micro SD sudah terbaca dengan baik pada smartphone. Namun, benarkah segalanya berjalan dengan baik seperti apa yang terlihat di awal? Bagaimana bila ternyata slot malah menjadi longgar dan rusak setelah beberapa saat pemakaian, atau SIM dan micro SD malah pecah dan tersangkut di dalamnya?
5. Katakanlah, bukan SIM dan micro SD yang pecah, tapi justru baki penampung kartu-kartu tersebut, maka kita harus repot-repot mencari penggantinya. Syukur-syukur jika sparepart tersedia. Jika tidak, mungkin smartphone kita akan benar-benar tidak bisa digunakan selama berhari-hari atau berminggu-minggu sebelum sparepart tiba.

Foto: Deni Sujatmiko

6. Kita bukan sekadar bermasalah dengan desain bentuk slot yang kurang satu, tetapi lebih pada kompabilitas smartphone dalam menjalankan kedua kartu (SIM 2 dan micro SD) sekaligus. Jika penulis adalah vendor smartphone, bila produk tersebut memang support menjalankan kedua kartu secara bersamaan, sudah tentu diciptakan slot yang terpisah. Kalau menggunakan slot hybrid, berarti memang tidak support. Bila pengguna tetap memaksa dengan cara memodifikasi SIM 2 dan micro SD, itu pasti memperpendek usia smartphone.
7. Kerusakan yang timbul akibat kesalahan pengguna, tidak ditanggung oleh garansi. Lagi, umumnya smartphone bersangkutan menjadi tidak laku ke depannya, apabila calon pembeli tahu barang tersebut telah diperlakukan secara kasar.
Singkat cerita, dari pada memodifikasi SIM dan micro SD, lebih baik pilihlah smartphone dengan fitur SIM ganda yang nyata, memiliki tiga buah slot lengkap. Anda percaya dengan tutorial-tutorial berupa video yang beredar di dunia maya? Para pelaku hanya tahu upload. Besok-besok, saat mereka bermasalah dengan gagasan tidak smart tersebut, mereka tentu tidak akan lagi berbagi dengan Anda. Mereka tidak akan membuat sebuah video untuk membantah video pertama.
Slot model hybrid bisa dibilang sebuah rapor merah bagi para vendor yang memproduksi smartphone tersebut. Ketika sebelumnya banyak dari kita sudah menikmati nyamannya menggunakan smartphone dengan tiga slot, sekarang malah kita seakan diajak berjalan mundur.

Posted by Art Dimension
Art Dimension Updated at: 1:05 PM

Mengenal Slot Hybrid pada Smartphone



Teknologi SIM ganda pada smartphone bukan lagi hal baru di dunia pergawaian. Hampir semua merek memiliki model smartphone yang dibekali fitur SIM ganda, apakah mereka menyebutnya dengan istilah dual, duos, atau senadanya. Tetapi, tak terpungkiri bahwa tidak semua dari kita memiliki kebutuhan tersebut. Beberapa dari kita, pada dasarnya tak pernah menggunakan dua nomor telepon, apakah itu dengan pertimbangan menghemat pengeluaran, atau bisa juga lebih menyukai memasangkan sebuah nomor sekunder pada ponsel atau smartphone lain.
Secara pribadi, penulis yang terbiasa menggunakan smartphone dengan SIM ganda, justru merasa sulit untuk meninggalkan fitur tersebut, atau berpindah pada smartphone lain yang hanya dibekali satu slot kartu SIM. Sedikit banyak disebabkan juga oleh lokasi tinggal penulis yang sulit memeroleh kualitas sinyal memadai, untuk nomor utama yang digunakan berkomunikasi sedari dulu, maka nomor sekunder berprovider lain yang memiliki kualitas sinyal lebih memadai amat diperlukan untuk terkoneksi ke jaringan.
Bagi yang memiliki kesamaan kebutuhan seperti penulis, memiliki smartphone yang mendukung fitur SIM ganda tentu amatlah penting. Dalam hal ini, meskipun banyak pilihan model smartphone dari berbagai merek yang mendukung SIM ganda, perlu dipahami bahwa tidak semuanya memiliki sistem kerja yang sesuai dengan kebutuhan. Sebagai tema utama dari pos ini, kita akan membahas slot model hybrid yang belakangan ini hadir di sejumlah model dan merek smartphone. Apakah itu slot model hybrid?
Sederhananya, slot model hybrid ialah slot kartu SIM yang memang memungkinkan kita untuk memasang dua buah kartu SIM sekaligus, tetapi berdampak pada kondisi di mana kita harus mengikhlaskan tidak adanya slot micro SD untuk melakukan ekspansi memori eksternal. Pasalnya, slot model hybrid hanya dibekali slot SIM 1 yang dapat benar-benar aktif dipasangkan kartu SIM, lantas pada slot SIM 2 adalah menumpang pada slot micro SD. Praktis, pengguna  hanya dapat memilih apakah ingin memasang satu kartu SIM dan satu micro SD, atau dua kartu SIM dan tanpa micro SD.
Slot hybrid kelihatannya cukup menimbulkan dilema kepada penggunanya, terlebih bagi kita yang tidak dapat meninggalkan fitur SIM ganda, namun juga membutuhkan ruang memori yang luas untuk menampung berbagai file, seperti video, audio, foto, maupun game dan aplikasi.
Jadi, sebelum memutuskan membeli sebuah smartphone yang diklaim memiliki fitur SIM ganda, cek terlebih dulu, apakah smartphone tersebut sanggup secara nyata menjalankan dua SIM dan satu micro SD secara bersamaan, atau model hybrid seperti yang dijelaskan di atas. Baca juga artikel tentang risiko modifikasi SIM dan micro SD untuk slot hybrid.

Posted by Art Dimension
Art Dimension Updated at: 1:02 PM

Monday, February 29, 2016

Bermula Ide Tombol Dislike, Facebook Menambahkan Fitur Tanggapan Kiriman



Setelah lama kita mendengar kabar akan ditambahkannya tombol dislike oleh Facebook (FB), kemudian kita juga sempat menduga-duga atau berharap cemas untuk mencoba fitur baru tersebut, ternyata wacana penambahan tombol baru (selain like) tersebut telah terealisasi. Namun, kelihatannya FB memutuskan untuk membatalkan penggunaan sebutan dislike untuk fitur baru mereka itu.

Tak mengherankan, mengingat banyak dari kita yang mungkin menduga tombol itu akan sangat bermanfaat untuk memberi pelajaran kepada para pengepos konten menyebalkan, pada intinya tujuan FB sama sekali tidak mengarah ke sana. Seperti yang telah disebutkan pihak FB sebelumnya, bahwa fungsi penambahan tombol itu tak lain ialah hanya untuk menyesuaikan tanggapan untuk sejumlah pos bertema malang, miris, apes, atau hal negatif lainnya, yang semestinya memprihatinkan, dan kurang pantas untuk diberi like.

Seorang ibu meng-update status, “Pagi ini saat berjalan keluar rumah aku disenggol jatuh oleh sebuah motor....” Selang beberapa menit, bermunculanlah dua tiga temannya yang memberi like! Tidakkah ini lucu dan terkesan mensyukuri kejadian nahas itu?!

Oleh sebab itu, kini FB telah menambahkan sejumlah tombol baru (lebih dari satu tombol baru) bagi pos yang mungkin kurang cocok diberi like. Namun, seperti yang dijelaskan di atas tadi, tombol itu juga tidak jadi menggunakan sebutan dislike, melainkan: love; haha; wow; sad; dan angry. Kalau dalam versi bahasa Indonesia, menjadi: super; haha; wow; sedih; dan marah.



Fitur tombol-tombol baru (atau yang juga diperkenalkan dengan nama Tanggapan Kiriman) kelihatannya juga mulai disosialisasikan kepada para pengguna FB yang membuka website tersebut melalui komputer selama beberapa hari terakhir, di mana akan ditampilkan sebuah dialog ketika kita baru memasukinya.



Hanya saja, ketika artikel ini ditulis (29 Februari 2016), kelihatannya fitur tombol baru FB belum benar-benar bekerja sebagaimana mestinya. Pasalnya, berbeda dengan tombol like yang selalu memunculkan pemberitahuan kepada si pengepos (penerima like), tombol-tombol baru FB belum dapat memunculkan pemberitahuan tersebut. Jadi, satu-satunya cara untuk mengetahui ada atau tidaknya kita mendapatkan tanggapan selain like ialah mengunjungi timeline dan mengecek pos bersangkutan secara langsung.



Selain itu, tombol baru juga kelihatannya belum tersedia pada versi FB lainnya, semisal m.facebook.com. Tidak masalah. Secara berkala FB pasti akan memperbaiki fitur tersebut!
Posted by Art Dimension
Art Dimension Updated at: 12:20 PM

Sunday, February 7, 2016

Processor dan RAM tak Selalu Menentukan Kecepatan Komputer

Processor dan RAM komputer sudah cukup baik, mengapa tetap saja sering error? Pertanyaan demikian mungkin pernah muncul di benak beberapa pengguna komputer. Itu tak mengherankan, mengingat sejatinya ketika kita menginginkan sebuah komputer yang memiliki kecepatan tinggi, apa yang cenderung diperhatikan ialah tipe processor serta kapasitas RAM.

Pada dasarnya antara processor serta RAM memang merupakan pokok utama yang mempengaruhi kecepatan respons komputer dalam memproses sebuah perintah. Namun, kasus di atas juga memberitahukan kepada kita bahwa keduanya juga bukan segalanya yang mutlak menjadi pengatur kecepatan, atau adanya jaminan tidak akan terjadi error pada aplikasi tertentu. Apa sebab?

Pertama, kita perlu mengetahuinya terlebih dulu, apa aplikasi yang terjadi error? Jika itu cenderung terjadi pada aplikasi yang menuntut banyak kegiatan dalam memproses atau mengolah grafis, semisal Photoshop, video converter, game 3D, atau sejenisnya, maka sudah pasti kendala utama ialah kurangnya kemampuan dari segi VGA.

Apakah dalam komputer Anda dibekali kartu VGA tambahan? Atau sekadar mengandalkan VGA onboard (yang tersedia pada motherboard)? Jika kartu VGA sudah ada, berarti kemampuan dari hardware tersebut masih tidak mencukupi kebutuhan penggunanya. Mungkin itu sudah dibeli bertahun-tahun silam, sehingga sudah tergolong model lama yang kurang pas disandingkan dengan sejumlah aplikasi modern yang memang kian rakus akan memori. Namun, lebih seringnya itu terjadi pada komputer yang masih mrpengandalkan VGA onboard.

Meskipun dalam motherboard sering tercantum spesifikasi VGA onboard yang mendukung HD, jangan mudah percaya dan berpikir bahwa komputer itu sudah dapat bekerja optimal meskipun tanpa ekspansi kartu VGA. Yang dimaksudkan HD di sini ialah hanya sebatas tampilan yang dihasilkan, tetapi tidak untuk kemampuan menciptakan tampilan yang baik dalam berbagai pekerjaan. Di samping itu, tanpa adanya kartu VGA yang memadai, aplikasi pengolah grafis juga cenderung lebih rakus dalam mengonsumsi memori (RAM) di setiap kebutuhannya, sehingga juga berpotensi terjadinya gangguan pada aplikasi lain yang sekalipun semestinya tidak memiliki grafis berlebihan tinggi.

Kita mengumpamakannya dengan Photoshop yang dijalankan pada sebuah komputer yang telah ditenagai processor Core i7, serta RAM 4 GB. Ketika kita memiliki kartu VGA tambahan, statistik penggunaan RAM tergolong sedikit, berada di sekitar 1 GB dan masih bersisa 3 GB. Sebaliknya ketika kita hanya mengandalkan VGA onboard, statistik pasti melonjak hingga di angka sekitar 3 GB, yang berarti sisanya hanya sekitar 1 GB atau kurang. Sudah demikian, berbagai kendala ditemukan.

Apa yang kita bahas di sini juga sekaligus menjawab mengapa ada saja sejumlah tipe PC all in one atau laptop yang dibanderol harga murah meskipun telah dibenamkan processor tangguh. Sudahkah produk itu dibekali kartu VGA tambahan?!
Posted by Art Dimension
Art Dimension Updated at: 8:32 AM

Wednesday, February 3, 2016

Ayo blogging!



Ayo blogging! Sesuai dengan judul, inilah yang hendak penulis sampaikan kepada kita semua, guna membangkitkan kembali semangat para blogger untuk eksis mengisi blog masing-masing yang mungkin sudah cukup lama—entah itu beberapa bulan atau bahkan tahunan—ditinggalkan.
Penulis sempat kaget ketika hari ini (3 Februari 2016) iseng-iseng mengecek sejumlah page maupun group blogger yang ada di situs jejaring sosial FB. Kendatipun sejumlah page dan group tersebut memiliki pengikut atau anggota yang rata-rata mencapai empat digit, tetapi rata-rata postingan terakhir yang terlihat adalah antara 2013 hingga 2014. Apa artinya ini?!
Benar sekali! Bisa dikatakan, selama 2015, aktivitas blogging di dunia maya cenderung lesu. Sedikit banyak, penulis memprediksikan hal tersebut dipengaruhi oleh tren baru, di mana netizen kini cenderung lebih memilih memublikasi berbagai hal melalui situs-situs jejaring sosial, seperti FB, IG, dan yang sejenisnya. Di samping itu, peraturan Google yang kerap ketat dan keras bagi para blogger untuk memperebutkan posisi unggul di mesin pencari, juga mengakibatkan blogger-blogger pendatang baru cenderung lebih memilih media jejaring sosial yang ramai, daripada media weblog yang seringnya sepi kunjungan ketika masih seumur jagung.
Kebiasaan penggguna internet juga berpengaruh terhadap turunnya minat blogging. Kita ambil satu contoh, ketika dalam sebuah jejaring sosial terdapat sebuah postingan yang dianggap menarik, maka para netizen dengan inisiatif sendiri untuk membagikannya, kemudian yang lain juga mengikuti jejak tersebut, sehingga dalam waktu singkat saja postingan itu menjadi populer. Sementara kalau di weblog, meskipun terdapat menu share, 99 dari 100 visitor cenderung hanya membacanya untuk diri sendiri, kemudian tak merasa perlu untuk membagikannya kepada yang lain. Apa sebab?
Mengenai masalah share atau tidak, hal itu mungkin disebabkan oleh adanya fitur kustomisasi tampilan pada setiap blog, sehingga beda blog beda rasa, dan visitor yang baru sekali dua kali berkunjung tidak begitu akrab dengan menu share yang entah diletakkan di bagian mana. Kalau di jejaring sosial, tampilan lebih ramah pengguna. Posisi dari menu share yang terdapat pada setiap akun juga sama. Jadi, kecanggihan dari fitur kustomisasi tampilan sebuah weblog, justru juga menjadi bagian dari kekurangannya.
Menyadari hal tersebut, dalam berbagai kesempatan penulis juga menyampaikan kepada sesama blogger untuk tidak melakukan kustomisasi berlebihan terhadap blog yang ada, sampai-sampai mengurangi kenyamanan visitor. Sebuah tampilan weblog yang baik ialah cantik, tetapi sederhana sekaligus ringan dan mudah diakses sekalipun dalam kondisi koneksi internet lemah.
Menoleh ke belakang
Sangat disayangkan memang apabila sebagai blogger kita membiarkan tren blogging secara perlahan meredup begitu saja tanpa adanya upaya untuk memperbaiki kondisi. Sebagai blogger, sudah semestinya bertanggung jawab untuk memelihara budaya blogging yang padahal sudah bertahan cukup lama.
Blogging sendiri juga bukan hal yang tidak bermanfaat. Melalui aktivitas tersebut, kita dapat melatih kemampuan menulis, mengasah pengetahuan, sekaligus berbagi ilmu kepada visitor. Ketika semua dari kita beranggapan bahwa Google adalah sumber ilmu pengetahuan atau informasi, maka sesungguhnya apa yang ditampilkan oleh mesin pencari itu ialah sebagiannya merupakan postingan dari berbagai blog yang dianggap relevan. Kita bisa membandingkannya, ketika Google justru menampilkan hasil pencarian yang bersumber dari postingan situs jejaring sosial, apa yang sering terjadi ialah ketika kita klik link tersebut, di dalamnya kita tidak menemukan apa yang sesuai dengan yang ditampilkan di luar tadi. Dan hal tersebut bisa terjadi karena dalam situs jejaring sosial sering kali sejumlah postingan ditampilkan sekaligus dalam satu URL yang sama (umumnya home), sehingga seiring tingginya pemakaian pemilik akun, postingan itu telah turun ke bawah hingga entah hilang ke mana, sementara yang terekam oleh Google justru masih berupa data lama.
Menyadari perbedaan kualitas hasil temuan Google terhadap postingan weblog dan jejaring sosial seperti yang dijelaskan di atas, kita dapat menarik benang merah, blog atau weblog masih menjadi sumber hasil pencarian Google yang lebih relevan. Ketika kita dengan mudahnya membiarkan tren blogging meredup begitu saja hingga mungkin suatu saat akan benar-benar ditinggalkan, kemungkinan besar ialah Google di masa yang akan datang tak akan ‘secerdas’ sekarang lagi. Ini memang hanya sekadar prediksi yang tidak mutlak, sementara teknologi dan internet cenderung berkembang pesat, kemudian sulit diprediksi ke depannya akan ada hal baru apa yang lebih potensial. Namun, tak ada salahnya sebagai blogger kita tetap mempertahankan tren tersebut, sekaligus saling melengkapi informasi di dunia maya yang mungkin akan bermanfaat bagi orang lain.
Tahun 2009 mungkin menjadi masa berjayanya tren blogging. Kala itu, para blogger mungkin hampir setiap hari mengisi blognya seperti ketika sekarang kita setiap hari mengisi postingan pada akun jejaring sosial kita. Dan semangat blogging di masa itu perlu kembali dikobarkan. Kalaupun kita memang tidak memiliki waktu untuk setiap hari mengisi blog, cobalah seminggu sekali, atau sebulan sekali. Jangan menelantarkan ‘rumah’ dunia maya kita!
Posted by Art Dimension
Art Dimension Updated at: 9:50 PM

Entri Populer