Saturday, January 26, 2013

Software Rip DVD Berkecepatan Tinggi



DVD rip merupakan sebuah metode mengambil data video dari sebuah kepingan DVD untuk dipindahkan ke komputer, diubah menjadi VCD, di-convert ke file jenis lain, atau di-upload-kan ke hosting untuk di-download oleh pihak lain. Bila Anda adalah seorang yang suka men-download video dari internet, tentu sudah tak asing dengan apa yang disebut DVD rip.
Secara garis besar, melakukan rip pada kepingan DVD yang memiliki hak cipta merupakan hal yang tidak diperbolehkan. Namun, di samping itu, tentu metode rip pada dasarnya juga memiliki manfaat positif. Dengan melakukan rip, kita dapat menyalin data video yang penting—misalkan video momen pernikahan atau ulang tahun dan berbagai perayaan lainnya—agar apabila sewaktu-waktu kepingan DVD orisinalnya rusak, kita masih memiliki salinannya.
Selain itu, menyimpan data video hasil rip tergolong lebih ramping dan menghemat ruang penyimpanan. Bayangkan saja, data sekeping DVD yang rata-rata 3 atau 4 GB dapat diubah sesuka hati, menjadi 1 GB, 500 MB, bahkan 200 MB. Standarnya adalah 730 MB, agar tidak berpengaruh pada kualitas video/audio.
Untuk postingan kali ini, penulis akan membahas tentang cara melakukan rip pada DVD. Sederhana saja, kita cukup menggunakan sebuah software bernama Magic DVD Ripper 7.1.0. Dibandingkan dengan software sejenis lainnya, software satu ini memiliki banyak kelebihan, baik dari segi tampilan, kecepatan tinggi dalam proses rip DVD, kemampuan melakukan rip terhadap file DVD yang tersimpan di HDD (rip tanpa kepingan DVD), mendukung opsi penyesuaian audio, angle, dan juga subtitle, serta sejumlah setting detil lainnya.
Cara menggunakan Magic DVD Ripper dapat dilihat pada gambar di bawah. Pertama, tentukan lokasi video yang akan di-rip. Bisa melalui kepingan DVD atau HDD. Kedua, tentukan lokasi penyimpanan yang dikehendaki. Ketiga, tentukan audio, angle, dan juga subtitle yang diinginkan. Pilihan di sini akan berbeda pada setiap jenis file video DVD yang akan di-rip. Keempat, tentukan jenis file yang dikehendaki, size (730 MB adalah ukuran standar yang dianjurkan) dan juga nama. Kelima, klik “Start”. Tunggulah hingga prosesnya selesai.



Download: 

 Maaf, berdasarkan kebijakan baru, kini Art Dimension tidak lagi menyediakan link download software atau konten yang mungkin merupakan bagian dari pelanggaran hak cipta. Art Dimension hanya akan mereview atau memberikan tutorial.
 

Posted by Art Dimension
Art Dimension Updated at: 1:39 PM

Wednesday, January 23, 2013

Menjadi Budak ‘Si Uang’




Setiap pukul 07.45 pagi, pemuda itu memulai perjalanannya dari rumah menuju tempat kerjanya yang lumayan jauh, dengan mengayuh sebuah sepeda tua peninggalan almarhum ayahnya. Sering, ketika tengah mengeluarkan sepedanya dari rumah, ia melihat sesosok kakek tua yang tinggal berseberangan dengannya juga tengah bersiap-siap mengepak barang-barangnya pada sebuah sepeda yang juga tak jauh berbeda dari kondisi sepedanya. Tangan kakek itu terlihat kurus, keriput, dan gemetar. Dan lagi, barangnya yang cukup banyak itu sepertinya tidak mudah dibawa.
Pada satu kesempatan, pemuda itu coba menghampiri si kakek dan bertanya, "Barang apa itu, Kek?"
"Pot bunga...," jawab si kakek.
"Pot bunga?" Si pemuda mencoba melirik ke dalam dua peti kayu yang diikat pada sepeda si kakek.
"Juga berbagai kerajinan tanah liat. Setiap hari barang-barang ini harus dibawa ke pasar untuk dijual."
Si pemuda hanya manggut-manggut, kemudian berlalu.
Keesokan harinya, si pemuda dikagetkan oleh apa yang dilihatnya. Sebelah tangan si kakek diperban, dan kedua kakinya terdapat sejumlah luka-luka lecet yang lumayan parah. Ah, ternyata si kakek kemarin mengalami kecelakaan!
Merasa prihatin dengan kondisi si kakek yang tengah terluka namun tetap ingin pergi berjualan ke pasar, si pemuda pun menawarkan diri untuk mengantarkan barang-barang dagangan si kakek ke pasar. Mumpung sejalan. Si kakek menyambut tawaran itu dengan gembira.
Untuk hari-hari berikutnya, pemuda itu pun selalu mewakili si kakek mengerjakan pekerjaan yang ternyata tidak mudah itu. Begitu dua peti kayu berisi kerajinan tanah liat itu dibebankan di belakang sepedanya, sepeda menjadi sulit mendapatkan keseimbangan. Terutama ketika hendak berbelok. Ah, biarlah, pemuda itu berpikir. Yang muda harus memberi perhatian kepada yang tua. Ia sendiri yang telah menawarkan diri, maka harus dikerjakan dengan tulus. Setidaknya, sampai luka si kakek sembuh.
Seminggu kemudian, si kakek tiba-tiba menjelaskan kepada pemuda itu, bahwa ia ingin menggaji pemuda itu untuk melakukan pekerjaan itu untuk seterusnya. Si kakek mengaku, dirinya telah tua dan tidak pantas lagi mengerjakan pekerjaan itu. Ia butuh seseorang yang dapat dipercaya untuk membantunya.
Mata pria itu berkejap-kejap. Muncul dua bisikan yang saling bertentangan di batinnya, antara menerima tawaran si kakek, atau menolaknya. Sebenarnya selama seminggu ini pekerjaan itu amat menyusahkannya. Ia menjadi harus bangun dan berangkat lebih awal, karena harus berhati-hati dan memperlambat laju sepedanya ketika sedang berada dalam perjalanan. Tak jarang juga ia telat beberapa menit tiba di tempat kerjanya. Tetapi, ia telah melakukan hal itu selama tujuh hari, dan kali ini si kakek menawarkannya gaji! Hmm..., mengapa tidak?!
Pemuda itu mengangguk.
Beberapa bulan pun berlalu. Selama itu, segalanya berjalan dengan lancar. Tetapi, alangkah sialnya hari itu, baru si pemuda mengayuh sepedanya tak jauh, sebuah mobil melaju kencang dan menabraknya! Mobil itu kabur bagai dikejar setan. Pemuda itu menyadari dirinya selamat, meskipun sebelah kakinya sepertinya terkilir dan mengalami luka lecet di mana-mana. Namun, ketika ia segera melirik ke dua peti kayu yang menjadi tanggung jawabnya, peti itu telah hancur! Demikian juga isinya...
Dengan cemasnya, pemuda itu kembali kepada si kakek, dan mengabarkan kejadian naas itu. Si kakek tersentak kaget, dan memarahinya panjang lebar. Bahkan juga menghubung-hubungkan jumlah gajinya dengan harga jual barang-barang yang telah dirusaknya.
Pemuda itu mengerutkan kening, berusaha menerima seluruh ledakan emosi dari si kakek dengan tabah. Ia sungguh kecewa dengan sikap si kakek terhadap dirinya. Si kakek bukan tidak tahu, pekerjaan mengantarkan kerajinan tanah liat itu pekerjaan yang berat. Apalagi ia bukan sengaja merusak barang-barang itu, tetapi ia ditabrak mobil. Si kakek sama sekali tidak prihatin kepadanya, justru menyalahkannya. Sungguh tidak setimpal dengan perhatian yang pernah ia berikan kepada si kakek, ketika si kakek yang mengalami kecelakaan beberapa bulan lalu. Mengapa? Karena sekarang ia digaji dengan uang?! Ya, bila hari ini statusnya adalah membantu si kakek tanpa digaji, tentu si kakek akan balik memunta maaf kepadanya, dan menawarkannya berbagai jenis obat untuk mengobati lukanya.
Ah, salah siapa? Pemuda itu menyesal. Ia telah mempertaruhkan nyawanya dengan menerima pekerjaan yang di luar batas kemampuannya. Ia mewakili si kakek untuk ditabrak mobil. Padahal, dia bukan tak memiliki pekerjaan lain yang lebih menjanjikan. Segalanya gara-gara ‘si uang’...
*
Kita sering mendengar, manusia tidak seperti mesin yang tidak merasakan lelah. Kenyataannya, mesin juga adalah barang yang perlu diistirahatkan agar tidak rusak, apalagi manusia. Bekerja itu baik. Tetapi, manusia memiliki batas kemampuan untuk bekerja.
*
Lea Willsen
Awal Maret, 2012
Harian Analisa, TRP, 20 Januari 2013
Foto: Int
Posted by Art Dimension
Art Dimension Updated at: 12:49 PM

Sunday, January 6, 2013

Gepeng, Bagian dari Potret Kemalasan Diri



Oleh: Liven R

DEWASA ini, dengan berbagai alasan sulitnya memenuhi kebutuhan hidup, telah menimbulkan fenomena banyaknya gelandangan dan pengemis (gepeng) kita temui di jalanan.
Bukan pemandangan yang asing lagi, di bawah lampu lalu lintas, di trotoar, dan bahkan di badan jalan, kita dengan mudah menemukan sosok gepeng yang kumal, yang anggota tubuhnya dibalut bermeter-meter perban untuk menimbulkan kesan cacat, serta sosok yang menengadahkan tangan kepada tiap kendaraan yang lewat.
Tak hanya itu, selain mangkal di tepi jalan, tak sedikit pula gepeng yang beraksi mendatangi rumah-rumah penduduk untuk meminta belas kasihan. Sungguh hati akan terasa miris melihat penampilan gepeng dengan pakaian yang compang-camping, lusuh, dan tak layak pakai lagi, apalagi ditambah cacat tubuh yang diderita.
Jika sudah didatangi, tentu saja uang barang seribu atau dua ribu akan dengan rela kita berikan dengan alasan kemanusiaan, atau sekadar untuk menumpuk pahala akhirat. Namun, benarkah dengan memberi uang kepada para gepeng kita telah berbuat suatu kebaikan? Jangan-jangan justru sebaliknya!
Penipu Berwajah Pengemis
Di tempat kerja penulis, di bilangan Jalan Sutomo, bangunannya berhadapan dengan sebuah rumah tua yang tak berpenghuni dan memiliki halaman yang ditumbuhi semak belukar dan selalu terbuka pagarnya.
Setiap pagi penulis tiba di sana dan bekerja dengan meja menghadap ke rumah kosong tersebut. Setiap kira-kira pukul 09.00 WIB, akan terlihat seorang wanita muda—berpakaian lumayan bagus—memasuki halaman rumah kosong tersebut. Berselang tak lama, akan datang juga seorang pria muda yang sehat bugar dan masuk juga ke halaman rumah tersebut. Setelah itu, bagaikan pertunjukan sulap atau film super hero yang bisa berubah wujud, keduanya akan keluar dari halaman rumah dalam keadaan telah berganti pakaian compang-camping, dan si pria pun dengan mata terpejam (berpura-pura buta) mulai dituntun berjalan oleh si wanita muda. Begitulah setiap hari mereka berjalan dan berakting dari pintu ke pintu untuk menipu belas kasihan penduduk yang didatangi.
Selain cerita di atas, penulis juga pernah didatangi seorang pemuda—berpakaian hitam-putih—yang mengatakan ayahnya baru saja meninggal dan dia tak punya biaya untuk mengubur ayahnya. Oleh sebab itu, dia terpaksa berjalan ke mana-mana untuk meminta sumbangan.
Setelah diberi dan pergi, tiga bulan kemudian, si pemuda kembali datang dan mengatakan hal yang sama. Dan, sepanjang tahun hal ini dilakukan seolah dia mempunyai begitu banyak ayah yang meninggal dan tak habis-habisnya dikubur.
Lain lagi cerita tentang dua ibu-ibu yang selalu membawa seorang anak kecil dan datang meminta sumbangan dengan alasan untuk biaya pembangunan panti asuhan. Setiap bulan, menjadi kegiatan rutin mereka untuk datang dan mengutip uang sumbangan. Hal ini pun sudah bagaikan iuran bulanan wajib bayar bagi penduduk sekitar.
Suatu ketika karena sibuk, kedatangan mereka pun tak dihiraukan. Apa yang terjadi? Setelah lama memanggil, bagaikan preman, salah seorang ibu pun meludah dan memaki dengan nama-nama binatang, barulah kemudian pergi.
Sikap yang sangat bertolak belakang dengan tujuan mulia yang diucapkannya, bukan? Meminta sumbangan untuk membantu anak yatim piatu, namun ketika tidak mendapat, memaki dengan kata-kata kasar. Pantaskah?
Pendeknya, rasa belas kasihan dan hal-hal dengan alasan kemanusiaan telah dimanfaatkan dan disalahgunakan oleh sebagian masyarakat marginal kita untuk mendapatkan uang secara gampang. Mengemis sudah dianggap sebagai suatu jenis pekerjaan juga.
Bekerja Keras untuk Hidup Sejahtera
Memberi bantuan kepada yang benar-benar membutuhkan, pada dasarnya adalah sikap yang mulia. Akan tetapi, sikap mulia dapat menjadi suatu kebodohan apabila dilakukan tanpa disertai kebijaksanaan.
Beberapa penyebab makin menjamurnya gelandangan dan pengemis di negara kita, salah satunya adalah karena adanya rasa belas kasihan (tanpa kebijaksanaan) yang dilakukan oleh masyarakat kita kebanyakan.
Adalah kenyataan, seorang pemuda pengemis yang masih kuat dan sehat jasmani serta rohaninya, pernah ditawarkan pekerjaan yang pantas dan mampu dilakukannya. Namun,  justru dia menolak.
Penolakan pemuda pengemis tersebut terhadap pekerjaan yang ditawarkan, tentunya dengan pertimbangannya bahwa ‘lebih nyaman mengemis daripada bekerja’. Untuk itu dia tentu saja menolak untuk keluar dari ‘zona nyaman’nya, yakni: mendapat uang tanpa harus keluar tenaga.
Secara etis dan logika, dengan tubuh yang kuat dan mampu berjalan ke mana-mana, seharusnya para gepeng bisa bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidupnya tanpa menjadi pengemis. Jika pekerjaan yang mengandalkan otak tak mampu dikerjakan, bukankah masih banyak pekerjaan yang mengandalkan otot dapat dikerjakan?
Dari beberapa fakta yang terlihat, dapat disimpulkan bahwa memberi bantuan sebaiknya tidak dalam bentuk materi yang dapat menanamkan sifat malas dan ketergantungan dalam diri individu penerima bantuan.
Pemerintah maupun yayasan sosial yang ada, diharapkan jika memberi bantuan kepada para gepeng yang masih muda, sehat, dan kuat bekerja, adalah dengan memberi pelatihan dan penawaran pekerjaan sesuai dengan keterampilan masing-masing. Bagi yang sakit, bantuan yang diberikan dapat berupa obat-obatan dan pemeriksaan oleh tenaga medis secara langsung. Dengan demikian, pemberi bantuan akan terhindar dari praktek penipuan dengan modus berpura-pura sakit. Dan, bantuan yang diberikan pun menjadi tepat sasaran dan optimal.
Sesungguhnya, tak ada suatu kondisi hidup apa pun yang mengharuskan seseorang menjadi pengemis, bahkan seorang cacat sekalipun. Sebab, Tuhan selalu menganugerahkan talenta tersendiri bagi setiap makhluk-Nya untuk berkarya.
Yang sering menyebabkan buruknya kualitas hidup seseorang adalah adanya sifat malas dan tidak adanya kemauan untuk berusaha dan memperbaiki kesejahteraan hidup serta status sosialnya.
Sebagai sebuah keteladanan hidup, kita dapat belajar dari semangat hidup sekelompok penyandang cacat fisik yang bernaung di bawah Yayasan AMFPA (Association of Mouth Foot Painting Artists) yang bermarkas di Sidney, Australia, dan memiliki cabang di dua puluh negara di dunia, termasuk Indonesia.
Mungkin Anda pernah menerima penawaran satu set kartu Lebaran, kartu Natal, dan lainnya melalui pos yang dikirimkan oleh para penyandang cacat dari Yayasan AMFPA. Ya, dengan segala keterbatasan, mereka (para penyandang tuna daksa yang menjadi anggota AMFPA) tak patah arang dan terus berkarya (melukis) dengan menggunakan kaki maupun mulutnya.
Berbagai karya lukis mereka pada kartu pos, perangko, dan lainnya kemudian dijual ke seluruh dunia untuk ditukar dengan sesuap nasi.
Bercermin pada mereka, kita akan menyadari bahwa cacat tubuh bukanlah alasan untuk hidup bergantung pada belas kasihan orang lain, terlebih menjadi pengemis.
Jika orang-orang cacat saja mampu mandiri, mengapa orang-orang yang masih/terlahir sehat tak mau menghargai talenta dan menggunakan fisik kuatnya untuk berusaha? Tidakkah kita malu pada mereka yang cacat namun tak henti berkarya?
Sesungguhnya, hidup adalah pilihan. Pilihan untuk menjadi yang terbaik dengan usaha dan kerja keras, atau terpuruk karena kemalasan!
***
Dimuat Harian Analisa, 3 Maret 2012
Posted by Art Dimension
Art Dimension Updated at: 2:58 PM

Entri Populer