Sunday, December 19, 2010

Ketika Karya Tulis Menjadi Korban Plagiator

Oleh: Liven R

APA yang akan Anda perbuat jika suatu ketika Anda menemukan karya tulis Anda telah disalin, dipublikasikan, dan diatasnamakan orang lain? Marah, kesal, atau kecewakah Anda?

Adalah merupakan pengalaman penulis. Pada akhir Desember 2009, tepatnya saat itu penulis sedang libur dari kegiatan sehari-hari. Untuk mengisi waktu luang, penulis membaca sebuah tabloid berbahasa Mandarin yang biasanya merupakan bacaan ibunda penulis.

Karena iseng, penulis membuka halaman yang memuat karya puisi. Alangkah terkejutnya penulis saat membaca sebuah puisi yang sama persis dengan puisi penulis yang pernah dimuat di Harian Analisa beberapa waktu yang lalu, baik judul, arti, maupun urutan syair-syair yang ada pada puisi tersebut sama persis dengan karya asli penulis. Hanya saja semua kata-kata dalam syairnya telah dialihbahasakan ke dalam bahasa Mandarin dan diatasnamakan si plagiator.

Seperti yang selama ini kita ketahui, sebuah ide yang sama sekalipun apabila dientaskan menjadi karya tulis oleh dua orang yang berbeda, tidaklah mungkin dihasilkan dua buah karya tulis yang sama persis, kecuali antara satu karya dengan karya lainnya saling mencontoh.

Sebagai contoh, pada peringatan Hari Ibu, puluhan bahkan ratusan penulis selalu menciptakan karya tulis (puisi dan artikel) dengan ide yang sama, yakni: ungkapan terima kasih kepada ibu dan ajakan kepada para anak untuk berbakti.

Dari ratusan karya yang dihasilkan untuk momen tersebut pada berbagai media cetak, kita tak dapat menemukan dua buah karya yang sama persis dari dua orang yang berbeda. Mengapa demikian? Karena pada kenyataannya, daya kreativitas pada tiap individu tidaklah sama meskipun memiliki ide yang sama. Dengan demikian, apabila terdapat dua buah karya tulis yang sama persis, sudah tentu telah terjadi penjiplakan oleh salah satu pihak penulis.

Kembali pada kasus yang terjadi pada penulis di atas, setelah melihat puisi hasil plagiat tersebut, penulis sungguh merasa kesal. Ingin rasanya saat itu juga penulis mengangkat telepon dan menghubungi redaktur tabloid bersangkutan untuk memprotes kecurangan salah seorang penulisnya tersebut, atau setidaknya berbicara langsung dengan penulis curang tersebut.

Namun, pada akhirnya penulis memilih untuk tidak mempermasalahkan hal ini untuk memberi kesempatan kepada si plagiator dengan harapan ia memiliki kesadaran untuk berlaku jujur dan tak mengulangi perbuatan yang sama di lain waktu sehingga penulis tak perlu mengambil tindakan yang semestinya.

Pentingnya Kesadaran Penulis untuk Jujur

Penulis teringat pada pelajaran di bangku Sekolah Dasar (SD) dulu. Pada saat mendeklamasikan sebuah puisi, kita diajarkan oleh bapak/ibu guru kala itu untuk menyebut judul puisi, lalu nama penyair, barulah kemudian mendeklamasikan puisi tersebut. Artinya, sejak dari bangku SD pun sesungguhnya kita telah diajarkan untuk menghargai hasil karya orang lain.

Sebelum menjadi seorang penulis, tentunya terlebih dahulu kita harus memahami dengan jelas peraturan-peraturan dalam dunia kepenulisan. Apabila seorang penikmat karya tulis mampu memahami bagaimana menghargai hasil karya orang lain, maka terlebih lagi bagi seorang penulis, karena ia berkecimpung langsung dalam dunia kepenulisan tersebut.

Lantas bagaimana menghargai karya tulis orang lain?

Apabila suatu ketika kita membaca suatu karya tulis yang kita nilai bagus dan baik untuk dibagikan kepada orang lain agar memperoleh manfaat yang sama (baik dalam bahasa yang sama maupun bahasa lain), kita wajib menghubungi penulis bersangkutan untuk meminta izin sebelum memublikasikannya sekali lagi. Dan apabila kita telah memperoleh izin tersebut, kita wajib menuliskan nama penulis asli tersebut pada akhir tulisan sebagai keterangan sumber tulisan. Atau, jika kita tak lagi mengetahui identitas penulis aslinya, kita dibenarkan dengan hanya menuliskan dari mana sumber tulisan tersebut disadur pada akhir tulisan kita.

Hal tersebut di atas perlu dilakukan untuk menghindari tuntutan hukum atas pencurian karya orang lain.

Anda tentunya masih ingat dengan puisi ’Menyesal’ karya Ali Hasjmi dan puisi ‘Aku’ karya Chairil Anwar. Puisi-puisi fenomenal tersebut telah disalin, dipublikasikan, dan dipelajari tak terhitung banyaknya sejak dulu hingga sekarang dan masih akan terus dilestarikan di masa mendatang, karena puisi-puisi tersebut mengandung nilai pendidikan yang tinggi.

Namun, satu hal yang kita ketahui, meski dicetak di media cetak mana pun dan oleh siapa pun, puisi-puisi tersebut tetaplah mencantumkan nama Ali Hasjmi pada puisi ‘Menyesal’ dan Chairil Anwar pada puisi ’Aku’. Dengan demikian, kita tahu bahwa kita tak dapat dan tak dibenarkan mengatasnamakan karya orang lain menjadi milik kita meskipun pemilik karya telah tiada sekalipun.

Penutup

Dalam proses menghasilkan suatu karya tulis, tentunya kita tak diawasi langsung oleh seorang redaktur. Selain itu, seorang redaktur juga merupakan manusia biasa yang tak mungkin dapat memantau semua karya tulis yang pernah dimuat di media cetak untuk menghindari kecurangan para pengirim karyanya. Oleh karena itu, penulis hendaknya memiliki kesadaran sendiri untuk senantiasa berlaku jujur.

Janganlah karena ingin lebih mudah dan malas berpikir, kita lantas mengabaikan nilai kejujuran. Banggakah kita, jika seseorang memuji kita atas karya yang sesungguhnya bukan hasil kreasi kita? Janganlah berpendapat dengan mengalihbahasakan karya orang lain, lantas orang lain menjadi tak mengenali apa yang telah kita tulis. Bayangkan, betapa malunya kita jika suatu saat kita ditegur dan dihadapkan kepada penulis asli yang telah kita plagiat karyanya. Dan, sadarilah apabila kita adalah seorang plagiator, meskipun kita tak pernah ditegur, bukan berarti penulis asli tak menyadari hal tersebut, kemungkinan telah terjadi krisis kepercayaan terhadap setiap karya kita sama halnya dengan pribahasa ‘sekali lancung ke ujian, seumur hidup tak dipercaya’.

Sebagai manusia biasa, kita tidaklah sempurna, karena kesempurnaan hanya milik Tuhan. Oleh sebab itu, kita tentunya juga tak luput dari kesalahan. Namun, yang terpenting adalah niat dan kemauan untuk memperbaiki diri dan senantiasa mawas diri.

Dengan menyadari serentetan akibat buruk dari memplagiat karya orang lain, hendaknya kita bisa menjadi penulis yang jujur. Semoga!

Posted by Art Dimension
Art Dimension Updated at: 2:02 PM

Saturday, December 18, 2010

Ketahui Peruntungan Anda Berdasarkan Tanggal Lahir


Tentu kita pernah mendengar seseorang berkata bahwa ia ingin pergi mencari peramal, agar usahanya lancar, terhindar dari orang jahat, anak cucunya cerdas, dan sehat selalu, atau sekadar melihat peruntungan setahun, dan lain sebagainya. Tetapi, benarkah jalan hidup manusia dapat ditafsir oleh sang orang pintar? Dan benarkah apa yang mereka katakan mutlak sesuai kenyataan? Hmm, jangan-jangan mereka hanya sekadar berkata seenak perut, demi memeroleh lembar-lembar rupiah si calon korban, dan kadang kebetulan tepat, namun seringnya meleset ya?

Pendapat tentu sering berbeda-berbeda. Namun, coba renungkan cerita berikut terlebih dahulu:

Seorang pemuda mendatangi rumah seorang peramal. Namun ia hanya berdiri di ambang pintu dan bertanya, "Mbah, bolehkah aku memintamu meramal dari sini?"

"Masuklah dulu...,'' jawab peramal yang tengah duduk angkuh di atas 'kursi kebesarannya'. Pikirnya si pemuda sungguh tak menghargainya. Mau meramal tetapi tak mau masuk. Kalau tak mau masuk harus bagaimana bayarnya nanti? Pakai lempar masuk uangnya? Atau mau aku yang bangkit dari kursi agungku dan menghampirinya? Huh!

Si pemuda pun membalas, ''Tidak, di sini saja. Aku hanya ingin meminta Mbah meramalkan, selanjutnya aku akan melangkah masuk atau berjalan pulang? Tolong beri aku jawaban.''

Peramal sedikit kesal. Ia ragu untuk menjawab. Namun ini adalah sebuah tantangan. Ia pun berpikir, bila tak mau masuk, untuk apa si pemuda datang? Akhirnya, dengan penuh keyakinan ia menjawab, ''Kau pasti melangkah masuk!"

Pemuda tersenyum puas. Tanpa berlama-lama ia langsung berjalan pulang. Sedari awal ia memang telah berencana menentang jawaban si peramal. Bila peramal menjawab ia akan berjalan pulang, maka ia kini akan sengaja melangkah masuk.

Cerita ini mengajarkan kepada kita, kitalah sang pengendali diri kita. Hukum alam tak mungkin dibocorkan. Sekali pun bila kita telah melakukan ritual mandi kembang tujuh rupa di tengah malam purnama, selalu menyimpan jimat di dalam saku celana agar usaha kita lancar, namun bila kerja kita hanya setiap hari nonton DVD di rumah, karaoke, tidur, maka tak ada gunanya.

Manusia tak perlu sia-sia berusaha membaca hukum alam. Cukup dengan tidak berbuat jahat serta berusaha untuk menjadi pribadi yang baik, hidup akan menjadi lebih nyaman. Dengan tak berbuat jahat, kalau pun tak ada kawan, tak akan ada musuh pula.

Bila anak cucu kurang cerdas, maka mintalah mereka banyak-banyak belajar. Jangan berpikir hanya dengan selembar jimat saja otak seseorang sudah dapat bereaksi dengan sendirinya, dan mengetahui semua soal ujian.

Dan apabila sakit, maka carilah dokter, bukan peramal atau dukun. Ilmu kedokteran itu berdasarkan logika. Bila memang penyakit dapat dengan mudahnya sembuh hanya dengan meminum air liur mbah dukun, untuk apa para calon dokter mati-matian belajar hingga bertahun-tahun? Lalu apa gunanya obat?

Akhirnya, berpikirlah secara matang, berdasarkan logika. Dan maaf bila judul tulisan ini telah membohongi Anda. Semoga dengan kebohongan ini, akan ada manfaat positif yang dapat Anda petik.


Lea Willsen
Akhir 2010
Posted by Art Dimension
Art Dimension Updated at: 10:00 PM

Monday, December 13, 2010

Keputusan Berada di Genggaman Kita


Dua perempuan tengah menunggu bus. Seorang pria berusia lima puluh tahunan tiba-tiba berjalan melewati depan mereka. Kendati sudah lima puluh tahunan, namun pakaian/aksesori yang melekat pada tubuhnya masih terlihat modis, seperti anak muda.

Melihat hal itu, perempuan pertama yang tengah menunggu bus pun mencibir dan berpikir, "Ih, sudah tua masih tak tahu malu, pakai pakaian anak muda segala! Kalau orang zaman dulu sudah dianggap kakek tua!"

Lalu, apa yang dipikirkan perempuan kedua yang juga tengah menunggu bus? Apakah sama seperti apa yang dipikirkan oleh perempuan pertama?

Ah, tidak juga, bukan saja tak mencibir, tapi malah perempuan kedua tersenyum kagum dan berpikir, "Hebat! Sungguh berjiwa muda! Dengan penampilan demikian, terlihat menjadi lebih muda. Kalau orang zaman dulu, pasti sudah terlihat seperti kakek tua."

Pembaca, Anda tak sedang membaca bacaan seputar trend busana masa kini. Penulis hanya coba memberi sebuah 'gambaran' bahwa dalam kehidupan kita, perbedaan pendapat dari orang-orang di sekitar kita itu sering terjadi. Ada yang negatif, ada pula yang positif. Lalu harus bagaimana bersikapkah, ketika dihadapkan pada hal demikian? Tentu, kita tak mungkin dapat memihak, atau memilih kedua-duanya, 'kan?

Hidup adalah pilihan. Kendati pendapat atau masukan adalah sesuatu yang berharga--agar kita dapat semakin maju--namun kita juga harus tetap ingat bahwa kitalah yang akan menanggung/menerima akibat dari hidup yang kita jalani, bukan orang-orang yang memberi kita pendapat. Oleh karena itu, janganlah terlalu terikat kepada pendapat-pendapat yang terdengar oleh kita. Bisa jadi, seratus mulut akan menghasilkan seratus pendapat yang berbeda-deda, sehingga bila kita terlalu terikat kepada pendapat-pendapat itu, hidup kita pun menjadi terombang-ambing, dan menjadi pribadi yang tak berprinsip.

Jangan pula mengabaikan pendapat-pendapat itu. Jadikanlah pendapat-pendapat itu masukan, bahan renungan, baru kemudian ambillah satu keputusan yang terbaik, tanpa rasa takut, malu, egois, ragu dan bimbang. Kita berhak memilih salah satu dari masukan yang ada, atau pun memilih berdasarkan pandangan kita sendiri. Hidup adalah milik kita, keputusan berada di genggaman kita!


-Lea Willsen-
kamar gelap, 2010
Posted by Art Dimension
Art Dimension Updated at: 10:56 AM

Wednesday, December 8, 2010

Cara Men-tag Nama Teman Pada Status Facebook

Saya yakin, apa yang akan dibahas pada postingan kali ini tentu bukanlah sesuatu yang tergolong baru. Namun dari hari ke hari, ternyata masih juga ada teman-teman yang tak mengetahui cara untuk men-tag nama seseorang pada status atau postingan FB-nya. Oleh karena itu, rasanya tidaklah berlebihan, bila saya kembali menuliskan caranya di blog AD, untuk teman-teman yang belum mengetahui cara ini. Oke?!

Men-tag nama teman pada status FB, bukanlah sesuatu yang sulit. Anda tinggal mengetikkan lambang '@' pada kolom postingan, kemudian satu huruf awal nama teman Anda--misalkan huruf 'T' --maka flash sudah dapat secara otomatis menampilkan nama-nama teman yang diawali huruf 'T', seperti Toni Arjuna, Tono Sugiro, Tantriani Lubis, dan lainnya.

Namun apa bila flash menampilkan terlalu banyak daftar nama teman yang diawali huruf 'T', maka akan lebih baik bila Anda menambahkan lagi huruf kedua dari nama teman yang ingin di-tag. Misalkan teman yang ingin di-tag bernama Toni Arjuna, maka setelah mengetikkan lambang '@' dan huruf 'T', tambahkanlah lagi huruf 'O'. Dan apabila masih banyak nama yang bermunculan, maka tambahkanlah lagi huruf ketiga, keempat, dan seterusnya, hingga nama Toni Arjuna muncul dan dapat diklik.

Dalam satu postingan maksimal FB mengizinkan Anda men-tag enam teman. Fitur ini tidak tersedia untuk FB mobile. Dan Anda juga harus ingat, flash hanya dapat bekerja pada saat koneksi lancar. Oleh karena itu, agar tidak gagal, pilihlah program browser komputer/laptop yang lebih berkuasitas. Bila setelah huruf awal diketik namun flash gagal memunculkan nama teman-teman Anda, maka reload kembali halaman tersebut, atau cobalah usahakan agar dapat memeroleh koneksi yang lebih lancar.

Fitur ini bagus digunakan untuk mengucapkan selamat ulang tahun, menyampaikan pesan, atau sekadar untuk bermain-main dengan teman Anda. Untuk teman yang telah di-tag, namanya akan berubah menjadi warna biru dan dapat diklik layaknya link. Selain itu, nantinya mereka juga akan memeroleh pemberitahuan dari FB bahwa mereka telah di-tag oleh Anda pada suatu postingan. Selamat mencoba, semoga berhasil!


Lea W, akhir 2010





Baca juga: http://myartdimension.blogspot.com/2010/12/hacker-sang-momok-dunia-maya.html
Posted by Art Dimension
Art Dimension Updated at: 3:22 PM

Sunday, December 5, 2010

Sunday, November 28, 2010

Kenangan di Ujung Waktu



Oleh: Liven R
LILY Rochil, gadis kecil bermata bulat dengan rambut panjang tergerai, hari ini tak masuk lagi. Sudah tiga hari terhitung semenjak libur Natal dan Tahun Baru usai, dia tak mengikuti kelas bimbinganku. Ada apa gerangan? Batinku sibuk menerka. Tak biasanya dia tak masuk tanpa pemberitahuan.
“Boleh saya berbicara dengan Melvin Rochil?” ucapku kepada Miss Lini, guru pembimbing di kelas sebelah.
“Wah, sudah tiga hari Melvin tak masuk,” balas Miss Lini.
“Oh, ya? Aneh sekali...,” ucapku setengah berbisik.
“Ada apa Miss Vania?” Miss Lini memandangku dengan kening berkerut.
“Ah, tidak! Aku hanya berniat bertanya kepada Melvin, mengapa sudah tiga hari adiknya, Lily, tak masuk kelas bimbinganku,” jelasku kepada Miss Lini.
“Oh, biasa, kan, Miss? Mungkin masih berlibur dan belum pulang. Banyak juga murid di kelasku yang belum masuk, tuh,” ucap Miss Lini sambil menunjuk dengan dagunya ke arah tempat duduk anak-anak.
Aku tersenyum, “Ya, mungkin juga. Baiklah, terima kasih, ya?!” Bergegas aku kembali ke ruanganku dan melanjutkan kegiatanku mengajar Bahasa Inggris untuk anak-anak usia 9-10 tahun.
***
‘PESAN terkirim’, kutatap sebaris teks pada layar ponselku. Sudah seminggu Lily tak masuk, begitu juga dengan Melvin.
Pagi ini aku tak dapat menahan diri untuk bertanya kepada Melvin melalui SMS perihal tak masuknya mereka selama seminggu ini.
Satu jam, dua jam, dan hingga siang menjelang, tak ada balasan. Aku tak pernah membiarkan anak didikku membolos tanpa alasan jelas. Mungkinkah mereka sudah tak berniat mengikuti kelas bimbingan di sini lagi? Ah, entah mengapa firasatku mengatakan mereka tak masuk bukan karena alasan itu.
Sudah tiga tahun mereka mengikuti bimbingan di sini. Ya, tiga tahun meskipun tak termasuk lama, juga tak dapat dikatakan singkat. Selama ini, Lily adalah anak yang penurut dan seorang gadis kecil yang periang. Di sela-sela waktu bubaran kelas, Lily kerap bercerita banyak hal kepadaku sambil menunggu mobil jemputannya. Sifatnya yang satu ini tentu saja bertentangan dengan sifat abangnya, Melvin, yang cenderung pendiam dan hanya menjawab bila ditanya.
Aku segera mengangkat telepon. Aku akan bertanya langsung kepada orangtua mereka, batinku.
“Bisa berbicara dengan mama Melvin dan Lily?” tanyaku pada suara di seberang telepon setelah mengucapkan salam.
“Ibu sedang ke bandara menjemput Bapak dan anak-anak,” jawab perempuan itu.
“Ke bandara?”
“Ya, hari ini Bapak dan anak-anak akan pulang dari Singapura.”
Aku ingin bertanya lebih lanjut, namun perempuan yang mengaku pembantu di keluarga Lily mengatakan dia tak banyak tahu. Aku hanya berpesan agar Lily dan Melvin segera masuk kelas bimbingan nanti agar tak ketinggalan pelajaran.
***
TOK tok tok!
Aku menoleh ke arah pintu dan kulihat Melvin berdiri di sana. Aku segera beranjak ke tempatnya.
“Miss, Miss Lini mengatakan Miss Vania mencariku?”
Aku mengangguk. “Lily mana?”
Melvin tak menjawab dan hanya menunduk.
“Melvin... Lily mana? Kok, tak masuk lagi?” kuulangi pertanyaanku. “Seminggu ini kalian ke mana saja?”
“Lily sakit.” Melvin akhirnya menjawab dengan suara pelan. “Kemarin aku menemani Papa membawa Lily ke Singapura berobat.” Kali ini Melvin memandangku.
“Apa? Lily sakit?”
Melvin mengangguk. Mendadak perasaanku tak enak. Jika bukan penyakit yang berat, tak mungkin harus berobat hingga ke Singapura, batinku.
“Sakit apa?”
“Aku kurang tahu, Miss. Kata Papa gagal ginjal...” Wajah Melvin berubah sendu. “...sebelum berangkat ke Singapura, Lily tak sadarkan diri,” lanjut Melvin lagi.
“Tapi sekarang keadaannya sudah membaik, ’kan?” Aku tak dapat menyembunyikan rasa cemas yang tiba-tiba menggerogoti pikiranku. “Apa sekarang dia sudah sadar?”
“Ya,” Melvin menjawab pelan. “Miss, Papa menyuruhku meminta izin kepada Miss Vania untuk Lily. Setelah Lily cukup sehat dan kuat, dia akan kembali belajar di sini,” lanjut Melvin lagi.
“Ya, katakan pada Papa, Miss paham. Biarkan Lily beristirahat dulu sampai benar-benar pulih...”
Melvin mengangguk. Setelah mengucapkan terima kasih, dia kembali ke kelas sebelah.
Pembicaraan tentang Lily tak henti mengusik pikiranku seharian itu. Aku tak habis pikir, bagaimana seorang gadis kecil yang baru berusia 9 tahun bisa mengalami gagal ginjal. Aku akan menjenguknya besok.
***
“LILY, sedang bermain apa?” sapaku ketika kulihat Lily duduk sendirian di atas sofa di sudut ruang tamunya sambil memeluk boneka Teddy Bear.
“Miss Vania...,” sapanya pelan. Aku segera mengambil duduk di sampingnya. Setelah menyuguhkan secangkir teh, mama Lily meminta izin untuk ke bawah meneruskan kesibukannya. Rumah mereka memang merangkap restoran yang hampir setiap hari ramai dikunjungi tamu yang hendak makan atau sekadar membeli untuk dibawa pulang.
Tinggallah kami bertiga di atas, aku, Lily, dan Melvin. Kupandangi wajah Lily yang kini terlihat pucat. Matanya tak tampak bersinar seperti biasanya. Kulihat wajahnya terlihat agak tembem, namun kusadari itu bukan karena Lily agak gemukan sekarang, tapi telah terjadi pembekakan pada beberapa bagian tubuhnya. Hatiku sedih melihat kondisi Lily.
“Lily, sudah makan?” tanyaku kemudian.
Lily mengangguk. Beberapa saat kemudian Lily bangkit dari duduknya dan mengatakan dia ingin tidur. Setelah mengantarnya ke kamar, aku pun pulang.
***
DUA bulan berlalu.
Setiap Sabtu aku selalu menyempatkan diri menjenguk Lily. Meskipun Lily kini berubah menjadi seorang anak yang pendiam, namun aku selalu mengajaknya berbicara pada setiap pertemuan kami agar dia dapat melupakan penyakitnya.
Tok tok tok! Terdengar suara pintu diketuk. Terlihat seorang satpam dan seorang pria berdiri di depan kelasku. Segera aku beranjak ke arah pintu dan mengenali pria itu sebagai papa Lily dan Melvin.
“Bu Vania, Bapak ini hendak mencari Melvin,” ucap Pak Satpam menjelaskan.
“Oh, Melvin bukan di kelasku, tapi di kelas sebelah,” ucapku sambil menunjuk ke arah kelas Miss Lini.
Dengan tergesa-gesa papa Lily pun berjalan ke ruang yang kutunjuk. Sesaat kemudian, dengan setengah berlari, Melvin dan papanya terlihat meninggalkan tempat bimbel.
Jam bubaran kelas masih satu jam lagi, akan tetapi Melvin sudah dijemput papanya dan pulang dengan tergesa-gesa. Ada apa ini? Mungkinkah Lily...? Ah, aku tak ingin berpikir yang tidak-tidak!
***
‘LILY koma, Miss. Sehabis menjalani proses pencucian darah, dia tak sadarkan diri. Sekarang ada di ruang ICU,’ demikian bunyi SMS pada layar ponselku, balasan dari Melvin yang kuterima setelah kutanyakan padanya apa yang telah terjadi.
Deg! Jantungku serasa berhenti ketika membaca SMS itu. Apa yang bisa kulakukan untuk membantu Lily? Aku terus berdoa dan berharap Tuhan mendengarkan doaku dan membantu Lily melewati masa kritisnya.
Malam itu entah mengapa aku tak dapat memejamkan mataku. Segala kebersamaan dengan Lily terus berkelebat dalam ingatanku. Tak terasa airmataku mengalir mengingat semua itu.
***
SIANG itu usai bubaran kelas, aku sengaja menemui Melvin untuk menanyakan kabar Lily. Darinya aku tahu Lily sudah sadar dan telah dipindahkan ke ruang perawatan biasa.
Pukul 7 malam, aku ke rumah sakit untuk menjenguk Lily.
“Miss, kebetulan sekali. Maukah Miss menemani Lily sebentar? Aku akan pulang untuk mandi,” ucap Mama Lily sesaat setelah aku tiba.
Setelah kusanggupi, mama Lily pun pulang.
“Miss, aku ingin jalan-jalan keluar. Maukah Miss membawaku dengan itu?” tanya Lily sambil menunjuk ke arah sebuah kursi roda berukuran kecil di sudut kamar.
“Tapi udara di luar sangat dingin. Dokter akan marah jika Lily masuk angin nanti,” ucapku berusaha membujuknya.
“Aku, kan, memakai dua lapis baju dan jaket ini...,” rengeknya lagi.
Kulihat binar penuh harap pada wajahnya. Sudah lama aku tak melihatnya begitu bersemangat. Aku sungguh tak tega menolak permintaannya.
“Hanya sebentar, ya?!” ucapku ketika membantunya duduk di atas kursi roda. Lily mengangguk dan tersenyum.
Perlahan aku mendorongnya menyusuri koridor rumah sakit dan tiba di taman belakang rumah sakit.
“Apakah besok Miss akan datang lagi?” tanya Lily.
Aku mengangguk. Setiap Sabtu aku memang selalu datang ke sini.
“Tadi aku berpesan agar Mama membawakan tas sekolah dan buku-buku pelajaranku. Maukah Miss mengajariku besok?”
“Ehmm... Boleh! Dengan syarat tak boleh terlalu lama, ya?!”
Lily mengangguk dan mengangkat jari kelingkingnya. “Deal!” ucapnya setelah kukaitkan jari kelingkingku tanda perjanjian disepakati.
Malam itu aku pulang dengan gembira. Kondisi Lily telah menunjukkan tanda-tanda kebaikan. Aku akan datang lagi besok pagi dengan membawakannya boneka Teddy Bear seperti yang sudah kujanjikan padanya tadi.
***
SABTU pagi.
Setelah membeli sebuah Teddy Bear berukuran sedang, aku pun meluncur ke rumah sakit.
Sesampainya di sana, aku segera menuju ruang perawatan Lily. B 23, itulah ruang perawatan Lily. Di ruangan itu kulihat dua perawat sedang mengganti sprei. Tak terlihat Lily di sana.
“Sus, Lily pindah kamar, ya?” tanyaku.
“Oh, Lily sudah dipindahkan ke rumah duka BD. Lily mengalami sesak nafas dan menghembuskan nafasnya yang terakhir pada pukul 2 dini hari tadi.”
Mendengar ucapan perawat, pikiranku mendadak kacau. Aku tak lagi mendengar apa yang diucapkan perawat itu selanjutnya. Segera kutinggalkan rumah sakit.
15 menit kemudian.
Memasuki blok tempat jenazah Lily disemayamkan, kulihat mama Lily menangis di samping peti jenazah Lily. Kulihat foto Lily yang sedang tersenyum terletak di atas peti jenazahnya. Nama ‘Lily Rochil’ tertulis di bawah foto itu dan terlihat tumpukan boneka di sampingnya. Aku teringat boneka Teddy Bear yang kubeli tadi. Aku segera kembali ke mobil dan mengeluarkan boneka itu.
Kuserahkan boneka itu ke tangan papa Melvin yang kemudian diletakkannya di atas peti jenazah Lily, berdampingan dengan boneka lainnya.
“Lily, Miss Vania datang menjengukmu. Lihat! Bonekanya sangat cantik... Bukankah hari ini Lily mau belajar dibimbing Miss Vania? Lalu mengapa pergi?” ucap mama Lily di antara isak tangisnya.
Aku sungguh tak kuat berada di sana. Setelah pamit, aku segera berlari dan kembali ke mobil. Kuhidupkan mesin mobil. Belum sempat mobil kujalankan, pertahananku runtuh. Airmata yang susah payah kutahan sejak tadi akhirnya pecah. Di atas stir mobil airmataku tumpah.
‘Tuhan, ini adalah kehendak-Mu. Betapa pun kami hanya menjalankan semua yang telah Engkau gariskan. Jika Engkau tak mengizinkan Lily bersama kami lebih lama lagi, kumohon bawalah dia di sisi-Mu. Jagalah dia...’
Kuedarkan pandanganku ke arah ruang persemayaman.
‘Lily, kehidupan ini sungguh kejam untukmu... kini kau telah bebas dari segala penderitaan yang menyiksa. Pergilah dengan tenang. Tuhan akan membawamu bersama-Nya. Kami akan hidup dengan kenangan terindah darimu...’
Perlahan kujalankan mobil meninggalkan rumah duka. Aku sudah bertekad besok tak akan menghadiri pemakaman Lily. Aku tak sanggup.
***
Mengenangmu di Suatu Masa, Akhir November 2010
Posted by Art Dimension
Art Dimension Updated at: 11:04 AM

Karir VS Cinta


Sering orangtua meminta anak mereka mengejar kesuksesan terlebih dahulu, setelah kesuksesan berada di genggaman, baru kemudian mengejar cinta. Namun perlu direnungkan, kendati kesuksesan adalah hak setiap individu, tetapi bukan berarti kesuksesan dapat dimiliki oleh setiap individu. Dan bagaimana bila hingga tua kesuksesan tatap belum dapat diraih? Apakah cinta juga harus selamanya ditunda?

Orang-orang sukses bukanlah melepas cinta untuk mengejar kesuksesan, tetapi melepas cinta untuk mempertahankan kesuksesan yang memang telah berada pada genggaman. Oleh karena itu, janganlah sia-sia mengorbankan masa muda untuk sesuatu yang tak memiliki kepastian. Biarlah cinta dan karir berjalan lurus apa adanya. Jangan pernah mengekang salah satunya, dan juga jangan membiarkan salah satunya mengekang jalan hidup Anda. Semaksimal mungkin, tetaplah fokus untuk mengembangkan kedua-duanya dengan kemampuan yang ada.


Lea Willsen
Kamar renung, 2010
Posted by Art Dimension
Art Dimension Updated at: 10:30 AM

Entri Populer